ASTRAEL

Dio Septian
Chapter #46

BADAI DI CAKRAWALA

Di anjungan utama kapal induk Astraeus, suasana yang tadinya dipenuhi euforia

kemenangan tipis atas armada Varkhen di orbit Lycora mendadak berubah menjadi

kesunyian yang mencekam. Jenderal Evan Calder berdiri mematung di depan layar

taktis raksasa. Cahaya merah dari sinyal darurat memantul di wajahnya yang keras,

mempertegas gari-garis keletihan dan beban berat yang dipikulnya selama

bertahun-tahun.

"Ulangi laporan itu," suara Evan rendah, namun mengandung getaran yang

membuat para perwira di sekitarnya menahan napas.

"Jenderal... Protokol Aegis di Astrael telah ditembus," lapor perwira komunikasi

dengan suara bergetar. "Vorn Killian tidak hanya menyerang instalasi militer. Dia

melepaskan Steel Rain ke sektor pemukiman. Laporan sensor menunjukkan

dekomposisi atmosfer sedang berlangsung. Astrael... Astrael sedang dimusnahkan,

Pak."

Evan memejamkan matanya sejenak. Di dalam kegelapan di balik kelopak

matanya, ia melihat wajah-wajah rakyatnya, gedung-gedung tinggi Menara Pusat,

dan hamparan biru planet yang menjadi simbol harapan Astral Union. Vorn tidak

lagi bermain perang wilayah; diktator itu sedang melakukan pembersihan etnis

secara total.

"Dia sengaja menjebak kita di sini," geram Evan. Tangannya menghantam meja

logam di depannya. "Lycora hanyalah umpan agar jantung kita dibiarkan tanpa

pelindung."

Evan berbalik dengan cepat, jubah komandonya berkibar. Matanya kini menyala

dengan amarah yang dingin dan terkendali. Ia tahu, setiap detik yang terbuang di

orbit Lycora berarti ribuan nyawa melayang di tanah airnya.

"Aktifkan saluran komunikasi luas ke seluruh skuadron!" perintah Evan.

Dalam hitungan detik, wajahnya terpampang di setiap kokpit pesawat tempur

dan layar kapal perang yang tersebar di wilayah Lycora. Para pilot yang sedangkelelahan, termasuk sisa-sisa unit yang masih bertahan di sekitar stasiun Valkrie-7,

terdiam mendengarkan.

"Seluruh personel Astral Union, ini Jenderal Evan Calder," suaranya bergema

dengan otoritas mutlak. "Saat kita bertempur di sini untuk mengamankan jalur

industri, musuh telah menikam punggung kita. Astrael, rumah kita, sedang dibakar.

Vorn Killian telah memilih untuk menghapus peradaban kita dari sejarah."

Evan berhenti sejenak, membiarkan bobot kata-katanya meresap ke dalam jiwa

setiap prajuritnya.

"Kita tidak akan membiarkan fajar terakhir Astrael padam hari ini. Saya

perintahkan seluruh skuadron, tanpa terkecuali, untuk segera melakukan

pendorongan mesin maksimal menuju orbit Astrael. Abaikan sisa-sisa pertahanan

Varkhen di Lycora! Biarkan planet ini jatuh jika perlu, asalkan Astrael tetap

berdiri!"

"Tapi Jenderal!" salah satu komandan sayap menyela melalui radio. "Jika kita

meninggalkan posisi sekarang, armada Varkhen akan mengepung kapal induk dari

belakang!"

"Biar mereka mencoba!" raung Evan. "Biarkan Astraeus menjadi perisai terakhir

di sini jika memang harus, tapi skuadron tempur harus tiba di Astrael sebelum

atmosfernya runtuh total! Ini bukan lagi perintah taktis, ini adalah sumpah kita

sebagai penjaga! Pergi sekarang! Selamatkan Astrael atau mati bersama

kehormatannya!"

Di ruang angkasa yang hampa, ribuan mesin pendorong pesawat tempur

menyala secara serentak, menciptakan pemandangan seperti bintang-bintang yang

jatuh menuju satu titik: Astrael.

Evan tetap berdiri di anjungan, menatap layar yang menunjukkan pergerakan

massal pasukannya. Ia tahu dia telah berjudi dengan membiarkan punggung

armadanya terbuka, namun baginya, tidak ada gunanya memenangkan perang di

Lycora jika tidak ada lagi planet yang bisa disebut sebagai rumah.

"siapa pun yang ada di bawah sana," bisik Evan pelan, matanya menatap

hologram astrael. "Bertahanlah sedikit lagi."Di bawah kepemimpinan Evan yang membara, armada Astral Union meluncur

menembus kegelapan, berlomba dengan waktu untuk mencegah kepunahan

peradaban mereka, sementara di kejauhan, Astrael terus menjerit dalam api.

Gemuruh mesin pendorong Astraeus menciptakan getaran frekuensi rendah

yang merambat hingga ke tulang sumsum setiap orang di anjungan. Jenderal Evan

Lihat selengkapnya