Di anjungan utama kapal induk Astraeus, suasana yang tadinya dipenuhi euforia
kemenangan tipis atas armada Varkhen di orbit Lycora mendadak berubah menjadi
kesunyian yang mencekam. Jenderal Evan Calder berdiri mematung di depan layar
taktis raksasa. Cahaya merah dari sinyal darurat memantul di wajahnya yang keras,
mempertegas gari-garis keletihan dan beban berat yang dipikulnya selama
bertahun-tahun.
"Ulangi laporan itu," suara Evan rendah, namun mengandung getaran yang
membuat para perwira di sekitarnya menahan napas.
"Jenderal... Protokol Aegis di Astrael telah ditembus," lapor perwira komunikasi
dengan suara bergetar. "Vorn Killian tidak hanya menyerang instalasi militer. Dia
melepaskan Steel Rain ke sektor pemukiman. Laporan sensor menunjukkan
dekomposisi atmosfer sedang berlangsung. Astrael... Astrael sedang dimusnahkan,
Pak."
Evan memejamkan matanya sejenak. Di dalam kegelapan di balik kelopak
matanya, ia melihat wajah-wajah rakyatnya, gedung-gedung tinggi Menara Pusat,
dan hamparan biru planet yang menjadi simbol harapan Astral Union. Vorn tidak
lagi bermain perang wilayah; diktator itu sedang melakukan pembersihan etnis
secara total.
"Dia sengaja menjebak kita di sini," geram Evan. Tangannya menghantam meja
logam di depannya. "Lycora hanyalah umpan agar jantung kita dibiarkan tanpa
pelindung."
Evan berbalik dengan cepat, jubah komandonya berkibar. Matanya kini menyala
dengan amarah yang dingin dan terkendali. Ia tahu, setiap detik yang terbuang di
orbit Lycora berarti ribuan nyawa melayang di tanah airnya.
"Aktifkan saluran komunikasi luas ke seluruh skuadron!" perintah Evan.
Dalam hitungan detik, wajahnya terpampang di setiap kokpit pesawat tempur
dan layar kapal perang yang tersebar di wilayah Lycora. Para pilot yang sedangkelelahan, termasuk sisa-sisa unit yang masih bertahan di sekitar stasiun Valkrie-7,
terdiam mendengarkan.
"Seluruh personel Astral Union, ini Jenderal Evan Calder," suaranya bergema
dengan otoritas mutlak. "Saat kita bertempur di sini untuk mengamankan jalur
industri, musuh telah menikam punggung kita. Astrael, rumah kita, sedang dibakar.
Vorn Killian telah memilih untuk menghapus peradaban kita dari sejarah."
Evan berhenti sejenak, membiarkan bobot kata-katanya meresap ke dalam jiwa
setiap prajuritnya.
"Kita tidak akan membiarkan fajar terakhir Astrael padam hari ini. Saya
perintahkan seluruh skuadron, tanpa terkecuali, untuk segera melakukan
pendorongan mesin maksimal menuju orbit Astrael. Abaikan sisa-sisa pertahanan
Varkhen di Lycora! Biarkan planet ini jatuh jika perlu, asalkan Astrael tetap
berdiri!"
"Tapi Jenderal!" salah satu komandan sayap menyela melalui radio. "Jika kita
meninggalkan posisi sekarang, armada Varkhen akan mengepung kapal induk dari
belakang!"
"Biar mereka mencoba!" raung Evan. "Biarkan Astraeus menjadi perisai terakhir
di sini jika memang harus, tapi skuadron tempur harus tiba di Astrael sebelum
atmosfernya runtuh total! Ini bukan lagi perintah taktis, ini adalah sumpah kita
sebagai penjaga! Pergi sekarang! Selamatkan Astrael atau mati bersama
kehormatannya!"
Di ruang angkasa yang hampa, ribuan mesin pendorong pesawat tempur
menyala secara serentak, menciptakan pemandangan seperti bintang-bintang yang
jatuh menuju satu titik: Astrael.
Evan tetap berdiri di anjungan, menatap layar yang menunjukkan pergerakan
massal pasukannya. Ia tahu dia telah berjudi dengan membiarkan punggung
armadanya terbuka, namun baginya, tidak ada gunanya memenangkan perang di
Lycora jika tidak ada lagi planet yang bisa disebut sebagai rumah.
"siapa pun yang ada di bawah sana," bisik Evan pelan, matanya menatap
hologram astrael. "Bertahanlah sedikit lagi."Di bawah kepemimpinan Evan yang membara, armada Astral Union meluncur
menembus kegelapan, berlomba dengan waktu untuk mencegah kepunahan
peradaban mereka, sementara di kejauhan, Astrael terus menjerit dalam api.
Gemuruh mesin pendorong Astraeus menciptakan getaran frekuensi rendah
yang merambat hingga ke tulang sumsum setiap orang di anjungan. Jenderal Evan