ASTRAEL

Dio Septian
Chapter #47

KEJATUHAN SANG TIRANI

Di permukaan Astrael, tepatnya di luar gerbang Bunker Sektor 7, dunia terasa

seolah sedang mencair. Langit yang dulunya biru kini tertutup oleh awan jelaga

hitam yang pekat, sesekali menyala merah setiap kali rentetan Steel Rain

menghantam atmosfer di atas sana. Bau belerang dan logam terbakar menyesakkan

paru-paru, memaksa Holden untuk berkali-kali membetulkan filter masker

oksigennya yang mulai retak.

Holden merunduk di balik sisa-sisa pilar beton yang hancur, jari-jarinya

mencengkeram erat senapan plasma Sentra Warden. Di sampingnya, Jace sedang

mengisi ulang amunisi dengan tangan yang gemetar karena adrenalin, sementara

Kael sibuk dengan perangkat pemindai portabelnya, mencoba mencari frekuensi

komunikasi yang stabil di tengah badai radiasi.

"Holden! Mereka tidak berhenti datang!" teriak Jace di atas deru angin yang

membawa serpihan debu panas.

Dari balik kepulan asap, bayangan pasukan infanteri Varkhen muncul seperti

hantu. Mereka bergerak dengan tameng energi yang berpendar ungu, perlahan-

lahan mempersempit ruang gerak Holden dan rekan-rekannya. Di belakang

mereka, sebuah kapsul pendarat berat baru saja menghantam tanah,

memuntahkan unit elit Varkhen yang membawa peledak termal.

"Mereka mengincar engsel pintu bunker!" Kael berseru, menunjuk ke arah pintu

baja raksasa yang sudah mulai penyok. "Jika pintu itu jebol sebelum atmosfer stabil,

Lio dan semua orang di dalam akan tewas seketika karena dekompresi!"

Holden menatap pintu bunker tersebut. Pikirannya melayang pada Lio yang

mungkin sedang berjuang di dalam sana, memutar tuas manual untuk memberikan

sisa oksigen bagi warga. Ia juga teringat ayahnya yang dulu berdiri di ambang pintu

yang sama, menjadi penghalang terakhir antara dirinya dan kematian. "Jace,

berikan tembakan perlindungan di sektor kiri! Kael, gunakan granat EMP untukmelumpuhkan tameng mereka!" perintah Holden, suaranya dingin dan tajam,

tanpa keraguan.

"Lalu kau apa?" tanya Jace.

Holden berdiri dari balik pilar, matanya yang berwarna emas berkilat di balik

kaca helmnya. "Aku akan memastikan mereka tidak pernah menyentuh pintu itu."

Holden berlari keluar dari zona aman, menerjang badai peluru plasma yang

menyalak dari arah pasukan Varkhen. Ia bergerak lincah di antara reruntuhan,

menggunakan momentum jatuhnya sebuah satelit kecil sebagai tameng sementara.

Dengan satu lompatan kuat, ia mendarat di tengah-tengah unit elit musuh.

ZAP!

Pedang energi Holden menebas udara, membelah tameng ungu milik prajurit

Varkhen dalam satu ayunan presisi. Tembakan dari senapannya menyusul,

menjatuhkan dua prajurit lainnya sebelum mereka sempat menarik pelatuk.

Tiba-tiba, suara ledakan raksasa datang dari langit. Holden mendongak sejenak

dan melihat kilatan laser biru yang masif menembus awan jelaga. Itu adalah

serangan dari kapal induk Astraeus. Evan Calder telah tiba di orbit dan mulai

memberikan tekanan pada armada Vorn di atas sana.

"Panglima memberikan kita celah!" teriak Holden melalui interkom. "Serang

sekarang!"

Melihat dukungan dari langit, semangat Jace dan Kael kembali membara. Mereka

keluar dari perlindungan, memuntahkan tembakan balasan yang memaksa

pasukan Varkhen terpukul mundur beberapa meter.

Namun, di tengah hiruk-pikuk pertempuran itu, Holden merasakan getaran aneh

di bawah kakinya. Bukan getaran ledakan, melainkan getaran mekanis yang berat.

Dari arah reruntuhan Menara Pusat, sebuah mesin tempur berkaki empat milik

Varkhen—The Harbinger—muncul dari balik kabut. Meriamnya mulai menyala,

membidik langsung ke arah Holden yang berdiri tanpa perlindungan di tengah

lapangan terbuka.

"Holden, awas!" teriakan Lio terdengar samar dari saluran radio komunikasi

bunker yang tiba-tiba terhubung sejenak.Holden tidak bergerak. Ia menatap lurus ke arah moncong meriam raksasa itu.

Di atas sana, perang antara Evan dan Vorn sedang berlangsung, namun di sini, di

tanah yang terbakar ini, Holden Arka tahu bahwa dialah yang memegang kunci

untuk memastikan Astrael memiliki hari esok.

"Astrael tidak akan jatuh hari ini," bisik Holden, sambil menyiapkan granat

terakhir di tangannya.

Holden merunduk saat sebuah ledakan plasma menghantam sisa pilar beton di

depannya, menghujani armornya dengan kerikil panas. Ia melirik ke atas, ke arah

langit yang merah pekat. Di balik awan jelaga, kilatan cahaya raksasa sesekali

menyambar, tanda bahwa di atas sana, Evan Calder sedang membenturkan kapal

induk Astraeus langsung ke jantung blokade Varkhen.

"Holden! Lihat langit!" teriak Kael melalui interkom, suaranya terputus-putus

oleh interferensi statis.

Efek dari keberhasilan Evan di orbit mulai terasa. Sesaat setelah Astraeus

berhasil menghancurkan kapal pendukung logistik Varkhen di orbit, intensitas

tembakan meriam berat dari langit—Steel Rain—mendadak terhenti di Sektor 7.

Frekuensi hantaman rudal orbital yang tadinya konstan kini melambat,

memberikan napas buatan bagi atmosfer yang hampir runtuh.

"Evan berhasil menekan mereka!" seru Jace sambil memuntahkan tembakan

balasan ke arah infanteri musuh. "Sistem bidik otomatis Varkhen di darat

kehilangan sinkronisasi dengan satelit mereka!"

Namun, kegagalan Evan untuk menghancurkan kapal induk Vorn sepenuhnya

membawa konsekuensi fatal di darat. Karena armada Varkhen terdesak di orbit,

mereka melepaskan seluruh cadangan kapsul pendarat (Drop-pods) secara

membabi buta ke daratan.

"Mereka melakukan pembuangan massa!" Holden memperingatkan saat melihat

lusinan garis api baru jatuh dari langit, menghujam tanah di sekitar bunker seperti

tombak raksasa. "Vorn memindahkan pertempuran dari langit ke tanah!"

Tembakan musuh di darat justru menjadi lebih intens dan liar. Tanpa koordinasi

satelit yang stabil akibat gangguan Evan, pasukan Varkhen di darat mulaimenembak secara membabi buta menggunakan amunisi termal. Ledakan-ledakan

kini tidak lagi presisi, tapi jauh lebih destruktif, menghancurkan apa pun yang ada

di depan mereka demi membuka jalan menuju pintu bunker.

Lihat selengkapnya