Suara Jenderal Evan Calder menggelegar melalui pengeras suara publik, berat
dan tanpa keraguan:
"Rakyat Nexus Prime... Saya Jenderal Evan Calder dari Astral Union."
Layar itu menampilkan rekaman sensor orbit yang sangat jernih: bangkai
raksasa The Gorgon’s Wrath yang terbelah dua, terhujam di daratan Astrael dengan
api yang melumat seluruh anjungannya.
"Hari ini, tirani telah menemui ajalnya. Vorn Killian telah jatuh. Kapal induk yang
kalian takuti kini hanyalah rongsokan panas di tanah Astrael yang telah bebas.
Kekuasaan yang dibangun di atas ketakutan selama seribu tahun telah runtuh dalam
satu malam."
Evan menjeda kalimatnya sejenak, memberikan waktu bagi keheningan yang
mencekam untuk meresap ke dalam mental para prajurit Varkhen yang masih
tersisa.
"Kepada para penjaga dan prajurit Varkhen yang masih mengangkat senjata:
majikan kalian sudah menjadi abu. Tidak ada bala bantuan yang datang. Setiap
nyawa yang kalian cabut mulai detik ini adalah kejahatan yang akan diadili oleh
rakyat kalian sendiri. Letakkan senjata kalian, atau hancur bersama reruntuhan
rezim ini."
"Astrael telah menang. Sekarang, giliran kalian."
Pengumuman itu ditutup dengan transmisi koordinat jatuhnya Vorn Killian
sebagai bukti mutlak. Detik berikutnya, frekuensi itu mati, meninggalkan para
prajurit Varkhen dalam keputusasaan total di hadapan ribuan warga yang kini tahu
bahwa "dewa" mereka hanyalah manusia biasa yang bisa mati.
Alun-alun logam Nexus Prime yang dingin. Ribuan warga berkumpul dalam
keheningan yang mencekam saat layar-layar raksasa di gedung transmisi statis,
menampilkan potongan gambar kapal induk The Gorgon’s Wrath yang hancur diAstrael. Seorang budak, seorang buruh tambang tua dengan bekas luka bakar di
wajahnya, naik ke atas panggung darurat.
"Lihat layar itu! Jangan palingkan wajah kalian!"
Ia menunjuk ke arah gambar reruntuhan kapal Vorn Killian yang masih berasap
"Selama seribu tahun, sejak fajar 1090 A.E., kita diberitahu bahwa Varkhen
adalah takdir. Bahwa kekuatan mereka adalah hukum alam yang tidak mungkin
dipatahkan. Kita merangkak di bawah kaki mereka, memberikan keringat kita,
memberikan anak-anak kita untuk mesin perang mereka, karena kita percaya
mereka tak terkalahkan!"
"Tapi hari ini... takdir itu terbakar di atmosfer Astrael! Kapal induk yang mereka
banggakan, simbol teror yang membayangi hidup kita, kini hanyalah sampah
logam di planet yang mereka remehkan. Vorn Killian tidak mati sebagai dewa. Dia
mati sebagai abu yang ditiup angin!"
Suaranya meninggi, serak karena emosi yang meluap
"Aku tidak tahu siapa yang menjatuhkannya. Aku tidak tahu prajurit gila mana
yang berani berdiri di depan moncong meriam mereka di sana. Tapi itu tidak
penting! Yang penting adalah mereka bisa berdarah. Dan jika mereka bisa mati di
Astrael, mereka bisa mati di sini, di Nexus Prime!"
"Cukup sudah penghinaan ini! Jangan biarkan pengorbanan di Astrael menjadi
sia-sia. Hari ini, kita bukan lagi budak. Hari ini, kita adalah badai yang akan
meruntuhkan menara-menara ini!"
"REBUT KEMBALI RUMAH KITA!"
Setelah teriakan itu, bendungan ketakutan pecah. Ribuan warga menerjang maju
seperti gelombang pasang yang tak terbendung.
Di Gerbang Sektor Industri, para penjaga Varkhen yang tersisa mencoba
mengadang massa dengan perisai energi. Namun, mereka tidak lagi menghadapi
warga yang tunduk. Mereka menghadapi manusia yang sudah mencicipi aroma
kebebasan. Para teknisi mematikan aliran listrik ke menara pengawas, membuat
meriam otomatis Varkhen buta dalam sekejap."Tembak! Mundur ke zona aman!" teriak seorang perwira Varkhen, namun
suaranya tenggelam dalam gemuruh teriakan rakyat.
Massa menyerbu masuk menggunakan alat pemotong laser industri untuk
merobek gerbang baja. Di tengah kekacauan, seorang pemuda melompat ke atas
sebuah drone pemantau yang terbang rendah, menghantamnya dengan batang besi
hingga jatuh menghujam tanah. Senjata-senjata rampasan mulai berpindah tangan.
Di dalam pusat komunikasi, para operator Varkhen panik melihat sinyal dari
Astrael yang terputus total. Tanpa perintah dari Vorn dan tanpa dukungan armada
orbit, mereka hanyalah sekumpulan orang berseragam yang terjebak di tengah
lautan amarah.
Setiap sudut Nexus Prime kini bergema dengan dentuman pintu yang didobrak
dan kaca-kaca gedung administrasi yang pecah. Rakyat tidak membutuhkan nama
pahlawan untuk diikuti; mereka hanya membutuhkan bukti bahwa raksasa itu bisa
jatuh. Dan malam ini, di bawah bayang-bayang menara yang mulai runtuh, rakyat
Nexus Prime sedang menuliskan akhir dari sejarah seribu tahun penindasan
mereka.
Tanpa komando formal, massa bergerak bagaikan gelombang pasang. Mereka
tidak memiliki armor keramik atau senapan plasma standar militer, tetapi mereka
memiliki alat pemotong industri, batang besi, dan kebencian yang telah dipendam
selama puluhan tahun.
Di gerbang utama Kompleks Administrasi Varkhen, sepasang penjaga elit yang
tersisa mencoba mengaktifkan barikade laser. Namun, sebelum sistem itu
mengunci, sebuah ledakan dari bom rakitan menghantam panel kendali. Asap
hitam membumbung, dan dari balik kabut itu, warga menerjang masuk.
"Tahan posisi! Tembak di tempat!" teriak komandan penjaga Varkhen melalui
interkom yang mulai statis.
Senapan otomatis Varkhen memuntahkan peluru, menjatuhkan beberapa
barisan depan, namun massa tidak berhenti. Mereka merayap di dinding-dinding
logam, menjatuhkan drone pemantau dengan lemparan kabel baja, dan menarik
jatuh para penjaga dari pos menara mereka. Di sudut lain, para teknisipembangkang berhasil meretas sistem pintu otomatis, mengurung pasukan
Varkhen di dalam barak mereka sendiri.
Seorang warga wanita dengan wajah penuh jelaga berhasil merebut sebuah
senapan laras panjang dari tangan penjaga yang roboh. Ia tidak ragu; ia
menembakkan sisa magazin itu ke arah lambang Varkhen yang terukir di dinding
utama hingga hancur berkeping-keping.
"Nexus Prime milik kita!" teriaknya, yang disambut oleh sorakan parau dari
ribuan orang lainnya.
Di ruang kendali pusat, layar-layar monitor yang biasanya menampilkan
koordinat serangan ke Astrael kini satu demi satu berubah menjadi merah, tanda
system failure. Pemberontakan ini bukan lagi sekadar kerusuhan; ini adalah
eksekusi massal terhadap sebuah rezim yang telah kehilangan taringnya di langit
Astrael.
Tanpa dukungan armada dari orbit dan tanpa perintah dari Vorn Killian, para
penjaga Varkhen di Nexus Prime menyadari satu hal yang mengerikan: mereka kini
terkunci di dalam rumah yang baru saja mereka bakar, bersama dengan orang-
orang yang sudah tidak lagi takut untuk mati.