ASTRAEL

Dio Septian
Chapter #50

KEMARAHAN

Suara Jenderal Evan Calder menggelegar melalui pengeras suara publik, berat

dan tanpa keraguan:

"Rakyat Nexus Prime... Saya Jenderal Evan Calder dari Astral Union."

Layar itu menampilkan rekaman sensor orbit yang sangat jernih: bangkai

raksasa The Gorgon’s Wrath yang terbelah dua, terhujam di daratan Astrael dengan

api yang melumat seluruh anjungannya.

"Hari ini, tirani telah menemui ajalnya. Vorn Killian telah jatuh. Kapal induk yang

kalian takuti kini hanyalah rongsokan panas di tanah Astrael yang telah bebas.

Kekuasaan yang dibangun di atas ketakutan selama seribu tahun telah runtuh dalam

satu malam."

Evan menjeda kalimatnya sejenak, memberikan waktu bagi keheningan yang

mencekam untuk meresap ke dalam mental para prajurit Varkhen yang masih

tersisa.

"Kepada para penjaga dan prajurit Varkhen yang masih mengangkat senjata:

majikan kalian sudah menjadi abu. Tidak ada bala bantuan yang datang. Setiap

nyawa yang kalian cabut mulai detik ini adalah kejahatan yang akan diadili oleh

rakyat kalian sendiri. Letakkan senjata kalian, atau hancur bersama reruntuhan

rezim ini."

"Astrael telah menang. Sekarang, giliran kalian."

Pengumuman itu ditutup dengan transmisi koordinat jatuhnya Vorn Killian

sebagai bukti mutlak. Detik berikutnya, frekuensi itu mati, meninggalkan para

prajurit Varkhen dalam keputusasaan total di hadapan ribuan warga yang kini tahu

bahwa "dewa" mereka hanyalah manusia biasa yang bisa mati.

Alun-alun logam Nexus Prime yang dingin. Ribuan warga berkumpul dalam

keheningan yang mencekam saat layar-layar raksasa di gedung transmisi statis,

menampilkan potongan gambar kapal induk The Gorgon’s Wrath yang hancur diAstrael. Seorang budak, seorang buruh tambang tua dengan bekas luka bakar di

wajahnya, naik ke atas panggung darurat.

"Lihat layar itu! Jangan palingkan wajah kalian!"

Ia menunjuk ke arah gambar reruntuhan kapal Vorn Killian yang masih berasap

"Selama seribu tahun, sejak fajar 1090 A.E., kita diberitahu bahwa Varkhen

adalah takdir. Bahwa kekuatan mereka adalah hukum alam yang tidak mungkin

dipatahkan. Kita merangkak di bawah kaki mereka, memberikan keringat kita,

memberikan anak-anak kita untuk mesin perang mereka, karena kita percaya

mereka tak terkalahkan!"

"Tapi hari ini... takdir itu terbakar di atmosfer Astrael! Kapal induk yang mereka

banggakan, simbol teror yang membayangi hidup kita, kini hanyalah sampah

logam di planet yang mereka remehkan. Vorn Killian tidak mati sebagai dewa. Dia

mati sebagai abu yang ditiup angin!"

Suaranya meninggi, serak karena emosi yang meluap

"Aku tidak tahu siapa yang menjatuhkannya. Aku tidak tahu prajurit gila mana

yang berani berdiri di depan moncong meriam mereka di sana. Tapi itu tidak

penting! Yang penting adalah mereka bisa berdarah. Dan jika mereka bisa mati di

Astrael, mereka bisa mati di sini, di Nexus Prime!"

"Cukup sudah penghinaan ini! Jangan biarkan pengorbanan di Astrael menjadi

sia-sia. Hari ini, kita bukan lagi budak. Hari ini, kita adalah badai yang akan

meruntuhkan menara-menara ini!"

"REBUT KEMBALI RUMAH KITA!"

Setelah teriakan itu, bendungan ketakutan pecah. Ribuan warga menerjang maju

seperti gelombang pasang yang tak terbendung.

Di Gerbang Sektor Industri, para penjaga Varkhen yang tersisa mencoba

mengadang massa dengan perisai energi. Namun, mereka tidak lagi menghadapi

warga yang tunduk. Mereka menghadapi manusia yang sudah mencicipi aroma

kebebasan. Para teknisi mematikan aliran listrik ke menara pengawas, membuat

meriam otomatis Varkhen buta dalam sekejap."Tembak! Mundur ke zona aman!" teriak seorang perwira Varkhen, namun

suaranya tenggelam dalam gemuruh teriakan rakyat.

Massa menyerbu masuk menggunakan alat pemotong laser industri untuk

merobek gerbang baja. Di tengah kekacauan, seorang pemuda melompat ke atas

sebuah drone pemantau yang terbang rendah, menghantamnya dengan batang besi

hingga jatuh menghujam tanah. Senjata-senjata rampasan mulai berpindah tangan.

Di dalam pusat komunikasi, para operator Varkhen panik melihat sinyal dari

Astrael yang terputus total. Tanpa perintah dari Vorn dan tanpa dukungan armada

orbit, mereka hanyalah sekumpulan orang berseragam yang terjebak di tengah

lautan amarah.

Setiap sudut Nexus Prime kini bergema dengan dentuman pintu yang didobrak

dan kaca-kaca gedung administrasi yang pecah. Rakyat tidak membutuhkan nama

pahlawan untuk diikuti; mereka hanya membutuhkan bukti bahwa raksasa itu bisa

jatuh. Dan malam ini, di bawah bayang-bayang menara yang mulai runtuh, rakyat

Nexus Prime sedang menuliskan akhir dari sejarah seribu tahun penindasan

mereka.

Tanpa komando formal, massa bergerak bagaikan gelombang pasang. Mereka

tidak memiliki armor keramik atau senapan plasma standar militer, tetapi mereka

memiliki alat pemotong industri, batang besi, dan kebencian yang telah dipendam

selama puluhan tahun.

Di gerbang utama Kompleks Administrasi Varkhen, sepasang penjaga elit yang

tersisa mencoba mengaktifkan barikade laser. Namun, sebelum sistem itu

mengunci, sebuah ledakan dari bom rakitan menghantam panel kendali. Asap

hitam membumbung, dan dari balik kabut itu, warga menerjang masuk.

"Tahan posisi! Tembak di tempat!" teriak komandan penjaga Varkhen melalui

interkom yang mulai statis.

Senapan otomatis Varkhen memuntahkan peluru, menjatuhkan beberapa

barisan depan, namun massa tidak berhenti. Mereka merayap di dinding-dinding

logam, menjatuhkan drone pemantau dengan lemparan kabel baja, dan menarik

jatuh para penjaga dari pos menara mereka. Di sudut lain, para teknisipembangkang berhasil meretas sistem pintu otomatis, mengurung pasukan

Varkhen di dalam barak mereka sendiri.

Seorang warga wanita dengan wajah penuh jelaga berhasil merebut sebuah

senapan laras panjang dari tangan penjaga yang roboh. Ia tidak ragu; ia

menembakkan sisa magazin itu ke arah lambang Varkhen yang terukir di dinding

utama hingga hancur berkeping-keping.

"Nexus Prime milik kita!" teriaknya, yang disambut oleh sorakan parau dari

ribuan orang lainnya.

Di ruang kendali pusat, layar-layar monitor yang biasanya menampilkan

koordinat serangan ke Astrael kini satu demi satu berubah menjadi merah, tanda

system failure. Pemberontakan ini bukan lagi sekadar kerusuhan; ini adalah

eksekusi massal terhadap sebuah rezim yang telah kehilangan taringnya di langit

Astrael.

Tanpa dukungan armada dari orbit dan tanpa perintah dari Vorn Killian, para

penjaga Varkhen di Nexus Prime menyadari satu hal yang mengerikan: mereka kini

terkunci di dalam rumah yang baru saja mereka bakar, bersama dengan orang-

orang yang sudah tidak lagi takut untuk mati.

Lihat selengkapnya