Langit Varkhen tidak pernah benar-benar terang. Selama seribu tahun,
atmosfernya tertutup oleh jelaga industri dan kabut sulfur yang dihasilkan oleh
ribuan tanur raksasa yang menempa baja untuk armada Vorn Killian. Namun hari
ini, kegelapan itu terasa berbeda. Tidak ada lagi deru mesin pabrik yang biasanya
menggetarkan tanah. Yang terdengar hanyalah suara angin yang bersiul melewati
menara-menara transmisi yang mati, dan gema lonceng peringatan yang tak
kunjung berhenti dari pusat kota.
Di ibu kota Varkhen, Iron Citadel, layar-layar raksasa yang biasanya
menampilkan propaganda wajah kaku Vorn Killian kini hanya menunjukkan static
abu-abu. Berita tentang kehancuran The Gorgon’s Wrath di Astrael telah sampai
lebih cepat daripada cahaya melalui jalur komunikasi darurat. Bagi rakyat Varkhen,
itu bukan sekadar kekalahan militer; itu adalah runtuhnya realitas mereka.
Baron, seorang pengawas produksi di Sektor 7, berdiri di balkon apartemen
logamnya yang sempit. Ia menatap ke arah galangan kapal orbit. Di sana, kerangka
kapal-kapal kelas Destroyer yang belum selesai dibangun tampak seperti tulang
belulang raksasa yang ditinggalkan. Para pekerja di bawah sana telah berhenti
memegang palu dan las. Mereka berdiri berkelompok, wajah-wajah yang biasanya
keras dan penuh disiplin kini tampak kosong, hancur oleh ketidakpastian.
"Apa yang akan terjadi pada kita sekarang?" suara istrinya terdengar dari
kegelapan di dalam ruangan. "Tanpa pasokan mineral dari Astrael, tanpa energi
dari Aegis Core... Varkhen akan mati dalam hitungan bulan."
baron tidak menjawab. Ia tahu kebenarannya lebih pahit dari itu. Varkhen telah
dibangun sebagai parasit yang bergantung pada penderitaan planet-planet
jajahannya. Selama berabad-abad, rakyat Varkhen menikmati stabilitas dan
keamanan dengan harga perbudakan di Lycora dan penindasan di Astrael. Kini,
ketika taring sang diktator telah dicabut, mereka menyadari bahwa mereka tidakmemiliki apa-apa, tidak ada pertanian, tidak ada sumber daya alam yang tersisa di
tanah mereka sendiri yang sudah beracun.
Tiba-tiba, suara gemuruh terdengar dari arah gerbang utama Citadel. Itu bukan
suara pasukan Astral Union yang datang menjajah, melainkan suara rakyat
Varkhen sendiri. Kerumunan orang mulai menjarah gudang-gudang logistik militer.
Para perwira menengah yang biasanya memerintah dengan cambuk kini berlarian,
melepas lencana pangkat mereka agar tidak dikeroyok oleh massa yang panik dan
kelaparan.
Di sudut lain planet ini, di wilayah pertambangan Lycora yang masih berada di
bawah bayang-bayang Varkhen, suasananya jauh lebih brutal. Tanpa perintah dari
pusat, para penjaga Varkhen di sana kehilangan arah. Beberapa memilih untuk
melakukan eksekusi massal sebelum melarikan diri, namun lebih banyak lagi yang
justru menjadi mangsa bagi para buruh tambang yang telah lama menyimpan api
dendam.
Saat malam jatuh di Varkhen, lampu-lampu kota mulai berkedip dan mati satu
per satu karena kekurangan pasokan energi. Planet yang dulunya merupakan
jantung dari mesin perang paling ditakuti di galaksi itu kini tampak seperti bara api
yang meredup.
baron melihat sebuah kapal pengangkut kecil meluncur dari permukaan,
mencoba melarikan diri ke luar angkasa sebelum blokade Astral Union benar-benar
menutup sistem mereka. Ia tahu, bagi rakyat Varkhen, hukuman terberat bukanlah
kematian di tangan musuh, melainkan keharusan untuk melihat ke dalam cermin
dan menyadari bahwa kejayaan mereka hanyalah fatamorgana yang dibangun di
atas tumpukan mayat.
Vorn Killian telah menjanjikan mereka keabadian melalui baja, namun ia hanya
meninggalkan mereka dalam kegelapan, di sebuah planet yang kini harus belajar
untuk hidup tanpa seorang tuan, atau mati bersama kenangan akan sebuah
imperium yang telah menjadi abu.
Di dalam Aula Keabadian, ruangan tempat Vorn Killian biasanya merancang
strategi penaklukan, suasananya kini seperti makam yang dijarah. Meja holografikyang dulunya menampilkan peta bintang kini hanya memproyeksikan kode
kesalahan berwarna merah yang berkedip-kedip.
Seorang ajudan senior bernama Krixus berdiri mematung di tengah ruangan. Ia
memegang lencana komando yang telah ia copot dari seragamnya. Di luar jendela
antipeluru, ia bisa melihat gumpalan asap hitam membumbung dari sektor energi.
Rakyat yang selama ini dibungkam dengan janji "Stabilitas melalui Kekerasan" kini
telah berubah menjadi gelombang penghancur.
"Mereka sudah menembus perimeter bawah," lapor seorang operator muda
dengan suara gemetar. "Unit Oblivion Guard tidak menjawab transmisi kita.
Mereka... mereka bergabung dengan para pemberontak atau melarikan diri."
Krixus mendekati jendela, menatap jauh ke cakrawala Varkhen yang suram.
"Vorn membangun dunia ini seperti sebuah mesin," bisiknya pahit. "Dia pikir jika
satu roda gigi patah, dia bisa menggantinya. Dia tidak pernah sadar bahwa rakyat
bukanlah mesin. Mereka adalah api. Dan tanpa tangannya yang menekan, api itu
akan melahap sang pencipta."
Tiba-tiba, ledakan keras menggetarkan seluruh menara. Pintu aula yang berlapis
baja mulai melengkung di bawah tekanan alat bor industri yang digunakan oleh
para penjarah. Tidak ada lagi tentara elit yang menjaga pintu itu; mereka yang
masih hidup sudah lebih dulu kabur membawa pasokan oksigen portabel ke
hanggar rahasia.