ASTRAEL

Dio Septian
Chapter #51

RUNTUH

Langit Varkhen tidak pernah benar-benar terang. Selama seribu tahun,

atmosfernya tertutup oleh jelaga industri dan kabut sulfur yang dihasilkan oleh

ribuan tanur raksasa yang menempa baja untuk armada Vorn Killian. Namun hari

ini, kegelapan itu terasa berbeda. Tidak ada lagi deru mesin pabrik yang biasanya

menggetarkan tanah. Yang terdengar hanyalah suara angin yang bersiul melewati

menara-menara transmisi yang mati, dan gema lonceng peringatan yang tak

kunjung berhenti dari pusat kota.

Di ibu kota Varkhen, Iron Citadel, layar-layar raksasa yang biasanya

menampilkan propaganda wajah kaku Vorn Killian kini hanya menunjukkan static

abu-abu. Berita tentang kehancuran The Gorgon’s Wrath di Astrael telah sampai

lebih cepat daripada cahaya melalui jalur komunikasi darurat. Bagi rakyat Varkhen,

itu bukan sekadar kekalahan militer; itu adalah runtuhnya realitas mereka.

Baron, seorang pengawas produksi di Sektor 7, berdiri di balkon apartemen

logamnya yang sempit. Ia menatap ke arah galangan kapal orbit. Di sana, kerangka

kapal-kapal kelas Destroyer yang belum selesai dibangun tampak seperti tulang

belulang raksasa yang ditinggalkan. Para pekerja di bawah sana telah berhenti

memegang palu dan las. Mereka berdiri berkelompok, wajah-wajah yang biasanya

keras dan penuh disiplin kini tampak kosong, hancur oleh ketidakpastian.

"Apa yang akan terjadi pada kita sekarang?" suara istrinya terdengar dari

kegelapan di dalam ruangan. "Tanpa pasokan mineral dari Astrael, tanpa energi

dari Aegis Core... Varkhen akan mati dalam hitungan bulan."

baron tidak menjawab. Ia tahu kebenarannya lebih pahit dari itu. Varkhen telah

dibangun sebagai parasit yang bergantung pada penderitaan planet-planet

jajahannya. Selama berabad-abad, rakyat Varkhen menikmati stabilitas dan

keamanan dengan harga perbudakan di Lycora dan penindasan di Astrael. Kini,

ketika taring sang diktator telah dicabut, mereka menyadari bahwa mereka tidakmemiliki apa-apa, tidak ada pertanian, tidak ada sumber daya alam yang tersisa di

tanah mereka sendiri yang sudah beracun.

Tiba-tiba, suara gemuruh terdengar dari arah gerbang utama Citadel. Itu bukan

suara pasukan Astral Union yang datang menjajah, melainkan suara rakyat

Varkhen sendiri. Kerumunan orang mulai menjarah gudang-gudang logistik militer.

Para perwira menengah yang biasanya memerintah dengan cambuk kini berlarian,

melepas lencana pangkat mereka agar tidak dikeroyok oleh massa yang panik dan

kelaparan.

Di sudut lain planet ini, di wilayah pertambangan Lycora yang masih berada di

bawah bayang-bayang Varkhen, suasananya jauh lebih brutal. Tanpa perintah dari

pusat, para penjaga Varkhen di sana kehilangan arah. Beberapa memilih untuk

melakukan eksekusi massal sebelum melarikan diri, namun lebih banyak lagi yang

justru menjadi mangsa bagi para buruh tambang yang telah lama menyimpan api

dendam.

Saat malam jatuh di Varkhen, lampu-lampu kota mulai berkedip dan mati satu

per satu karena kekurangan pasokan energi. Planet yang dulunya merupakan

jantung dari mesin perang paling ditakuti di galaksi itu kini tampak seperti bara api

yang meredup.

baron melihat sebuah kapal pengangkut kecil meluncur dari permukaan,

mencoba melarikan diri ke luar angkasa sebelum blokade Astral Union benar-benar

menutup sistem mereka. Ia tahu, bagi rakyat Varkhen, hukuman terberat bukanlah

kematian di tangan musuh, melainkan keharusan untuk melihat ke dalam cermin

dan menyadari bahwa kejayaan mereka hanyalah fatamorgana yang dibangun di

atas tumpukan mayat.

Vorn Killian telah menjanjikan mereka keabadian melalui baja, namun ia hanya

meninggalkan mereka dalam kegelapan, di sebuah planet yang kini harus belajar

untuk hidup tanpa seorang tuan, atau mati bersama kenangan akan sebuah

imperium yang telah menjadi abu.

Di dalam Aula Keabadian, ruangan tempat Vorn Killian biasanya merancang

strategi penaklukan, suasananya kini seperti makam yang dijarah. Meja holografikyang dulunya menampilkan peta bintang kini hanya memproyeksikan kode

kesalahan berwarna merah yang berkedip-kedip.

Seorang ajudan senior bernama Krixus berdiri mematung di tengah ruangan. Ia

memegang lencana komando yang telah ia copot dari seragamnya. Di luar jendela

antipeluru, ia bisa melihat gumpalan asap hitam membumbung dari sektor energi.

Rakyat yang selama ini dibungkam dengan janji "Stabilitas melalui Kekerasan" kini

telah berubah menjadi gelombang penghancur.

"Mereka sudah menembus perimeter bawah," lapor seorang operator muda

dengan suara gemetar. "Unit Oblivion Guard tidak menjawab transmisi kita.

Mereka... mereka bergabung dengan para pemberontak atau melarikan diri."

Krixus mendekati jendela, menatap jauh ke cakrawala Varkhen yang suram.

"Vorn membangun dunia ini seperti sebuah mesin," bisiknya pahit. "Dia pikir jika

satu roda gigi patah, dia bisa menggantinya. Dia tidak pernah sadar bahwa rakyat

bukanlah mesin. Mereka adalah api. Dan tanpa tangannya yang menekan, api itu

akan melahap sang pencipta."

Tiba-tiba, ledakan keras menggetarkan seluruh menara. Pintu aula yang berlapis

baja mulai melengkung di bawah tekanan alat bor industri yang digunakan oleh

para penjarah. Tidak ada lagi tentara elit yang menjaga pintu itu; mereka yang

masih hidup sudah lebih dulu kabur membawa pasokan oksigen portabel ke

hanggar rahasia.

Lihat selengkapnya