ASTRAJINGGA
Ada langit yang tak biru
tapi tenang seperti tatapanmu
Ada senja yang tak jingga
tapi hangat seperti suaramu
Kau datang tanpa suara
tapi kau dengarkan semua kata
Kau bukan puisiku
tapi entah kenapa,
setiap bait berakhir padamu
Astra,
nama yang kutulis di ujung senja
Jingga,
warna yang kau bawa di setiap jeda
Mungkin kita bukan takdir
tapi kalau takdir bisa ku-hack sedikit saja
aku ingin menulis kita berdua
di folder bernama Forever.jpg
Ansella menatap layar laptopnya sejenak. Kursor berkedip pelan, menunggu perintah terakhir.
“POSTED.”
Klik.
Ia menarik napas pelan, merasa aneh. Setiap kali menekan tombol itu, rasanya seperti menyerahkan sedikit bagian dari dirinya ke dunia.
Puisi itu terunggah di akun @hai_jingga7, menutup malam yang lembut dengan bias cahaya dari jendela.
*****
Kriiing... kriing...
Suara alarm bersahutan dengan kicauan burung di balkon kamar. Seorang gadis cantik langsung terbangun dengan semangat, merentangkan tangan sambil tersenyum lebar. Rambutnya masih berantakan, matanya setengah terbuka, tapi semangatnya pagi itu sudah penuh.
Ia menoleh ke samping, mematikan alarm yang masih setia berdering. Selesai, ia menuruni kasur dan merapikan sedikit tempat tidurnya.
Urin pillyo eopseo, dareun sign
Paint the town, choroksaegui lights
Pedare bareul ollyeo, machi bike I
just gotta get it
Watch me go, go, go, go, go, go
I just gotta get it
Watch me go, go, go, go, go, go
I just gotta get it
Lagu milik Cortis, Boy group dari korea, - GO, mengguncang kamarnya pagi ini. Ia meraih sisir dan menggunakannya sebagai mikrofon, lalu mulai bergoyang kecil menuju kamar mandi.
Setelah sekitar dua puluh menit, ia keluar dari sana sudah dengan seragam lengkap. Rambutnya masih setengah basah, jadi ia menunduk sedikit, mengeringkannya dengan handuk sambil berjalan ke arah kasur.