Astrajingga

kirei_oceane
Chapter #2

|• Statistika


Kelas begitu hening. Hanya terdengar suara spidol yang menggores papan tulis.

Guru matematika berdiri di depan, menjelaskan tentang statistika - grafik, tabel, data, dan angka-angka yang berbaris rapi seperti barisan semut.

Ansella menatap papan tulis, tapi pikirannya tak benar-benar di sana. Setiap kata 'data' yang diucapkan guru justru berubah menjadi 'cerita' di kepalanya. Setiap grafik yang naik turun terasa seperti napas manusia.

Tangan kanannya bergerak pelan di atas buku catatan. Bukan menyalin rumus, melainkan menulis sesuatu yang lain.

Sebuah puisi.


Statistika


Di antara angka dan tanda,

kita belajar membaca dunia.

Satu titik jadi makna,

seribu titik jadi cerita.


Rata-rata, median, modus,

semuanya bicara tentang hidup yang tak selalu lurus.

Kadang tinggi, kadang rendah,

tapi tetap berpadu dalam satu arah.


Di balik grafik yang naik dan turun,

ada napas manusia yang tak terhitung.

Setiap data membawa rasa,

setiap simpangan punya kisahnya.


Kita bukan sekadar angka di tabel,

kita variabel yang saling berkait.

Dan statistik, pada akhirnya,

hanya cara lain untuk memahami semesta.


Saat baris terakhir selesai, bel peralihan pelajaran berbunyi nyaring, memecah suasana kelas yang mulai bosan.

“Abis ini pelajaran komputer, kan?” tanya Ziza sambil menutup bukunya.

Thata mengangguk cepat, “Iya, ruang 2A.”

Mereka bertiga langsung sibuk merapikan meja.

“Buruan, Elle, gue nggak mau duduk paling belakang,” keluh Olive sambil menggantungkan tas di bahunya.

“Iya, iya, bentar. Gue tinggal masukin pensil doang.” Ansella mencomot pensil mekaniknya dan menyusul teman-temannya keluar.

Koridor sekolah riuh. Suara langkah, tawa, dan obrolan saling bertabrakan. Di antara itu, suara mereka berempat jadi satu irama yang paling mencolok.

“Bisa-bisanya orang lain stres mikirin matematika, lo malah bikin puisi,” kata Olive, masih geli mengingat kebiasaan temannya itu.

“Kebayang gue, Elle disuruh isi soal. Abis tanda sama dengan, jawabannya malah ‘kata-kata puitis penggetar jiwa’,” sahut Ziza, disambut tawa keras dari Thata.

“Tapi puisinya dia emang keren, kan?” Thata menimpali dengan nada tulus.

Ansella tersenyum bangga, menatap mereka satu per satu. “Itu cara menikmati matematika, Glitchy,” katanya sambil menirukan nada sombong yang lucu.

Lihat selengkapnya