Astrajingga

kirei_oceane
Chapter #3

|• Dua Dunia


Langit sore mulai berwarna jingga pudar ketika Ansella memarkirkan motornya di pekarangan rumah.

Rumah sederhana itu berdiri teduh. Dindingnya putih bersih dengan list abu-abu muda, dihiasi tanaman hias yang menjuntai dari pot gantung di teras. Hangat, tenang, tempat yang selalu membuatnya lupa akan riuh dunia luar.

Baru saja ia melepas helm, suara motor lain terdengar masuk ke halaman. Ansella menoleh, lalu tersenyum begitu mengenali pengendaranya.

“Baru pulang, Elle?”

Suara itu tenang, sedikit berat, milik seorang lelaki berjaket denim yang baru menurunkan standar motornya.

“Iya,” jawab Ansella sambil tersenyum. “Kak Zakiel mau ketemu abang? Kayanya belum pulang deh, mobilnya aja ngga ada.”

Hezakiel terkekeh kecil, “Engga. Mau ketemu Ayah kamu,” jawabnya, menurunkan helm dan mengusap rambutnya yang sedikit acak.

Keduanya berjalan berdampingan menuju teras. “Mau belajar lagi sama Ayah?” tanya Ansella.

Hezakiel tersenyum tipis. “Bimbingan, Elle.”

“Iya, bimbingan,” balas Ansella cepat, menirukan nada serius, lalu nyengir. “Kakak duduk dulu deh, aku panggilin Ayah sebentar.”

Hezakiel mengangguk, menuruti. Ia duduk di sofa ruang tamu, menatap sekeliling rumah itu, sederhana, tapi penuh kehangatan.

Sementara itu, Ansella melangkah ke dapur. Aroma butter dan gula yang baru dipanggang langsung menyambutnya.

“Bund,” panggilnya pelan.

“Kenapa, sayang?” Bunda Hanin menoleh sekilas dari adonan kue yang sedang ia bentuk, lalu kembali fokus pada loyang di depannya.

“Ayah mana, Bund? Ada Kak Zakiel nyariin.” Ansella mengambil gelas, menuang air, lalu meneguknya setengah.

“Kayaknya di kamar, deh. Kalo engga, coba cek di ruang kerja Ayah,” jawab Bunda Hanin lembut.

“Oke.” Sebelum pergi, Ansella menyomot satu cookies hangat dari loyang.

“Elle...” tegur Bunda Hanin setengah geli.

Ansella hanya tertawa kecil sambil melarikan diri ke arah koridor.

Bunda Hanin menggeleng, senyum lembutnya tak pernah benar-benar hilang.

Tok… tok… tok…

“Ayah…” Ansella mengintip sedikit ke dalam ruang kerja yang dipenuhi tumpukan buku dan kertas. Aroma khas ayahnya langsung tercium oleh indera penciumannya.

“Kenapa, Nak?” suara Ayah Cakra terdengar tenang dari balik meja.

“Ada Kak Zakiel di luar. Katanya mau ketemu Ayah,” ucap Ansella.

“Tolong bilang Zakiel tunggu sebentar, ya. Ayah selesaikan ini dulu sedikit lagi.”

“Okki dokki, Kapten~,” jawab Ansella riang, memberi hormat kecil sebelum menutup pintu.

Ayah Cakra sempat melirik sekilas ke arah putrinya yang berlalu sambil tersenyum kecil, lalu menggeleng pelan.

Ayah Cakra adalah seorang Dosen Arsitek di salah satu Universitas ternama. Walau terlihat sederhana, tapi nama beliau sudah cukup di kenal di kalangan para pengusaha. Khususnya, pengusaha properti yang menggunakan jasanya. Terbukti dari banyaknya pesanan design yang selalu ia terima dari dalam bahlan luar negeri.

Di tengah perjalanan Ansella menuju ruang tamu, suara lembut Bunda Hanin memanggil dari dapur.

“Elle, mau ke mana?”

“Ke Kak Zakiel, Bun. Kata Ayah, suruh tunggu dulu,” jawab Ansella sambil berhenti di ambang dapur.

Bunda Hanin tersenyum. “Sekalian deh, tolong bawain ini buat Zakiel.”

Ia menyerahkan nampan berisi dua toples cookies hangat dan segelas teh melati yang masih mengepul.

"Resep baru, ya, Bund?" Tanya Ansella, penasaran.

"Iyaa doong. Gimana ... Enak ngga yang tadi kamu coba?" Ucap Bunda Hanin antusias, penuh binar.

"Enak, enak banget, Bund. Ngga terlalu manis. Terus renyahnya pas. Coklatnya ngga over. Tapi aroma buter dan gulanya ... uhmmm... semerbak banget. Soft, sweet, and so tasty." Ucap Ansella, sedikit lebay.

Bunda Hanin terkekeh pelan. "Dasar kamu .. pinter banget kalo masalah muji. Udah sana, bawa ke depan."

“Siap, Chef Hanin.” Ansella menerima nampan itu dengan gaya pura-pura formal, membuat sang bunda terkekeh kecil.

Sesampainya di ruang tamu, Ansella meletakkan nampan itu di atas meja. “Kata Ayah, tunggu sebentar. Ini juga dari Bunda.”

“Makasih, Elle.” Hezakiel menatapnya dengan senyum tulus. Tapi saat Ansella berbalik pergi, ia sempat bersuara lagi, “Loh, mau ke mana?”

“Kamar.” Jawab Ansella singkat.

“Ngga sopan banget, masa ada tamu dibiarin nunggu sendirian,” goda Hezakiel dengan nada main-main.

Lihat selengkapnya