Erigo keluar dari kamarnya, mengenakan seragam dilengkapi jaket baseball. Wajahnya dingin, satu tangan menggenggam tas yang tersampir di bahu. Langkahnya tenang menuju ruang makan. Ia menggantung tas di sandaran kursi, lalu duduk.
Di depannya sudah tersedia piring berisi nasi goreng dengan telur omelet.
“Pagi, Nak,” sapa Mama Jasmine sambil menaruh segelas air putih di samping piringnya.
“Pagi, Ma,” jawab Erigo datar. Ia menggeser piring nasi goreng ke samping, mengambil satu slice roti, dan mengolesi krim keju di atasnya. “Aku sarapan ini aja.”
Mama Jasmine hanya tersenyum lembut, mengangguk singkat.
Tak lama, langkah berat terdengar mendekat. Sosok lelaki setengah baya dengan wibawa memasuki ruang makan. Ia duduk di kursi paling ujung. Menatap sang putra, suaranya datar.
“Gimana sekolahmu?”
“Biasa saja,” jawab Erigo singkat.
Papa Hevgar menghela napas panjang, jengah. “Jangan membuat masalah. Kamu harus bisa seperti kakakmu. Dia pintar dan membanggakan.”
Mama Jasmine yang hendak menaruh kopi di hadapan suaminya terdiam sejenak. Matanya menatap Erigo dalam-dalam, menghela napas pelan, sebelum menaruh cangkir kopi di meja.
Erigo menyuapkan potongan roti terakhirnya, meneguk setengah gelas air, lalu berdiri. “Aku sudah selesai. Aku pergi dulu.”
Suara cangkir beradu dengan tatakan kecil menggema di ruang makan. Papa Hevgar menatap kosong ke meja, kesal.
“Anak itu… selalu saja begitu setiap kali diajak bicara.”
Mama Jasmine menyentuh bahu suaminya dengan lembut. “Mungkin Rigo sedang buru-buru, Pa.”
“Berhenti membelanya, Jasmine. Dia bukan lagi anak TK yang butuh perlindungan ibunya setiap saat,” ucap Papa Hevgar, dingin. "Kalau saja dulu yang selamat kakaknya, mungkin semuanya lebih mudah."
Jasmine hanya terdiam, tapi tatapannya menatap pintu kemana tadi putranya keluar.
Erigo mengendarai mobilnya, memecah jalanan yang mulai ramai. Ia memutar stir, berbelok ke kanan menuju sekolah.
Ckiiittt!
Dengan cepat ia menginjak rem hingga mobil berhenti seketika. Tubuhnya terdorong ke depan. Wajahnya memerah, tatapannya tajam. Di depannya, seorang gadis tiba-tiba berdiri di tengah jalan, tangan lurus ke depan, mata terpejam, seolah sengaja memintanya berhenti.
“Ck. Ngga waras!” geram Erigo.
Ia keluar dari mobil, dentuman pintu yang ditutup kencang memecah keheningan jalan.
“Lo gila, ya? Mau gue tabrak? Ngapain berdiri di tengah jalan?” tanyanya dengan nada tajam.
“Lo emang mau nabrak. Tapi bukan nabrak gue,” jawab Ansella tenang.
Erigo mengerutkan keningnya, menatap gadis itu. Tak lama, Ansella membungkuk, meraih seekor anak kucing yang terluka di kaki, tergeletak di dekat kakinya.
“Lo hampir nabrak dia,” ujar Ansella sambil mengusap kucing itu lembut. “Push… kamu ngga apa-apa kan, mpuushh. Astaga, kakinya luka. Kita ke dokter, ya?”
Tanpa menunggu jawaban, Ansella mengangkat kucing itu ke motor dan melaju meninggalkan Erigo yang masih terdiam, memproses kejadian yang super cepat itu.
Ia menghela napas panjang.
“gadis itu…” gumamnya geram, sebelum kembali masuk mobil dan melajukan kendaraan ke sekolah.
*****
TRIIIINGGGG!!!
Bel sekolah berbunyi nyaring.
Namun suara bel itu masih kalah nyaring dibanding keributan yang terjadi di gerbang.
“Pak Danuuu! Sabar dulu, sabar dulu! Jangan ditutup duluuuu!” teriak Thata, kedua tangannya merangkul pagar seperti menahan nasib bangsa.
“Ampun Pak, satu menit aja! Elle belum nyampe!” sambung Olive, ikut menahan pagar dengan tubuh miring seperti atlet angkat besi gagal latihan.
Ziza tak kalah dramatis. Ia menempel di pagar sambil memonyongkan bibir, “Pak Danuuu… masa tega sama wanita lemah tak berdaya kaya kami?” suaranya dibuat sengau, super lebay.
Pak Danu menghela napas panjang. “anak-anak sekalian, bel udah bunyi. Prosedur tetap prosedur. Pagar harus ditutup. Kalau telat ya lewat pintu..”
“TIDAAAKK!”
Mereka bertiga langsung memotong serempak, seolah Pak Danu barusan mau menjatuhkan vonis hukuman mati.
“Kalo lewat pintu belakang, kita harus ketemu Ibu Vero, Pak! Ibu Vero itu killer, garangnya ngalahin singa kurban!” keluh Thata.
“Iya Pak, Ibu Vero itu ngga punya ampun,” timpal Olive dramatis.
Ziza memukul gemas tangan Olive. “Bukan ngga punya ampun, Liv. Ngga punya alur,” bisiknya horor.
Olive refleks manggut-manggut, “Bener juga sih.”
Pak Danu memijat pelipisnya. “Sudah. Ayo lepasin pagar. Bapak tutup dulu.”
“Pak Danuuuu… pleaseee…”
Glitchy kompak menatap dengan mata memelas most powerful mode. Mata kucing Puss in Boots versi tiga kali lipat dramatis.
Pak Danu menatap mereka. Diam. Lalu menghela napas lagi, kali ini lebih panjang.
“Tiga puluh detik. Kalo lewat, ditutup,” ucapnya akhirnya.
Ketiga Glitchy langsung bersorak seperti habis juara olimpiade nasional.
Pak Danu mulai menarik napas, tangannya sudah memegang pagar.
“Waktunya hab...”
BRAAAAAAK!!!
Sebuah motor meliuk dramatis memasuki halaman sekolah dan berhenti tepat di depan gerbang seperti adegan final kompetisi MotoGP versi hemat.
Ansella turun dengan napas ngos-ngosan, helm setengah kebuka, dan … sebuah kotak kecil di pelukannya.
“JANGAN TUTUP PAAAK!!! SAYA HADIR!!!” teriaknya dramatis.
Glitchy langsung berhamburan seperti fans k-pop melihat idol turun dari van.
“ELLEEE!!”
“GILA LO BIKIN JANTUNG GUE PINDAH KE DOMPET!”
“Apa itu di tangan lo?!”
Ansella membuka kotaknya sedikit, memperlihatkan anak kucing yang meringkuk manis.
“Gue nemu di jalan. Kakinya luka… kasian… jadi gue mampir dulu ke klinik hewan.”
Pak Danu bersiap menutup gerbang. "Sudah cepat. Nanti kalian semakin terlambat."
Saat Ansella dan Glitchyenoleh ke arah Pak Danu. Setelah berterima kasih, mereka berjalan ke arah lorong sekolah. Di pertigaan lorong, mereka berpapasan dengan Erigo yang baru saja keluar dari halaman belakang sekolah.
Erigo menatap singkat pada Ansella. Lalu pada kotak kucing di pelukannya. Kemudian ia berjalan melewati mereka tanpa bicara.
Glitchy otomatis bisik-bisik.
“Liv…”
“Hmm?”
“Itu dinginnya ngga masuk angin ya?”
Keempatnya terkikik geli bersama.
Mereka akhirnya memasuki kelas. Suasana sudah mulai tenang, hanya terdengar suara kursi bergeser dan buku dibuka.
Di sudut belakang, Ansella meletakkan kotak kecil itu. Kucing didalamnya tampak meringkuk tenang.
“Diem di sini, ya, Mpush. Gue mau belajar dulu,” bisiknya lembut sambil mengusap kepala si kucing pelan.
“Ssst… jangan berisik.” Senyum kecil muncul di wajahnya sebelum akhirnya ia berdiri dan kembali ke bangkunya.
Pelajaran pun dimulai. Bu Hani, guru biologi, menerangkan materi panjang lebar di depan kelas, dan Ansella mengikuti dengan fokus penuh. Sesekali ia melirik ke belakang, memastikan kotak kecil itu tetap aman.
Bu Hani sempat menatap kotak di belakang kelas, tetapi setelah Ansella menjelaskan bahwa itu anak kucing terluka yang baru saja dibawa dari klinik, guru itu hanya menggeleng pasrah dan meminta agar kucing tersebut tidak mengganggu pelajaran.