Astrajingga

kirei_oceane
Chapter #5

|• Rumah Kecil


“AAAHHHHHH!!!”

Sebuah teriakan menggema di seluruh rumah.

Hero, yang sedang mencuci motor di halaman, langsung menjatuhkan lap dan berlari menuju kamar adiknya.

“Kenapa, Dek?” serunya panik.

Begitu pintu kamar terbuka, terlihat Ansella berjongkok di lantai dengan wajah campur aduk. Antara bingung, sedih, dan takut.

“Apaan tuh?” tunjuk Hero pada kotak kecil di depan adiknya.

Ansella mengangkat kotak itu dan mendekat. “Kucing,” ujarnya lirih.

Hero mengelap tangannya yang masih basah, lalu melongok ke dalam kotak. Seekor anak kucing abu-abu terbaring diam di sana.

“Kucing siapa?” tanya Hero pelan.

“Gue nemu di jalan tadi, Bang. Hampir ketabrak mobil. Tapi dari tadi dia diem aja pas gue bangun tidur.”

Ansella menatap kucing itu khawatir. “Apa jangan-jangan dia sakit, ya? Pagi-pagi udah sempet gue bawa ke dokter buat diperiksa kakinya yang luka. Tapi kayaknya ada yang salah, deh. Menurut Abang gimana?”

Hero menggaruk tengkuk. “Yah, Abang juga nggak ngerti, Dek. Kita kan nggak pernah miara kucing.”

Ia terdiam sebentar, lalu wajahnya berubah seolah baru dapat ide.

“Ah! Abang tau!”

Ia langsung merogoh saku celana, mengambil ponselnya, dan menekan kontak yang sudah hafal di luar kepala.

Klik.

Suara dari seberang menjawab cepat.

“Pas banget lo angkat. Lo bisa ke sini nggak, Za?”

“Kenapa, Ro?” suara Hazekiel terdengar tenang dari seberang.

“Nih, si Elle nemu kucing di jalan, hampir ketabrak. Sekarang diem aja dari tadi, takutnya sakit.”

“Gue ke sana sekarang. Bilang ke Elle, kucingnya jangan diapa-apain dulu.”

“Oke, thanks ya, Bro.”

Hero menutup sambungan telepon, lalu menoleh ke adiknya yang menatapnya penuh tanda tanya.

“Heza ke sini. Katanya kucingnya jangan diapa-apain dulu.”

“Loh! Kak Zakiel sekarang jadi dokter hewan?” tanya Ansella polos.

Hero mendengus sambil nyengir. “Bukan, cantik. Tapi dia punya kucing di rumahnya, milik Tante Amara, jadi pasti paham. Biar dia liat tuh si Mpush.”

Ansella mengangguk pelan. “Oh gitu... yaudah, gue mandi dulu, ya. Titip Mpush-nya, Bang.”

“Loh, lah... Dek, tunggu dulu.."

Tapi sebelum sempat protes, Ansella sudah kabur ke kamar mandi, meninggalkan Hero menatap kucing kecil di dalam kotak.

“Duh, Mpush… cewek satu ini nyusahin, deh.” gumamnya pasrah.

Setelahenunggu sekitar sepuluh menit, bel rumah berbunyi.

Hero yang sedang duduk di ruang tamu langsung bangkit. “Nah, itu pasti Heza.”

Begitu pintu dibuka, tampak Hazekiel berdiri di depan. Mengenakan hoodie hitam dan celana jeans sederhana. Rambutnya agak berantakan, tapi tatapannya tetap tenang seperti biasa.

“Mana kucingnya?” tanyanya pelan tanpa basa-basi.

“Ini, nih.” Hero mengangkat kotak kecil dari meja, lalu membukanya perlahan. “Kata Elle, dia nemu di jalan. Udah dibawa ke dokter pagi-pagi, tapi kok katanya dari tadi diem aja.”

Hezakiel berjongkok di lantai, mendekatkan wajahnya pada kucing itu.

Tangannya menyentuh bulu halus Mpush dengan hati-hati. Gerakannya lembut, seperti seseorang yang sudah terbiasa memperlakukan makhluk kecil dengan penuh perhitungan.

“Badannya agak dingin,” gumamnya pelan. “Mungkin stres. Atau masih trauma.” Ia menatap Hero. “Dikasih makan apa?”

Hero menggaruk kepala. “Eh... belum dikasih makan, kayanya. Adik gue malah panik duluan.”

Hezakiel tersenyum tipis, lalu menatap kucing itu lagi. “Untung nggak kenapa-kenapa. Mungkin cuma butuh tenang. Kucing itu gampang takut kalo baru dibawa ke tempat baru.”

Ia berdiri, lalu menoleh ke Hero. “Ro, ambil kain hangat sama air putih dikit.”

“Oh, oke! Bentar ya, gue ambil di dapur.”

Hero bergegas, meninggalkan Hezakiel sendirian di ruang tamu bersama kotak kecil itu.

Suasana hening sesaat.

Hezakiel duduk di lantai, mengelus kepala kucing itu perlahan. “Hei, tenang ya, kecil. Kamu aman di sini.”

Nada suaranya begitu lembut, bahkan kucing itu mulai menggerakkan ekornya pelan, tanda merasa nyaman.

Tepat di saat itu, suara pintu kamar terbuka. Langkah kaki kecil terdengar dari lorong. Ansella keluar dari kamar dengan rambut masih basah, mengenakan kaus oversized dan celana pendek, sambil mengelap rambutnya dengan handuk.

Ia tertegun seketika begitu melihat siapa yang duduk di ruang tamu.

“Ka–Kak Zakiel?!?”

Hezakiel menoleh santai, menatapnya dari jauh.

Rambut basahnya, wajah kagetnya, dan nada suaranya yang setengah teriak. Pemandangan itu cukup membuatnya menahan tawa kecil.

“Lain kali, kalau manggil orang, pastiin udah siap dulu, Elle.”

Wajah Ansella langsung merah. “I-ih, Abang sih nggak bilang Kak Zakiel udah dateng!”

Dari dapur, Hero hanya berseru santai, “Tadi lo di kamar mandi! Masa abang harus ngetok pintu sambil bilang ‘Heza udah dateng’?!”

Hazekiel terkekeh pelan, lalu menatap Mpush lagi. “Dia udah agak tenang. Mungkin nanti butuh tempat tidur kecil atau selimut, biar hangat.”

Ansella, yang masih setengah malu, berjalan pelan mendekat. “B-boleh aku liat?”

Lihat selengkapnya