Astral Guardian

Marion Drossi
Chapter #1

Bisikan

Hei. Percayakah kau bahwa manusia bukan satu-satunya penghuni dunia ini?

Percayakah kau ada makhluk bersayap dan bertanduk yang berjalan di antara kalian, begitu dekat hingga napasnya bisa menyentuh tengkukmu?

Lalu, percayakah kau bahwa seorang manusia bisa melangkah ke dunia lain, dan pulang dengan jiwa yang tak lagi sepenuhnya miliknya?

 

Bisikan itu selalu datang pada jam-jam paling sunyi. Kadang menjelang subuh, ketika lampu jalan di luar jendela berkedip seperti mata yang mengantuk. Kadang lewat tengah malam, saat atap seng rumah tua di ujung Gang Pelabuhan berderak diterpa angin laut. Suaranya tidak pernah keras. Ia menyelinap seperti embusan napas di telinga, lalu lenyap sebelum sempat ditangkap.

Jeffrey Christensen mulai mendengarnya tak lama setelah pemakaman kedua orang tuanya, lima tahun silam. Mula-mula ia mengira itu hanya sisa duka yang belum mau pergi, semacam gema dari hari-hari ketika rumah masih penuh senandung ayahnya dan suara ibunya yang memanggil mereka makan. Namun, duka biasanya memudar seiring waktu. Bisikan itu justru semakin jelas.

Ia tidak pernah menceritakannya kepada siapa pun. Kepada siapa pula ia harus bercerita? Para tetangga sudah cukup sibuk dengan kesulitan masing-masing, dan Christine, adiknya, tidak perlu ditambahi beban dengan kisah seorang kakak yang mulai kehilangan akal. Maka Jeff menyimpannya sendiri, seperti ia menyimpan banyak hal lain: tagihan yang menumpuk di laci, perut yang lebih sering kosong daripada terisi, dan pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah ia ucapkan keras-keras.

Kalau memang ada sesuatu di luar sana, di mana mereka? Apa yang memisahkan kami dari mereka?

Ayahnya dulu sering berkata bahwa dunia ini jauh lebih luas daripada yang bisa dilihat mata. Mark Christensen mengucapkannya sambil menutup Alkitab tua di meja makan, dengan senyum yang membuat kalimat itu terdengar seperti janji alih-alih ancaman. Jeff kecil percaya. Jeff dewasa masih percaya, sebagian besar. Akan tetapi, percaya bahwa sesuatu itu ada tidak sama dengan mendengarnya memanggil namamu dalam gelap.

 

Pagi itu bisikan tidak datang. Yang datang lebih dulu adalah aroma roti yang dipanggang di atas wajan tanpa mentega.

Jeff berdiri di dapur sempit yang lantainya sudah retak di beberapa sudut, membalik dua potong roti dengan garpu yang gagangnya bengkok. Roti itu sisa kemarin, dibeli separuh harga dari toko Pak Hollis karena hampir lewat tanggal. Ia mengolesinya dengan selai stroberi terakhir, mengerik dasar toples sampai bunyinya nyaring, lalu menatanya di atas piring paling bagus yang mereka punya, yang retaknya hanya sedikit di pinggir.

Hanya satu piring. Hanya cukup untuk satu orang.

Hidup mereka sudah lama berjalan seperti itu. Jeff tidak punya pekerjaan tetap sejak pabrik pengalengan ikan di dermaga tutup dua tahun lalu. Ia mencari uang dengan cara apa saja yang tidak membuatnya malu menatap wajah ibunya di foto ruang tamu: mengangkut peti di pasar ikan saat ada yang butuh tenaga, membersihkan selokan rumah-rumah besar di bukit, dan yang paling sering, menyusuri jalan-jalan Grand Mare sejak fajar untuk memungut botol plastik, kaleng, dan kardus bekas, yang kemudian ia jual ke tempat daur ulang di ujung kota. Orang-orang menyebutnya pemulung. Jeff tidak keberatan. Ia lebih suka disebut pemulung daripada pencuri.

“Kakak, aku berangkat dulu, ya.”

Christine muncul di ambang pintu dapur dengan seragam Akademi Mother’s Heart yang sudah ia setrika semalam. Rambut cokelatnya yang sebahu disisir rapi, dan meski kerah kemejanya mulai menipis, ia tetap tampak bersih dan wangi sabun murah yang mereka beli sebulan sekali. Di usianya yang ketujuh belas, adiknya itu mewarisi lesung pipit ibu mereka, dan entah bagaimana juga mewarisi kemampuan sang ibu untuk tersenyum seolah dunia baik-baik saja.

“Berangkat? Sekarang?” Jeff mengangkat piring di tangannya. “Kau belum sarapan. Kakak sudah menyiapkan roti untuk...”

“Buat Kakak saja.” Chris tersenyum hangat. “Aku tidak terlalu lapar.”

“Tidak, Chris. Kau harus makan. Aku sudah sarapan lebih dulu tadi, sebelum kau ba...”

Perutnya menyela. Bunyinya panjang, keras, dan sama sekali tidak tahu malu, seperti engsel pintu tua yang dipaksa terbuka. Jeff membeku dengan mulut setengah menganga. Chris menatap perut kakaknya, lalu wajahnya, dan bibirnya bergetar menahan tawa.

“Itu bukan seperti yang kau pikirkan,” kata Jeff cepat. “Perutku justru kekenyangan. Jadi, dia sedang mencerna roti yang tadi kumakan, dan karena ada udara yang terperangkap di dalam, proses pencernaan itu menimbulkan getaran yang...”

“Kak.”

“...sangat ilmiah dan wajar.”

Chris akhirnya tertawa juga, tawa kecil yang ia sembunyikan di balik telapak tangan. “Aku bisa makan di sekolah. Uang yang Kakak berikan minggu lalu masih ada, kok. Masih cukup untuk beli roti di kantin.” Ia meraih tas kainnya yang sudah ditambal di dua tempat, lalu berjinjit mengecup pipi kakaknya. “Dah, Kak. Jangan lupa makan.”

Pintu depan berderit, lalu tertutup. Langkah adiknya menjauh di sepanjang gang berbatu, semakin samar, sampai hanya bunyi camar dan deru ombak di kejauhan yang tersisa.

Jeff berdiri lama di dapur dengan piring di tangan. Roti itu masih hangat. Selainya mulai meresap ke dalam serat roti, merah dan mengilat di bawah cahaya pagi yang masuk dari jendela berdebu.

Ada sesuatu yang naik ke tenggorokannya, panas dan sesak. Ia mengenali rasa itu. Rasa yang sama dengan yang datang di hari pemakaman, ketika dua peti kayu murah diturunkan ke dalam tanah basah dan Chris yang baru dua belas tahun menggenggam tangannya begitu erat sampai kuku-kukunya meninggalkan bekas. Di hari itu, Jeff berjanji kepada dirinya sendiri. Ia tidak akan menangisi keadaan. Ia akan menjadi kakak yang bisa diandalkan, tak peduli seberapa keras hidup memukulnya.

Maka ia menelan rasa itu bulat-bulat, menutup roti dengan piring lain agar tidak dihinggapi lalat, dan menyimpannya di lemari. Nanti sore Chris pulang. Nanti sore roti itu masih bisa dimakan.

 

Nah. Percayakah kau ada makhluk lain di dunia ini?

Jeff tersentak. Suara itu datang dari belakang telinganya, begitu dekat sampai ia nyaris merasakan embusan napas di kulitnya. Ia berbalik cepat. Dapur kosong. Hanya ada wajan di atas kompor, keran yang menetes, dan bayangannya sendiri di kaca jendela.

Biasanya ia akan menutup telinga dan menunggu. Biasanya bisikan itu pergi sendiri setelah beberapa saat, seperti tamu yang bosan karena pintu tak kunjung dibuka. Namun, pagi ini suara itu tidak pergi.

Lihat selengkapnya