Jeff mengira dirinya akan jatuh.
Ia sudah bersiap untuk itu: perut yang terangkat, angin yang merobek telinga, dan dasar entah apa yang akan menghantam tubuhnya di ujung sana. Akan tetapi, tidak ada yang jatuh. Kegelapan itu hanya menyelimutinya sesaat, dingin dan lembap seperti kain basah, lalu menyingkir begitu saja.
Dan ia berdiri di dalam kamarnya sendiri.
Jeff mengerjap. Kasur tipis beralaskan sarung lusuh itu masih tergelar di sudut, di bawah jendela yang kacanya ditambal dengan selotip. Pecahan cermin yang ia tempel di dinding masih memantulkan sebagian wajahnya. Bau apak dari atap yang bocor, tumpukan kardus yang belum sempat ia jual, sepasang sepatu bot karet di balik pintu. Semuanya sama persis dengan ketika ia meninggalkannya pagi tadi.
Ini lelucon. Pasti lelucon.
Ia memutar tubuh, mencari lubang hitam di belakangnya. Yang ada hanya dinding dengan cat mengelupas dan kalender tahun lalu yang tak pernah ia turunkan.
Kau berhasil.
“Berhasil apa?” Suara Jeff keluar lebih serak dari yang ia kira. “Aku cuma kembali ke kamarku. Kalau ini yang kau sebut dunia lain, kau harus memperbaiki seleramu.”
Tidak semua lubang membawamu pulang, Anak Muda. Kau memilih dengan baik.
Jeff tidak menanyakan ke mana tiga lubang lainnya akan membawanya. Namun ia sadar, ada pertanyaan yang lebih baik tidak dijawab.
Sebelum ia sempat berkata apa-apa lagi, udara di tengah ruangan bergetar. Lantai kayu berderak seolah menahan beban yang tiba-tiba diletakkan di atasnya, dan dari ketiadaan muncul sebuah koper hitam berbentuk persegi. Lebarnya kira-kira enam puluh sentimeter, tebalnya sejengkal, dengan sudut-sudut berlapis logam gelap yang tidak memantulkan cahaya. Tidak ada merek, tidak ada label. Hanya sebuah kunci kecil berbentuk bintang bersudut enam di bagian tengahnya.
“Ap... apa ini?”
Bukalah.
Jeff berlutut. Jarinya ragu-ragu menyentuh kunci itu, dan kunci itu berputar sendiri dengan bunyi klik yang lembut. Tutup koper terangkat perlahan.
Untuk beberapa saat, Jeff lupa cara bernapas.
Uang. Bertumpuk-tumpuk lembaran seratus dolar yang masih kaku dan berbau tinta, diikat rapi dengan pita kertas. Di sela-selanya, batangan-batangan emas berkilau kuning pucat, berat dan padat, tanpa cap bank mana pun. Jeff belum pernah memegang lebih dari dua puluh dolar sekaligus seumur hidupnya. Isi koper ini cukup untuk membeli seluruh Gang Pelabuhan, beserta para penghuninya.
Anggap saja itu uang muka. Tanda bahwa kontrak telah terjalin.
“Kontrak?” Jeff menarik tangannya dari koper seolah benda itu panas. “Kontrak apa? Aku tidak menandatangani apa pun.”
Kau melangkah melewati lubang itu atas kehendakmu sendiri. Di dunia kami, langkah adalah tanda tangan.
“Itu tidak adil.”
Keadilan adalah kata yang sangat manusiawi. Dengarkan baik-baik, karena aku tidak suka mengulang. Nada suara itu berubah, lebih datar, seperti seorang juru tulis yang membacakan pasal-pasal. Mulai hari ini, kau bekerja sebagai Astral Guardian di dimensi astral. Tugasmu adalah menertibkan para arwah yang membangkang terhadap aturan dunia kami, dan memburu mereka yang berkeliaran seenaknya di dunia manusia. Kontrak ini tidak dapat dibatalkan. Jika kau menolak menjalankan tugas, jiwamu bisa kuambil kapan saja.
Jeff menelan ludah. “Kau... mengancamku.”
Aku memberitahumu. Itu berbeda. Lalu, seolah tak tahan lagi menahan gembira, suara itu tertawa. Bersyukurlah, Anak Muda! Yang Agung telah memilihmu di antara jutaan manusia. Beliau memberimu anugerah yang bahkan tak berani diimpikan oleh raja-raja kalian. Hidupmu akan berubah dalam semalam!
Tawa itu memantul di dinding-dinding kamar yang sempit, lama sekali, sebelum akhirnya surut.
Jeff duduk bersandar pada kasur, menatap koper yang terbuka. Separuh dirinya masih menolak percaya. Mungkin ia tertidur di dapur setelah terpeleset, dan semua ini hanya mimpi demam. Namun, separuh lainnya, separuh yang lebih jujur, tahu bahwa ia baru saja berpindah dari persimpangan Jalan Lindell ke kamarnya dalam satu langkah. Lutut celananya masih basah oleh aspal. Pipinya masih lengket oleh air mata yang mengering.
Dan kalau semua ini nyata, maka uang itu juga nyata.
Ia membayangkan Chris masuk ke ruang tata usaha akademi dan meletakkan amplop tebal di atas meja wanita berkacamata itu. Ia membayangkan adiknya membeli roti di kantin tanpa harus menghitung koin. Ia membayangkan gadis pirang itu tidak lagi punya alasan untuk tertawa.
“Berapa lama?” tanyanya akhirnya. “Kontrak ini. Berapa lama aku harus bekerja untuk kalian?”
Cukup lama untuk membuatmu terbiasa.
“Itu bukan jawaban.”
Itu satu-satunya jawaban yang akan kau dapat hari ini.
“Lalu siapa kau? Setidaknya beri tahu namamu.”
Kau akan melihat wajahku sebentar lagi. Bersabarlah. Kesabaran adalah kebajikan yang bahkan kami hargai.
Sesuatu berdenting di lantai, tepat di depan lututnya. Sebuah cincin.
Jeff memungutnya. Cincin itu terbuat dari perak yang sudah agak kusam, dengan sebutir batu hitam kecil di tengahnya, sehitam lubang-lubang di persimpangan tadi. Di sekeliling batu itu terukir garis-garis halus yang membentuk bintang bersudut enam, dua segitiga yang saling menembus. Logamnya dingin, jauh lebih dingin daripada seharusnya, seolah baru diangkat dari dasar sumur.
“Untuk apa ini?”
Kenakan.
“Di mana?”
Jari manis tangan kirimu. Di tempat manusia biasa mengenakan janji mereka.