Astral Guardian

Marion Drossi
Chapter #3

Harga Sebuah Pagi

Restoran Vellaine berdiri di sudut paling ramai distrik Bornwell, di antara butik-butik berjendela kaca tinggi dan toko perhiasan yang pintunya dijaga lelaki bersetelan gelap. Jeff sudah ratusan kali melewatinya. Biasanya pada pagi buta, ketika lampu-lampu kristal di dalamnya masih padam dan tempat sampah besar di gang belakangnya penuh dengan botol anggur kosong yang bisa ia jual. Ia tak pernah sekali pun melewati pintu depannya.

Pagi ini ia melewatinya, dengan Chris di sampingnya, dan seluruh ruangan seolah menahan napas.

Mereka tahu bagaimana penampilan mereka. Jaket Jeff sudah pudar di bagian siku, dan celana panjangnya masih menyisakan noda aspal dari persimpangan kemarin. Chris mengenakan gaun terbaiknya, gaun biru muda peninggalan ibu mereka yang sudah dijahit ulang dua kali agar pas di badannya. Di tengah ruangan yang penuh taplak putih, gelas berkaki tinggi, dan para pengunjung yang wanginya bisa tercium dari tiga meja jauhnya, mereka tampak seperti dua ekor burung pipit yang tersesat ke dalam sangkar merak.

Seorang pelayan menghampiri dengan senyum yang terlalu kaku. “Selamat pagi. Apakah Tuan sudah memesan tempat?”

“Belum,” jawab Jeff. “Apa harus?”

Pelayan itu melirik sepatu kanvas Jeff, lalu melirik ke arah meja-meja yang setengahnya kosong. “Kami... sedang cukup penuh pagi ini.”

Jeff mengikuti arah pandangannya ke meja-meja kosong itu, lalu kembali menatap si pelayan. Ia tidak marah. Ia terlalu lapar untuk marah. Dengan tenang, ia mengeluarkan seikat uang dari saku jaketnya, melepas selembar seratus dolar, dan menyelipkannya ke saku depan seragam si pelayan.

“Meja di dekat jendela itu sepertinya kosong,” katanya.

Senyum pelayan itu berubah dalam sekejap, dari kaku menjadi lebar, seolah seseorang baru saja memutar tombol di belakang kepalanya. “Tentu saja, Tuan. Silakan, silakan.”

Chris menarik lengan jaket kakaknya ketika mereka berjalan. “Kak,” bisiknya, “itu seratus dolar.”

“Aku tahu.”

“Itu uang belanja kita sebulan.”

“Itu uang belanja kita sebulan yang lalu.” Jeff menarik kursi untuk adiknya. “Duduklah. Pesan apa saja yang kau mau.”

 

Jeff memesan steik. Lalu ia memesan steik lagi.

Ia tidak bermaksud makan sebanyak itu. Ia hanya ingin mengisi perutnya sampai cukup, seperti orang normal. Namun, setiap kali piringnya kosong, lapar itu kembali mencakar dari dalam, lebih buas daripada sebelumnya, seolah tubuh barunya adalah tungku yang terus menuntut kayu bakar. Daging, roti, kentang tumbuk, sup jamur, semuanya lenyap ke dalam mulutnya dengan kecepatan yang membuat pelayan di meja sebelah berhenti menuang anggur dan menatap.

Ini pasti karena hibernasi itu, pikirnya sambil memotong steik ketiganya. Tubuh ini butuh bahan bakar sebanyak-banyaknya.

Chris makan dengan pelan. Ia memesan omelet keju yang paling sederhana di menu dan memotongnya kecil-kecil, mengunyah setiap suapan lama sekali seakan takut makanan itu akan direbut darinya. Sesekali ia melirik ke sekeliling, dan Jeff tahu apa yang dilihat adiknya. Bisik-bisik di balik serbet linen. Seorang wanita bertopi lebar yang menatap mereka dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sepasang lelaki tua yang tertawa kecil sambil menunjuk sepatu Jeff dengan dagu.

“Chris,” kata Jeff, menyadari adiknya belum menghabiskan separuh piringnya. “Ada apa? Makanlah yang banyak. Kau tidak perlu memikirkan soal uang itu. Sudah kubilang, ini bukan uang haram.”

“Bukan itu, Kak.” Chris menunduk. “Mereka semua melihat kita.”

“Biarkan saja.”

“Mereka melihat kita seperti... seperti kita tidak pantas berada di sini.”

Jeff berhenti mengunyah. Ia memandang berkeliling, dan kali ini ia benar-benar memperhatikan. Tatapan-tatapan itu tidak jahat, kebanyakan. Hanya heran dan sedikit jijik, seperti orang yang melihat noda di taplak putih. Ia mengenal tatapan itu. Ia sudah menerimanya setiap hari selama lima tahun, dari balik jendela-jendela rumah besar yang selokannya ia bersihkan, dari para pejalan kaki yang menyingkir ketika ia lewat membawa karung berisi botol.

Bedanya, kemarin ia tak punya apa-apa untuk membalas tatapan itu. Hari ini, ia punya.

Ia mengangkat tangan. “Pelayan.”

Pelayan yang tadi bergegas datang. “Ya, Tuan?”

“Steik lagi. Yang paling besar.” Jeff mengeluarkan beberapa ikat uang dan meletakkannya di atas taplak, cukup keras sehingga bunyinya terdengar dua meja jauhnya. “Dan ini untuk semua yang sudah kami makan, ditambah yang akan kami makan. Sisanya untukmu.”

Bisik-bisik di sekitar mereka berhenti. Si pelayan menatap tumpukan uang itu, lalu menatap Jeff, lalu mengangguk berkali-kali sebelum berlari ke dapur. Dua pelayan lain menyusul tak lama kemudian, membawakan air, roti hangat, mentega dalam mangkuk perak kecil, dan senyum-senyum yang begitu manis hingga nyaris lengket. Wanita bertopi lebar itu mendadak menemukan sesuatu yang sangat menarik di dalam cangkir tehnya.

Jeff bersandar di kursinya. Ia seharusnya merasa puas. Namun, yang ia rasakan justru getir yang aneh, seperti menggigit buah yang tampak ranum tetapi busuk di bagian tengahnya.

Kemarin aku orang yang sama. Kemarin aku juga lapar. Bedanya hanya kertas-kertas ini.

“Kak,” suara Chris pelan sekali. “Apa ini tidak berlebihan?”

Jeff menatap adiknya. Lalu ia menatap tumpukan uang di atas meja, dan para pelayan yang membungkuk-bungkuk, dan bayangannya sendiri di kaca jendela yang kini tampak seperti orang asing berbahu lebar.

“Mungkin,” jawabnya jujur. “Tapi aku benar-benar lapar, Chris. Rasanya seperti aku belum makan berminggu-minggu.”

Chris memandanginya lama, lalu mendorong separuh omeletnya ke piring kakaknya tanpa berkata apa-apa. Itu kebiasaan lama mereka, kebiasaan yang biasanya berjalan ke arah sebaliknya. Jeff tertawa kecil, dan memakannya.

 

Ruang tata usaha Akademi Mother’s Heart berbau kertas tua dan kopi basi. Wanita berkacamata itu, Bu Greaves, menurut papan nama kecil di mejanya, mendengarkan Jeff dengan alis yang semakin lama semakin tinggi.

“Seluruh tunggakan,” ulangnya. “Enam bulan.”

“Dan satu tahun ke depan,” tambah Jeff. “Sekalian.”

Lihat selengkapnya