Hal pertama yang Jeff sadari adalah keheningan.
Bukan keheningan kamar tidur pada tengah malam, ketika kulkas masih berdengung dan anjing tetangga sesekali menggonggong. Ini keheningan yang lain, tebal dan berat, seperti udara di dasar sumur tua. Tidak ada angin. Tidak ada serangga. Bahkan detak jantungnya sendiri terdengar terlalu nyaring, seolah ia satu-satunya makhluk hidup yang berani bersuara di tempat itu.
Lalu ia membuka mata, dan langit menyambutnya dengan warna yang salah. Langit itu tidak hitam, tidak pula biru tua. Warnanya ungu kelabu, seperti memar yang lama tidak sembuh, dan di tengahnya menggantung sebuah bulan yang terlalu besar. Bulan itu berwarna jingga yang pucat dan sakit, seperti buah persik yang mulai membusuk. Cahayanya jatuh ke mana-mana tanpa memberi kehangatan sedikit pun.
Jeff berdiri di atas tanah retak yang membentang sejauh mata memandang. Tanah itu kering dan berdebu, kelabu kemerahan, ditumbuhi semak-semak hitam yang rantingnya bengkok seperti jari orang tua. Di kejauhan, bukit-bukit rendah berbaris dalam bayangan, dan lebih jauh lagi, di garis cakrawala, berdiri sesuatu yang menyerupai menara. Atau mungkin gunung. Dari jarak sejauh ini sulit dipastikan.
“Selamat datang di Dunia Arwah, Anak Muda.”
Azazael berdiri beberapa langkah di belakangnya. Di bawah bulan jingga itu kulit merahnya tampak lebih gelap, hampir cokelat, dan kedua tanduknya memantulkan cahaya seperti tembikar yang baru dibakar. Ia merentangkan kedua lengannya lebar-lebar, seperti pemilik rumah yang memamerkan taman kepada tamunya.
“Indah, bukan?”
“Itu bukan kata yang akan kupilih,” gumam Jeff.
Ia menunduk memandangi tubuhnya. Jaket lusuh, kaus kelabu, celana jin yang lututnya sudah menipis. Sepatu kets yang solnya hampir lepas. Ia masih Jeff yang sama yang meninggalkan sofa di Rosehill beberapa detik lalu. Atau beberapa jam lalu. Ia tidak yakin waktu berjalan dengan cara yang sama di sini.
Chris pasti sudah tidur sekarang, pikirnya. Atau sedang menangis di kamarnya, mengira aku naik bus malam ke Rollmount.
Ia menelan ludah dan memaksa pikiran itu pergi. Tidak ada gunanya, sebab ia sudah memilih.
“Jadi,” katanya, memasukkan kedua tangan ke saku jaket supaya tidak terlihat gemetar, “di mana kantornya? Apa ada meja? Kartu absen? Atau aku langsung disuruh menyapu halaman?”
Azazael tertawa. Tawanya bergulung panjang dan berat, tetapi anehnya tidak bergema sama sekali, seolah tanah gersang itu menelan setiap suara yang jatuh ke atasnya. “Aku suka kau, Anak Muda. Sungguh. Kebanyakan manusia yang berdiri di tempatmu sekarang menangis, atau berdoa, atau mengompol. Kau malah menanyakan kartu absen.”
“Aku pernah bekerja di pabrik pengalengan. Mandornya lebih menakutkan daripada kau.”
“Oh, aku sangat meragukan itu.”
Azazael melangkah melewatinya. Kuku-kukunya yang panjang dan hitam berdetak pelan setiap kali jemarinya bergerak, seperti seseorang yang mengetuk-ngetuk meja sambil menunggu. “Dark Castle ada di sana,” ia menunjuk menara di cakrawala itu, “dan Yang Agung sudah menunggumu. Tapi sebelum aku membawamu menghadap, ada baiknya kau tahu dulu untuk apa kau dibayar.”
“Kau sudah menjelaskannya. Memburu arwah yang membangkang. Menjaga keseimbangan, atau apa pun istilahnya.”
“Menjelaskan dan menunjukkan adalah dua hal yang berbeda.” Azazael berhenti, lalu menoleh ke kiri, ke sebuah cekungan dangkal di antara semak-semak hitam. Senyumnya melebar sampai deretan giginya yang runcing terlihat. “Dan kebetulan sekali, pelajaran pertamamu sudah datang sendiri.”
Jeff mengikuti arah pandangnya.
Mula-mula ia tidak melihat apa-apa selain debu yang berputar pelan. Lalu debu itu memadat menjadi bentuk-bentuk samar, dan bentuk-bentuk samar itu menjadi sosok. Ada empat sosok, empat lelaki tua yang berjalan beriringan dengan langkah terseret, kepala tertunduk, bahu membungkuk. Pakaian mereka seperti diambil dari zaman yang berbeda-beda: yang seorang memakai mantel wol panjang, yang lain kemeja flanel kotak-kotak, yang ketiga jas lusuh dengan bunga kering di saku dada, dan yang terakhir hanya mengenakan piama bergaris. Tubuh mereka tembus pandang, seperti asap yang dipaksa mengingat bentuk manusia.
“Arwah,” bisik Jeff.
“Arwah,” Azazael membenarkan dengan nada puas, seperti guru yang muridnya akhirnya menjawab dengan benar. “Orang-orang yang mati tapi menolak pergi. Mereka seharusnya berjalan terus ke Afterlife untuk menunggu penghakiman. Tapi sebagian dari mereka keras kepala. Mereka berputar-putar di sini, mencari jalan pulang ke dunia yang sudah tidak menginginkan mereka.”
Lelaki tua yang berpiama mengangkat kepalanya. Matanya kosong, abu-abu seperti air cucian, dan bibirnya bergerak-gerak tanpa suara.
Jeff tidak tahu mengapa, tapi dadanya terasa sesak. Lelaki itu mengingatkannya pada Pak Hollis, si penjual roti, yang setiap pagi menyapanya dengan “Pagi, Nak Jeff” meski Jeff hanya membeli dua potong roti paling murah.
“Mereka kelihatan... tersesat,” katanya pelan. “Bukan membangkang.”
“Tersesat, membangkang. Di dunia kami, keduanya sama saja.” Azazael menepuk bahunya. Tangannya terasa panas, seperti batu yang dijemur seharian. “Bawa mereka ke Afterlife, Anak Muda. Itu tugas pertamamu.”
“Bagaimana caranya?”
“Kau akan tahu.”
“Itu bukan jawaban.”
“Itu jawaban terbaik yang akan kau dapatkan malam ini.”
Azazael mundur beberapa langkah, lalu duduk di atas sebongkah batu seperti penonton yang sudah membeli tiket kursi terdepan. Ia menyilangkan kaki dan menopang dagu dengan satu tangan.
Jeff menatapnya, lalu menatap keempat arwah itu, lalu kembali menatap Azazael. Bagus. Hari pertama kerja, tanpa pelatihan, tanpa seragam, dan bosku menonton sambil bertopang dagu. Ia menghela napas, lalu berjalan mendekati cekungan itu dengan kedua tangan terangkat setinggi dada, telapak terbuka, seperti seseorang yang mendekati anjing liar.
“Permisi,” katanya. Suaranya terdengar konyol bahkan di telinganya sendiri. “Bapak-bapak? Maaf mengganggu. Namaku Jeff. Aku... eh, aku ditugaskan untuk mengantar kalian. Ke tempat yang lebih baik. Kurasa.”
Keempat arwah itu berhenti berjalan. Serentak, mereka mengangkat kepala. Lelaki bermantel wol membuka mulutnya, dan suara yang keluar bukan suara manusia. Suara itu seperti engsel pintu tua yang dipaksa membuka, panjang dan melengking, lalu pecah menjadi geraman.
“...pulang...”
“Ya,” kata Jeff cepat. “Ya, betul, pulang. Aku bisa membantu...”
“...PULANG...”
Udara di sekitar cekungan itu bergetar. Debu terangkat dari tanah dan berputar seperti pusaran kecil. Tubuh-tubuh tembus pandang itu mulai menggelap dari dalam, seperti kertas yang terbakar dari tengah. Asap menjadi bayangan, bayangan menjadi sesuatu yang padat. Bahu-bahu yang bungkuk itu membengkak dan melebar. Jari-jari keriput memanjang menjadi cakar. Dan dari dahi masing-masing, menembus rambut putih yang tipis, tumbuh tanduk-tanduk hitam yang bengkok seperti akar pohon mati.
Dalam hitungan detik, keempat lelaki tua yang tersesat itu sudah lenyap. Yang berdiri di hadapan Jeff kini adalah makhluk-makhluk setinggi dua meter lebih, berkulit hitam legam seperti aspal basah, dengan mata yang menyala merah.
“Oh,” kata Jeff. “Oh, tidak.”
“Ah, ya, aku lupa menyebutkan,” seru Azazael dari batunya, riang seperti orang yang menonton sirkus. “Arwah yang terlalu lama menolak pergi akan berubah menjadi iblis. Kemarahan, kau tahu. Kemarahan itu memakan mereka dari dalam.”
“Kau lupa menyebutkannya?”