Dari dekat, Dark Castle tidak tampak seperti bangunan yang didirikan, tapi justru seperti sesuatu yang tumbuh.
Tembok-temboknya hitam berkilat, seperti batu obsidian yang dipoles hujan, dan menjulang begitu tinggi hingga puncaknya hilang ditelan langit ungu kelabu. Menara-menaranya runcing dan bengkok, saling melilit seperti duri pada batang mawar raksasa, dan di setiap puncaknya menyala api merah yang tidak pernah berkedip. Tidak ada jendela yang tampak dari luar. Hanya celah-celah sempit yang memancarkan cahaya jingga redup, seperti mata yang menyipit mengawasi siapa pun yang datang.
Lubang hitam yang dibuka Azazael mengantarkan mereka ke ujung sebuah jembatan batu panjang. Di bawah jembatan itu terbentang jurang yang begitu dalam hingga Jeff tidak bisa melihat dasarnya, hanya kabut kelabu yang bergulung pelan seperti napas raksasa yang sedang tidur.
“Kenapa tidak langsung ke dalam?” tanya Jeff. Suaranya terdengar kecil di bawah tembok-tembok itu. “Kau bisa membuka pintu di mana saja, kan?”
“Bisa,” jawab Azazael sambil mulai berjalan. “Tapi tidak di sini. Tidak seorang pun boleh masuk ke Dark Castle dengan melompati ruang. Bahkan aku. Siapa pun yang ingin menghadap Yang Agung harus berjalan kaki melewati gerbang, seperti peziarah yang rendah hati.”
“Kau tidak kelihatan rendah hati.”
“Aku sedang berusaha, Anak Muda. Hargailah usahaku.”
Jembatan itu panjang sekali. Langkah sepatu bot Jeff berdentang di atas batu, dan setiap dentangnya seakan dihitung oleh sesuatu yang bersembunyi di dalam kabut. Ia berusaha tidak menoleh ke bawah. Di sisi kiri pinggangnya, kapak bergagang naga itu tergantung dengan berat yang menenangkan.
Gerbang Dark Castle setinggi gedung lima belas lantai. Daun pintunya terbuat dari logam hitam yang dipahat dengan ribuan sosok kecil, tubuh-tubuh yang saling bertumpuk dan menjulurkan tangan ke atas, seolah berusaha memanjat keluar dari pintu itu sendiri. Jeff memilih tidak memperhatikannya terlalu lama.
Di depan gerbang berdiri empat penjaga. Mereka bertubuh tinggi dan ramping, berbalut zirah kelabu yang menutupi segalanya kecuali wajah. Dan wajah mereka, Jeff menyadari dengan perut yang mengencang, hampir tidak bisa disebut wajah. Tidak ada hidung, tidak ada mulut. Hanya sepasang mata besar yang bulat dan bening, seperti kelereng kaca, menempati hampir seluruh permukaan kepala mereka.
Sepasang penjaga melangkah maju menghampiri Azazael, sementara pasangan yang lain menghampiri Jeff.
Jeff menunggu mereka menggeledahnya. Meraba sakunya, memeriksa kapaknya, menyuruhnya melepas sepatu, atau apa pun yang biasa dilakukan petugas keamanan di dunia manusia. Tapi kedua penjaga itu hanya berdiri diam di hadapannya, dan menatap.
Jeff membalas tatapan itu sesaat, lalu membuang muka. Ada yang tidak nyaman dari mata-mata itu. Rasanya seperti ditelanjangi.
“Tatap kami.”
Suara itu tidak keluar dari mulut, karena penjaga itu memang tidak punya mulut. Suara itu langsung terdengar di dalam kepala Jeff, datar dan dingin.
“Kenapa aku harus...”
“Begitulah cara mereka memeriksa, Anak Muda,” sela Azazael tanpa menoleh. Kedua penjaganya sudah mundur dan memberi hormat. “Mereka membaca niat lewat mata. Siapa pun yang membawa maksud buruk ke dalam istana akan ketahuan sebelum kakinya menyentuh ambang pintu. Tidak ada yang bisa berbohong kepada mereka. Tidak manusia, tidak arwah, bahkan tidak iblis.”
“Hebat,” gumam Jeff. “Jadi aku harus menyebut mereka apa? Orang? Petugas?”
“Sebut saja sesukamu. Mereka tidak peduli.”
Jeff menarik napas dan menatap mata penjaga di hadapannya. Mata itu jernih seperti air di dasar sumur. Mula-mula ia hanya melihat pantulan wajahnya sendiri di permukaannya, kecil dan melengkung. Lalu pantulan itu bergeser. Ia melihat dirinya berdiri di depan rumah di Rosehill. Melihat dirinya menyusuri jembatan batu tadi, menengok ke kiri dan kanan, mengukur jarak ke tepi, menghitung berapa langkah yang dibutuhkan untuk berlari kembali. Melihat dirinya, beberapa menit lalu, membayangkan dengan sangat jelas bagaimana rasanya mengayunkan kapak ke arah Azazael lalu melompat ke dalam kabut.
Penjaga itu mengedip.
“Ia tidak boleh masuk.”
Azazael berhenti melangkah. “Oh?”
“Ia berniat kabur,” kata penjaga itu di dalam kepala mereka semua. “Dan membuat onar, bila ada kesempatan.”
Jeff merasakan wajahnya memanas. Ia ingin membantah, tapi bagaimana membantah sesuatu yang memang benar?
Di luar dugaannya, Azazael malah tertawa. Tawanya meledak panjang dan bergulung, memantul dari daun pintu logam itu dan membuat sosok-sosok kecil yang terpahat di sana seolah ikut bergetar. “Tentu saja ia berniat kabur! Ia manusia. Ia baru saja diseret ke dunia yang tidak ia pahami, dipukuli empat iblis sampai rusuknya patah, dan sekarang disuruh menghadap penguasa dunia ini. Kalau ia tidak berniat kabur, barulah aku khawatir.”
“Tetapi...”
“Biarkan ia masuk.” Nada Azazael tidak berubah, masih riang, masih ringan. Namun ada sesuatu di bawahnya yang membuat kedua penjaga itu menegakkan punggung. “Ini perintah langsung dari Yang Agung. Kau ingin menjelaskan kepadanya mengapa Guardian barunya tertahan di depan pintu?”
Penjaga-penjaga itu saling bertukar pandang. Atau mungkin tidak. Sulit memastikan ke mana mata sebesar itu memandang.
“Silakan masuk.”
Gerbang raksasa itu terbuka tanpa suara. Di baliknya terbentang sebuah pelataran yang begitu luas hingga Jeff bisa membayangkan seluruh Gang Pelabuhan, lengkap dengan pabrik pengalengan dan pasar ikannya, muat di dalamnya dengan sisa ruang untuk lapangan sepak bola. Dan pelataran itu penuh.
Prajurit. Ribuan prajurit iblis berbaris rapi dari gerbang sampai ke tangga istana di ujung sana, berdiri dalam barisan-barisan yang lurus seperti garis penggaris. Ada yang bertubuh raksasa dengan kulit sekeras batu, ada yang kurus dan bersisik dengan ekor bercabang, ada yang bersayap kelelawar dan bertengger di atas pilar-pilar. Mereka memegang tombak, pedang lengkung, gada berduri, busur panjang. Tidak satu pun bergerak. Tidak satu pun bersuara. Namun ketika Jeff melangkah masuk, ribuan pasang mata menoleh kepadanya pada saat yang bersamaan, dengan bunyi gemeresik zirah yang menyerupai ombak menyapu kerikil.
Jeff menelan ludah.
“Bagaimana?” bisik Azazael di sampingnya, jelas sangat menikmati semua ini. “Masih ingin kabur?”
“Kurasa tidak hari ini,” jawab Jeff. “Mungkin besok.”
Azazael tertawa lagi.
Aula singgasana Dark Castle dingin seperti gua es, meski di sepanjang dindingnya menyala obor-obor besar dengan api berwarna merah tua. Pilar-pilar hitam berjajar di kedua sisi, masing-masing begitu lebar hingga sepuluh orang dewasa tidak akan mampu memeluknya. Lantainya licin seperti cermin gelap, dan Jeff bisa melihat bayangannya sendiri berjalan terbalik di bawah kakinya.
Di ujung aula, di atas tangga yang terdiri dari tiga belas anak tangga, berdirilah sebuah singgasana dari batu hitam. Dan di atas singgasana itu, duduk Abaddon.
Jeff pernah melihat gambar-gambar iblis di buku-buku tua ayahnya. Ia pernah melihat patung-patung gargoyle di atap gereja tua di kota lama. Ia bahkan sudah melihat Azazael, yang dengan kulit merah dan tanduknya cukup untuk membuat siapa pun menjerit. Tapi tidak ada satu pun dari semua itu yang mempersiapkannya untuk sosok di atas singgasana.
Abaddon besar. Bukan hanya tinggi atau lebar, melainkan besar sehingga membuat ruangan di sekitarnya tampak mengecil. Kulitnya hitam pekat, bukan hitam seperti arang atau tinta, tapi hitam seperti ketiadaan, seolah cahaya obor yang menyentuhnya langsung tertelan dan tidak pernah kembali. Tiga tanduk mencuat dari kepalanya, dua melengkung ke samping seperti tanduk kerbau, dan satu lagi lurus ke atas dari tengah dahinya, panjang dan tajam seperti tombak. Ia mengenakan jubah merah darah yang menjuntai dari bahunya sampai ke anak tangga. Dan di keningnya, tepat di bawah tanduk ketiga, menyala sebuah heksagram merah, berdenyut perlahan seperti jantung yang berdetak.
Di kiri dan kanan singgasana berdiri barisan pengawal bersenjata tombak. Ujung-ujung tombak mereka berkilau, dan semuanya, Jeff menyadari, mengarah kepadanya.
Azazael menekuk satu lutut dan menundukkan kepala dalam-dalam. Lalu ia melirik Jeff, dan desisannya nyaris tak terdengar.
“Berlutut, bodoh. Dan sapa Yang Mulia dengan sopan.”
Jeff menurunkan dirinya ke lantai yang dingin itu dengan lutut kaku. “Jadi itu dia?” bisiknya balik. “Dewa yang kalian sebut-sebut?”
“Namanya Abaddon. Tapi jangan pernah sekali pun mengucapkan nama itu di hadapannya. Panggil dia Yang Mulia. Atau Yang Agung. Mengerti?”