Astral Guardian

Marion Drossi
Chapter #6

Afterlife

Hari kedua Jeff sebagai Astral Guardian dimulai tanpa matahari. Di Dunia Arwah memang tidak pernah ada matahari. Hanya bulan jingga yang sama, menggantung di tempat yang sama, dengan cahaya pucat yang sama. Jeff menyadari bahwa satu-satunya cara untuk mengetahui pergantian hari di sini adalah dengan menghitung berapa kali ia tertidur. Dan semalam ia hampir tidak tidur sama sekali.

Kalimat-kalimat dari Kitab Para Iblis terus berputar di kepalanya. Santapan. Dilenyapkan. Setiap kali ia memejamkan mata di ranjang bertiang empat itu, ia melihat wajah lelaki tua berpiama, mendengar suaranya yang serak berterima kasih, lalu membayangkan wajah itu di hadapan singgasana, di bawah mata Abaddon yang menyala seperti tungku.

Pagi itu, kalau memang bisa disebut pagi, Azazael mengetuk pintunya hanya untuk menyampaikan satu kalimat. “Ada arwah yang berkeliaran di sebelah timur, Anak Muda. Pergilah sendiri. Anggap saja ujian.”

Lalu iblis itu lenyap lagi sebelum Jeff sempat bertanya apa pun. Maka di sinilah ia sekarang, berjalan sendirian menyusuri padang gersang dengan mantel hitam berkibar di belakangnya dan kapak tergantung di pinggang. Debu kelabu kemerahan menempel di sepatu botnya. Semak-semak hitam berderak setiap kali ia lewat, seperti tulang-tulang kecil yang patah.

Sesekali ia berhenti, menegakkan punggung, dan memejamkan mata.

“Sayap,” katanya. “Keluarlah.”

Tidak ada apa-apa.

“Sayap, mengembang.”

Tetap tidak ada apa-apa.

“Tolong?”

Seekor makhluk kecil menyerupai kadal bersayap, yang sejak tadi bertengger di atas batu dan mengamatinya, mengeluarkan bunyi seperti cegukan. Jeff bersumpah makhluk itu sedang menertawakannya.

“Kau juga tidak akan bisa kalau tidak diajari,” gerutunya, lalu kembali berjalan.

 

Ia menemukan mereka di dekat sebuah batu besar yang bentuknya menyerupai gigi geraham raksasa.

Ada enam. Kali ini bukan lelaki tua, tapi anak-anak. Usia mereka barangkali sembilan atau sepuluh tahun, berdiri bergerombol dengan bahu yang saling menempel seperti anak-anak ayam yang kedinginan. Mereka mengenakan seragam sekolah yang sama, kemeja putih dan celana atau rok biru tua, dengan dasi kecil bergaris yang miring di leher. Beberapa masih menyandang tas punggung. Salah seorang anak perempuan memeluk kotak bekal berwarna merah muda bergambar kelinci.

Jeff berhenti beberapa meter dari mereka, dan untuk sesaat ia tidak sanggup melangkah lagi.

Ia tidak perlu bertanya apa yang terjadi pada mereka. Seragam yang sama, usia yang sama, kebingungan yang sama di wajah-wajah kecil itu. Ia ingat, dua atau tiga bulan lalu, ada berita di radio tua tetangga mereka di Gang Pelabuhan, bahwa sebuah bus sekolah tergelincir di jalan pegunungan yang licin karena hujan. Ia ingat Chris mematikan radio itu karena tidak tahan mendengarnya.

“Hai,” katanya. Suaranya keluar lebih serak daripada yang ia inginkan. Ia berdeham dan mencoba lagi. “Hai, semuanya.”

Enam pasang mata menoleh kepadanya. Mata-mata itu hitam seluruhnya, seperti kancing baju.

“Apa kalian tersesat? Lupa jalan ke sekolah?”

Tidak ada jawaban. Anak perempuan dengan kotak bekal itu memeluk kotaknya lebih erat.

Bodoh, pikir Jeff. Tentu saja mereka tidak lupa jalan ke sekolah. Mereka lupa bahwa mereka tidak akan pernah sampai ke sana lagi.

Ia berlutut perlahan, menurunkan dirinya sampai sejajar dengan mata mereka, seperti yang dulu selalu ia lakukan setiap kali Chris kecil menangis karena lututnya terluka.

“Dengar,” katanya lembut. “Namaku Jeff. Aku tahu kalian takut. Aku juga takut, sebenarnya. Tempat ini menyeramkan, ya? Langitnya aneh, bulannya aneh, dan kadal-kadal di sini suka menertawakan orang.”

Seorang anak lelaki berkacamata, yang paling depan, mengedip.

“Tapi kalian tidak bisa tinggal di sini terus,” lanjut Jeff. “Ada tempat lain yang harus kalian tuju. Tempat di mana kalian bisa beristirahat. Aku bisa mengantar kalian ke sana, kalau kalian mau.”

“...Mama...”

Suara itu kecil sekali, nyaris hanya embusan. Datangnya dari anak perempuan berkotak bekal.

Jeff merasakan sesuatu mencengkeram dadanya. “Aku tahu,” katanya. “Aku juga rindu ibuku.”

“...MAMA...”

Bumi di bawah kaki mereka bergetar. Jeff sudah melihat ini sebelumnya, tapi itu tidak membuatnya lebih mudah. Tubuh-tubuh kecil itu menggelap dari dalam. Seragam-seragam putih itu menghitam seperti kertas yang dibakar. Bahu-bahu mungil membengkak, jari-jari memanjang, dan dari dahi-dahi yang seharusnya hanya mengenal sentuhan tangan ibu, tumbuh tanduk-tanduk hitam yang melengkung.

Dalam hitungan detik, keenam anak itu menjelma makhluk setinggi orang dewasa, berkulit hitam, bermata merah. Hanya ukuran mereka yang sedikit lebih kecil daripada iblis-iblis di padang kemarin. Itu saja yang tersisa dari siapa mereka dulu.

Salah satu makhluk itu masih memegang kotak bekal merah muda bergambar kelinci.

“Tidak,” bisik Jeff, bangkit perlahan. Tangannya menemukan gagang kapak di pinggangnya. “Tidak, tidak, tidak. Aku tidak mau melakukan ini.”

Makhluk pertama menerjang. Jeff menghindar ke samping dan membiarkannya lewat. Ia tidak mengayunkan kapaknya. Makhluk kedua menyusul, dan ia melompat mundur, lebih tinggi dan lebih jauh daripada yang mampu dilakukan manusia biasa, mendarat di atas batu geraham raksasa itu.

Kepala dan tanduk, suara datar itu berbisik di benaknya. Patahkan tanduknya.

“Aku tahu!” desisnya. “Aku tahu caranya. Tapi mereka anak-anak!”

Suara itu tidak menjawab. Suara itu tidak pernah menjawab hal-hal yang tidak ada di buku petunjuknya.

Keenam makhluk itu mengepung batu tempat ia berdiri. Mereka mencakar permukaannya, memanjat, saling mendorong. Jeff melirik tangan kirinya. Batu hitam di cincinnya berdenyut, menunggu.

Ia teringat heksagram di langit kemarin, panah-panah cahaya yang turun seperti hujan. Panah-panah itu tidak melukai. Panah-panah itu hanya menahan.

“Jangan sakiti mereka,” katanya pada cincin itu, pelan dan tegas. “Tahan mereka saja. Bisa?”

Cincin itu berdenyut sekali, seperti jantung yang terkejut. Lalu sinar merah melesat dari batu hitam itu, melambung ke langit, dan menggambar heksagram di atas kepala mereka. Namun kali ini tidak ada panah yang turun. Heksagram itu sendiri yang turun, membesar, dan melayang rendah di atas tanah, lalu keenam garisnya terurai menjadi tali-tali cahaya berwarna merah menyala. Tali-tali itu melilit keenam makhluk itu dengan lembut namun kuat, membelit lengan dan kaki mereka, lalu menarik mereka berkumpul dalam satu lingkaran, seperti seorang guru yang menggiring murid-muridnya ke dalam barisan.

Makhluk-makhluk itu meronta. Namun mereka tidak kesakitan. Jeff bisa melihatnya. Mereka hanya bingung, dan marah, dan takut.

Ia turun dari batu itu dan berjalan mendekat. Dengan hati-hati, ia mengangkat kapaknya dan mematahkan tanduk mereka bergiliran. Ia melakukannya secepat mungkin, satu ayunan pendek yang tepat, seperti memotong tangkai bunga. Setiap kali sebuah tanduk patah, sesosok anak kembali muncul dari dalam bayangan hitam itu, tembus pandang dan linglung, lalu perlahan memudar menjadi kabut tipis.

Anak lelaki berkacamata itu sempat menatapnya sebelum lenyap, dan menaikkan kacamatanya yang melorot dengan satu jari. Hanya itu. Gerakan kecil yang begitu biasa, begitu hidup, hingga Jeff harus memalingkan wajah.

Yang terakhir adalah anak perempuan dengan kotak bekal. Ketika tanduknya patah dan wujud aslinya kembali, ia tidak langsung memudar. Ia berdiri di sana, kecil dan tembus pandang, memeluk kotak bekal merah mudanya, menatap Jeff dengan mata yang kini cokelat dan jernih.

“Kakak,” katanya. Suaranya kali ini jelas. “Apa di sana ada Mama?”

Jeff berlutut lagi di hadapannya. Ia tidak tahu jawabannya. Ia tidak tahu apa pun tentang tempat yang akan dituju anak ini, selain kalimat-kalimat dingin di dalam kitab itu. Namun ia tahu bagaimana rasanya ditinggal sendirian tanpa jawaban.

“Aku tidak tahu,” katanya jujur. “Tapi kalau Mama-mu menyayangimu, dia pasti akan mencarimu. Ibu-ibu selalu begitu. Kau tunggu saja dengan sabar, ya? Jadilah anak baik.”

Anak itu mengangguk pelan, lalu ia melakukan sesuatu yang tidak Jeff duga, ia mengulurkan kotak bekal merah muda itu kepadanya. Jeff mengulurkan tangan untuk menerimanya, tapi jari-jarinya menembus kotak itu seperti menembus asap. Anak itu tersenyum kecil, seolah itu lelucon yang hanya mereka berdua yang tahu, lalu memudar bersama kotaknya.

Jeff berlutut di sana lama sekali setelah anak itu pergi. Ia tidak menangis. Ia sudah berjanji untuk tidak menangis. Ia hanya berlutut, menatap tanah gersang tempat anak itu tadi berdiri, dan mengucapkan doa pendek yang dulu sering diucapkan ibunya sebelum tidur. Ia tidak tahu apakah doa bisa terdengar dari tempat seperti ini, tapi ia tetap mengucapkannya.

 

Setelah itu ia duduk di atas batu geraham raksasa dan membuka Kitab Para Iblis. Bukan karena ia ingin membaca, tapi karena ia butuh sesuatu untuk dikerjakan oleh tangannya.

Ia membalik-balik halaman tanpa tujuan sampai matanya tertumbuk pada sebuah bab berjudul Lubang Hitam.

Lubang Hitam adalah pintu yang menghubungkan satu tingkat dunia dengan tingkat lainnya, baik dari atas ke bawah maupun dari bawah ke atas. Pintu ini dapat dipanggil dengan mantra. Iblis cukup mengucapkannya. Namun siapa pun yang bukan iblis wajib memberikan darahnya sendiri dan menggambar heksagram dengannya sebagai persembahan, barulah pintu akan terbuka.

Lihat selengkapnya