Astral Guardian

Marion Drossi
Chapter #7

Rumah

Jeff menepati janjinya. Ketika Chris turun ke dapur keesokan paginya, rambutnya masih kusut dan matanya masih bengkak karena tidur yang terlalu dalam, ia mendapati kakaknya berdiri di depan kompor dengan celemek bermotif bunga milik Bu Marta yang entah bagaimana ikut terbawa saat mereka pindah. Wajan di depannya mendesis. Bau mentega dan roti panggang memenuhi ruangan, menutupi sisa bau udang gosong dari semalam yang masih menempel di dinding.

“Duduk,” kata Jeff tanpa menoleh. “Dan jangan bilang apa-apa soal celemek ini.”

Chris tidak bilang apa-apa soal celemek itu. Ia hanya berdiri di ambang pintu dan menatap punggung kakaknya lama sekali, seolah sedang memastikan bahwa yang ia lihat bukan sisa mimpi. Lalu ia menarik kursi, duduk, dan menopang dagunya dengan kedua tangan.

Jeff meletakkan sepiring roti di depannya. Roti itu sedikit terlalu cokelat di pinggirnya, dan telur di atasnya pecah kuningnya. Namun Chris memakannya seolah itu hidangan terbaik di seluruh Grand Mare. Jeff duduk di seberangnya dengan secangkir kopi yang tidak ia minum, hanya ia genggam untuk menghangatkan jari.

Dapur itu tampak berbeda di bawah cahaya pagi. Ubinnya sudah bersih. Semalam, setelah Chris tertidur, Jeff turun lagi dan menghabiskan satu jam untuk menggosok setiap jejak minyak, setiap remah udang, dan setiap bercak basah yang ditinggalkan perempuan berambut panjang itu di lantai. Bercak itu tidak mau hilang dengan sabun. Baru setelah ia menggosoknya dengan air yang sudah ia doakan, sambil merasa konyol, noda itu memudar.

“Kak,” kata Chris akhirnya, dengan mulut setengah penuh. “Semalam itu...”

“Kau mimpi buruk.”

“Aku tahu bedanya mimpi dan bukan mimpi.”

Jeff memutar cangkir di tangannya. Batu hitam di cincinnya menghadap ke telapak tangan, tersembunyi, persis seperti yang ia lakukan sebelum tidur. Ia tidak tahu apakah itu benar-benar berguna. Ia hanya tahu bahwa ia tidak ingin mata hitam itu melihat wajah adiknya pagi ini.

“Kalau begitu,” katanya pelan, “anggap saja aku belum siap menjelaskannya. Boleh?”

Chris menatapnya. Ada pertanyaan yang bergulung-gulung di balik mata cokelatnya, ratusan, barangkali ribuan. Namun yang akhirnya keluar hanya satu. “Kakak akan di sini berapa lama?”

Jeff membuka mulut untuk menjawab bahwa ia tidak tahu. Namun sebelum kata-kata itu sempat keluar, cincin di jarinya terasa hangat, dan suara yang sudah terlalu ia kenal itu mengalun di dalam kepalanya, ringan seperti orang yang bersiul.

Kau boleh tinggal tiga hari, Anak Muda. Anggap saja hadiah atas kerja kerasmu di Afterlife. Belphegor jarang memuji siapa pun. Nikmatilah. Aku akan memanggilmu bila waktunya tiba.

Lalu suara itu pergi, meninggalkan rasa dingin di belakang telinga Jeff, seperti jejak jari di kaca yang berembun.

“Kak?”

“Cuti tiga hari,” kata Jeff. Ia memaksakan senyum. “Bosku sedang baik hati.”

Wajah Chris berubah. Bukan senyum lebar, karena Chris jarang tersenyum lebar, tapi sesuatu yang lebih pelan dan lebih dalam, seperti jendela yang dibuka setelah musim hujan yang panjang. Lesung pipit di pipi kirinya muncul. Jeff sudah lupa kapan terakhir kali ia melihatnya.

“Kalau begitu,” kata Chris, “hari Minggu Kakak ikut aku ke gereja.”

“Chris...”

“Kakak sudah lima tahun tidak datang. Pendeta Abraham selalu menanyakan Kakak.” Ia menunjuk kakaknya dengan garpu. “Dan Kakak berutang padaku. Banyak.”

Jeff tidak bisa membantah itu.

 

Selama dua hari pertama, waktu berlalu seperti kebanyakan hari yang terlalu bahagia, terlalu cepat dan terlalu pelan sekaligus. Mereka berjalan kaki menuruni bukit Rosehill sampai ke tepi pantai dan duduk di atas tembok laut sambil makan es krim yang meleleh lebih cepat daripada yang sanggup mereka habiskan. Mereka mengunjungi Bu Marta di Gang Pelabuhan dengan membawa sekeranjang buah, dan perempuan tua itu menangis, memeluk mereka berdua, lalu memarahi Jeff karena terlalu kurus, padahal Jeff kini dua kali lebih besar daripada terakhir kali ia melihatnya. Mereka mampir ke toko roti Pak Hollis, dan Jeff membayar semua utang lama mereka yang tercatat di buku kecil bersampul hijau di bawah meja kasir. Pak Hollis menatap lembaran-lembaran uang itu, menatap Jeff, lalu menolak menerima satu sen pun lebih dari jumlah yang tertulis.

“Kau dulu selalu membayar,” kata lelaki tua itu, “meskipun terlambat. Itu sudah cukup.”

Di sela semua itu, Jeff menjaga cincinnya tetap menghadap ke dalam. Ia memeriksa setiap sudut rumah Rosehill dua kali sehari. Ia mencari bercak basah di lantai, bayangan di jendela, apa pun yang tidak semestinya ada. Ia tidak menemukan apa-apa. Namun setiap malam, ketika ia berbaring di kamarnya dengan mata terbuka, ia mendengar sesuatu bergerak di atap. Langkah ringan, nyaris tanpa bobot. Lalu sunyi.

Kucing, katanya pada dirinya sendiri. Hanya kucing tetangga.

Ia tidak percaya pada kalimatnya sendiri.

 

Gereja White Rose berdiri di ujung timur kota lama, di atas tanah yang sedikit lebih tinggi daripada rumah-rumah di sekelilingnya, sehingga menaranya bisa terlihat dari pelabuhan. Bangunannya tidak besar. Dindingnya dari batu kapur yang sudah menguning, dan jendela-jendela kacanya, yang dulu berwarna cerah, kini kusam oleh garam laut dan asap kapal. Di halaman depannya tumbuh semak mawar putih yang memberi gereja itu nama. Ibu mereka dulu merawat semak-semak itu setiap Sabtu pagi.

Jeff berhenti di depan gerbang. Ia tidak menyangka langkahnya akan seberat ini. Terakhir kali ia berdiri di sini adalah hari pemakaman. Ia ingat dua peti kayu yang diletakkan berdampingan di depan altar, ia ingat bau lilin dan bunga lili, dan ia ingat tangan Chris yang berumur dua belas tahun menggenggam jarinya begitu erat sampai kukunya meninggalkan bekas. Ia ingat bahwa ia tidak menangis hari itu. Ia ingat bahwa ia berjanji tidak akan pernah menangis lagi, karena seseorang harus kuat, dan tidak ada orang lain yang tersisa.

“Kak.” Chris menarik lengan bajunya. “Tidak apa-apa.”

Jeff mengangguk dan melangkah masuk.

Sesuatu terjadi tepat ketika kakinya melewati ambang pintu. Cincin di jarinya, yang selama tiga hari terakhir selalu terasa sedikit hangat, seperti benda hidup yang bernapas pelan, tiba-tiba menjadi dingin. Bukan dingin yang menyakitkan, tapi dingin yang hampa, seperti logam biasa yang sudah lama tergeletak di laci. Jeff menunduk dan membalikkan batu hitam itu dengan ibu jarinya. Batu itu kusam.

Untuk pertama kalinya sejak malam di persimpangan Jalan Lindell, Jeff merasa benar-benar sendirian di dalam kepalanya sendiri. Rasanya begitu lega hingga ia nyaris terhuyung.

Lihat selengkapnya