Astral Guardian

Marion Drossi
Chapter #8

Halaman yang Sobek

Bornwell tidak pernah benar-benar tidur. Bahkan pada pukul dua pagi, ketika toko-toko sudah menurunkan rolling door dan restoran-restoran mewah sudah memadamkan lampu kristal mereka, lampu-lampu jalan di distrik itu tetap menyala terang, memantul di etalase kaca dan di genangan air bekas hujan sore tadi. Taksi-taksi kosong melintas pelan. Seorang petugas kebersihan mendorong gerobaknya sambil bersiul. Di atas semua itu, di atap sebuah gedung bank berlantai delapan, Jeff duduk di tepi pagar beton dengan kaki menjuntai ke udara kosong.

Mantel hitamnya berkibar pelan oleh angin. Kapak tergantung di pinggang kirinya. Tidak ada seorang pun di bawah sana yang bisa melihatnya. Begitulah aturannya, menurut Kitab Para Iblis. Seorang Guardian yang berseragam berdiri di antara lapisan dunia, terlalu tebal untuk menjadi arwah dan terlalu tipis untuk dilihat mata manusia biasa. Jeff sudah mengujinya tadi dengan berdiri tepat di depan petugas kebersihan itu dan melambaikan tangan. Lelaki itu terus bersiul dan berjalan menembus bahunya seperti menembus kabut.

Itu pengalaman yang tidak ingin ia ulangi. Tugasnya malam ini sederhana, setidaknya begitulah kata Azazael. Perempuan berambut basah yang muncul di dapur Rosehill itu harus ditemukan dan dikirim kembali ke Afterlife sebelum Belphegor kehilangan kesabarannya, dan percayalah, Anak Muda, kau tidak akan suka melihat pangeran kemalasan yang terpaksa bangun dari tidurnya. Jejaknya berakhir di Bornwell. Jeff bisa merasakannya, seperti bau hujan yang tertinggal di udara setelah badai berlalu. Rasa dingin yang samar, rasa sedih yang menempel di kulit.

Ia hanya tidak tahu di mana tepatnya. Ia memejamkan mata dan mencoba mendengarkan dengan cara yang diajarkan kitab itu. Bukan dengan telinga, tapi dengan cincin. Batu hitam di jarinya berdenyut pelan, dan perlahan, suara kota di bawahnya mulai berubah. Deru mesin taksi memudar. Siulan petugas kebersihan menjauh. Di bawah semua itu, seperti arus di dasar sungai, ada suara lain.

Tangisan pelan, putus-putus, datang dari arah selatan. Jeff membuka mata, berdiri di atas pagar beton itu, dan melompat. Ia masih belum bisa terbang. Sayap putih itu tidak pernah muncul lagi sejak malam di dapur, tidak peduli seberapa keras ia mencoba memanggilnya. Namun tubuh barunya bisa melakukan hal-hal yang dulu hanya bisa ia lihat di film. Ia mendarat di atap gedung sebelah dengan lutut tertekuk, berguling, bangkit, lalu berlari lagi. Atap demi atap. Lompatan demi lompatan. Angin malam menampar wajahnya, dan untuk sesaat, ia merasakan sesuatu yang mirip kegembiraan.

Lalu ia sampai di persimpangan Jalan Corvin, dan kegembiraan itu mati. Persimpangan itu tampak biasa saja bagi mata manusia. Empat ruas jalan bertemu di bawah sebuah lampu lalu lintas yang berkedip kuning. Di salah satu sudutnya ada toko bunga yang sudah tutup. Di tiang lampu di sudut seberangnya, seseorang mengikatkan seikat bunga krisan yang sudah layu, bersama sebuah boneka beruang kecil yang basah dan kusam karena hujan berhari-hari.

Perempuan itu duduk di bawah tiang lampu tersebut. Gaun tidurnya yang putih menempel di tubuhnya. Rambut hitamnya yang panjang dan basah menutupi sebagian besar wajahnya. Ia memeluk lutut, mengayun-ayunkan tubuhnya maju mundur, dan dari mulutnya keluar suara tangis yang tadi Jeff dengar dari atas atap, tangis yang tidak pernah selesai.

Jeff turun dari atap toko bunga dan mendarat beberapa langkah darinya. Perempuan itu tidak menoleh.

“Bu,” kata Jeff pelan. Ia sengaja tidak mencabut kapaknya. “Saya tidak akan menyakiti Ibu.”

Tangisan itu berhenti. Perempuan itu mengangkat kepalanya. Wajah di balik rambut basah itu masih muda, barangkali tidak jauh lebih tua daripada Jeff. Pucat seperti kertas. Matanya belum hitam seluruhnya. Masih ada sedikit warna di sana, cokelat yang pudar.

“Kau,” bisiknya. “Kau yang di dapur itu.”

“Ya.”

“Kau datang ketika gadis itu memanggil.” Perempuan itu menatapnya dengan sesuatu yang mirip iri hati, mirip pula harapan. “Ia memanggil kakaknya, dan kakaknya datang. Aku sudah memanggil anakku setiap malam. Setiap malam, di tempat ini. Tapi ia tidak pernah datang.”

Jeff berjongkok di depannya, cukup jauh untuk tidak membuatnya takut. Matanya beralih ke boneka beruang di tiang lampu. Ke bunga krisan yang layu. Ia tidak perlu bertanya apa yang terjadi di persimpangan ini.

“Anak Ibu,” katanya. “Di sini?”

Perempuan itu mengangguk. “Tobias. Umurnya enam tahun. Kami sedang menyeberang. Lampunya hijau. Aku ingat lampunya hijau.” Suaranya pecah. “Lalu ada mobil. Sopirnya bilang remnya tiba-tiba tidak berfungsi. Semua orang bilang itu kecelakaan. Aku menggenggam tangannya, lalu tiba-tiba tidak lagi.” Ia menunduk, menatap telapak tangannya sendiri yang pucat dan tembus pandang. “Setelah itu aku tidak bisa makan, tidak bisa tidur. Suatu malam aku pergi ke sungai di belakang rumah dan aku... aku hanya ingin semuanya diam.”

Jeff tidak mengatakan apa pun. Tidak ada kata yang cukup baik untuk diucapkan di saat seperti itu.

“Lalu aku terbangun di tempat kelabu itu,” lanjut perempuan itu. “Tempat dengan ribuan orang yang wajahnya salah. Dan Tobias tidak ada di sana. Aku mencarinya ke mana-mana. Ia tidak ada.” Ia mengangkat matanya lagi. “Jadi aku lari. Aku kembali ke sini. Ia pasti masih di sini. Ia pasti sedang menungguku menggenggam tangannya lagi.”

“Bu.” Jeff menelan ludah. “Bagaimana Ibu tahu nama adik saya?”

Perempuan itu berkedip, seolah pertanyaan itu datang dari arah yang tidak ia duga. “Kucing itu,” katanya. “Kucing hitam dengan mata merah. Ia menemukanku di sini beberapa malam yang lalu. Ia bilang ada seorang gadis di bukit, namanya Christine, dan bahwa kalau gadis itu berdoa, yang hilang akan datang. Ia bilang aku harus menemuinya.” Wajahnya berkerut. “Aku tidak bermaksud menakutinya. Aku hanya ingin ia berdoa untukku.”

Udara di sekitar Jeff mendadak terasa lebih dingin.

Kucing hitam. Kucing yang tidur di kaki Chris. Kucing yang tidak meninggalkan jejak di tumpahan tepung. Kucing yang matanya merah, sama merahnya dengan yang ia lihat di atap tetangga pada malam pertama ia pergi.

Ia tidak sempat memikirkannya lebih jauh, sebab lampu lalu lintas di atas mereka tiba-tiba berhenti berkedip. Lampu itu menyala merah, lalu hijau, lalu merah lagi, cepat sekali, seperti mata yang mengedip panik. Dari ujung Jalan Corvin, sebuah truk boks melaju ke arah persimpangan. Jeff mendengar sopirnya menginjak rem. Ia mendengar bunyi rem itu tidak berfungsi. Dan di atas kap mesin truk itu, berjongkok seperti anak kecil yang sedang naik kuda-kudaan, ada sesuatu yang tertawa.

 

Makhluk itu kecil, tidak lebih tinggi daripada lutut Jeff. Tubuhnya bulat dan kelabu seperti batu sungai, dengan lengan yang terlalu panjang dan jari-jari yang terlalu banyak. Dari kepalanya yang botak mencuat sepasang tanduk pendek dan tumpul. Ia memiliki mulut yang lebar sekali, membentang dari telinga ke telinga, dan mulut itu sedang tersenyum, sementara salah satu tangannya yang panjang terulur ke bawah, menembus kap mesin, menembus logam, ke tempat yang Jeff tahu adalah tempat rem truk itu berada.

Iblis cebol. Kitab itu pernah menyebutnya, dalam satu kalimat pendek yang nyaris terlewat. Makhluk-makhluk kecil yang memakan kemalangan. Mereka tidak membunuh. Mereka hanya mendorong.

Jeff tidak berpikir. Maka ia berlari, melompati perempuan itu, melompati trotoar, dan mendarat di tengah persimpangan tepat ketika truk itu sampai di garis lampu. Tidak ada siapa pun di jalan. Tidak ada pejalan kaki, tidak ada mobil lain. Namun Jeff tahu itu tidak penting bagi makhluk seperti itu. Kemalangan sopir itu saja sudah cukup sebagai santapan.

Kapaknya keluar dari pinggang dengan sendirinya, seolah sudah menunggu. Jeff mengayunkannya bukan ke arah truk, tapi ke atas, ke arah kap mesin, ke arah tangan panjang yang menembus logam itu. Mata kapak tidak menyentuh truk. Mata kapak itu hanya menyentuh sesuatu yang berada di antara dunia, dan sesuatu itu menjerit.

Lihat selengkapnya