Sementara itu, di menara tertinggi Dark Castle, Azazael berdiri di balkon sempit yang menghadap ke padang gersang dan menunggu.
Angin Dunia Arwah tidak pernah berembus lembut di ketinggian ini. Angin itu datang dari jurang di bawah kastel, membawa bau belerang dan debu, dan bunyinya seperti ribuan suara yang berbisik bersamaan dalam bahasa yang sudah lama mati. Azazael menyukainya. Angin ini mengingatkannya pada masa ketika ia masih muda, ketika dunia-dunia belum disekat-sekat dan diberi nama, ketika segalanya masih bisa direbut oleh siapa pun yang cukup berani.
Ia tidak menoleh ketika langkah-langkah ringan terdengar di belakangnya. Kucing hitam itu melompat ke atas pagar balkon dan duduk di sana, ekornya melingkar rapi, matanya yang merah memantulkan cahaya bulan jingga. Lalu kucing itu membuka mulutnya, dan yang keluar bukan suara kucing, melainkan suara Azazael sendiri, hanya sedikit lebih tipis, seperti gema di dalam botol.
“Ia bermimpi lagi.”
“Aku tahu.” Azazael mengulurkan jari-jarinya yang berkuku panjang dan menggaruk belakang telinga kucing itu. Kucing itu mendengkur. “Seberapa jauh?”
“Sampai ke padang. Sampai ke depan lubang-lubang itu. Ia mendengar senandung.” Kucing itu menyipitkan mata. “Dan ia membawa pulang sehelai bulu.”
Jari-jari Azazael berhenti menggaruk. Untuk sesaat, keheningan di balkon itu lebih berat daripada angin. Lalu iblis itu tertawa pelan, nyaris tanpa suara, dan tawanya tidak mengandung keriangan sedikit pun.
“Bulu,” ulangnya. “Tentu saja. Darah selalu mengenali darah.” Ia memandang ke kejauhan, ke arah barat, ke ujung padang gersang tempat cakrawala berubah menjadi kabut kelabu yang tidak pernah bergerak. “Dan kakaknya?”
“Ia memutar batu cincin ke dalam setiap kali bersama gadis itu. Ia pergi ke tempat berlonceng itu, tempat aku tidak bisa masuk. Ia membebaskan perempuan yang kau suruh kugiring ke dapur, dan anaknya juga.” Kucing itu menjilat kakinya dengan malas. “Ia tersenyum padamu tadi. Ia tidak pernah tersenyum padamu sebelumnya.”
“Ya,” kata Azazael. “Aku memperhatikan.”
“Ia sudah tahu sesuatu.”
“Ia tahu sesuatu,” Azazael mengoreksi. “Tidak semuanya. Belum.” Ia menegakkan tubuhnya. “Biarkan ia bermain-main dengan rahasia kecilnya. Manusia selalu lebih patuh ketika mereka merasa sedang membangkang diam-diam. Yang penting adalah gadis itu. Jiwanya semakin terang setiap malam. Lebih terang daripada ayahnya dulu.” Matanya yang hitam pekat memantulkan bulan. “Ketika bulan itu memerah, aku ingin ia berdiri tepat di tempat yang kuinginkan.”
Kucing itu berdiri, meregangkan tubuhnya, lalu melompat ke telapak tangan Azazael yang terbuka. Dan di sana, seperti tinta yang meresap ke kertas, tubuh hitamnya larut ke dalam kulit merah iblis itu sampai tak bersisa. Azazael mengepalkan tangannya, merasakan pecahan dirinya yang kembali, beserta semua yang telah dilihatnya. Ia memejamkan mata sejenak, menikmati gambaran wajah seorang gadis yang tertidur dengan sehelai bulu putih di genggamannya.
Lalu ia membuka matanya lagi, dan menatap ke bawah, ke sebuah jendela kecil di sayap timur kastel. Di balik jendela itu, cahaya merah sedang berputar.
Jeff sudah memikirkannya sepanjang malam yang tidak pernah berakhir di Dunia Arwah. Ia memikirkannya ketika berburu tiga arwah gentayangan di tepi sungai kering di sebelah utara. Ia memikirkannya ketika duduk di depan perapian dengan Kitab Para Iblis terbuka di pangkuannya dan tidak membaca satu kata pun. Ia memikirkannya ketika berbaring di ranjang berkelambu itu, menatap langit-langit batu, mendengarkan bunyi angin.
Kucing hitam itu tidur di kaki adiknya. Kucing itu yang menggiring arwah perempuan itu ke dapur. Kucing itu bermata merah, dan di seluruh dunia yang Jeff kenal sekarang, hanya ada satu jenis makhluk yang bermata seperti itu.
Ia tidak bisa menunggu sampai Azazael memberinya cuti lagi. Ia tidak bisa menunggu sampai tiga bulan berlalu. Ia harus pulang, malam ini, dan ia harus melakukannya tanpa diketahui siapa pun.
Ia sudah pernah membuka Lubang Hitam sendiri, di bawah menara jam Jalan Lindell, ketika doa Chris memanggilnya. Waktu itu ia tidak berpikir. Waktu itu tubuhnya bergerak sendiri. Kini ia harus melakukannya dengan sengaja, di dalam dinding Dark Castle, tempat yang menurut Azazael tidak bisa ditembus oleh perpindahan apa pun.
Tidak bisa ditembus oleh iblis, pikir Jeff. Ia tidak pernah bilang apa-apa soal manusia.
Ia berlutut di lantai batu di tengah kamarnya. Ia memutar batu cincinnya ke arah telapak tangan, meskipun ia tahu itu barangkali tidak berguna. Ia mencabut kapaknya, menggoreskan ibu jari kirinya pada mata kapak, dan menunggu darahnya menetes. Lalu ia mulai menggambar.
Heksagram itu harus sempurna. Kitab itu menekankannya berkali-kali. Sepasang segitiga yang saling bertumpuk, satu menghadap ke atas, satu menghadap ke bawah, dengan keenam ujungnya tepat berjarak sama dari pusat. Di bawah menara jam, ia menggambarnya di udara dengan tangan gemetar dan entah bagaimana berhasil. Kini ia menggambarnya di lantai, perlahan, dengan napas tertahan, garis demi garis.
“Aku adalah ruang, aku adalah waktu,” bisiknya. “Aku adalah ruang dan waktu yang terhimpun dalam serpih-serpih dunia. Kuberikan darahku sebagai tanda, kugambar bintang bersudut enam sebagai pintu. Terbukalah, Lubang Hitam, menuju rumahku.”
Heksagram di lantai itu menyala merah. Garis-garisnya bergetar, lalu mulai berputar, mula-mula pelan, lalu semakin cepat. Udara di kamar itu tersedot ke arah pusatnya. Lidah api ungu di perapian condong ke samping. Lembaran-lembaran Kitab Para Iblis di meja terbalik-balik sendiri. Di tengah putaran itu, sebuah titik hitam muncul, lalu melebar, lalu menjadi lubang yang cukup besar untuk dilewati seorang lelaki.
Jeff bisa mencium baunya dari sini. Bau garam laut. Bau rumput basah di halaman Rosehill. Bau rumah. Ia berdiri dan melangkah maju.
“Wah, wah.”
Suara itu datang dari belakangnya, dari arah pintu. Ringan, riang, bersahabat. Lubang Hitam di lantai itu tiba-tiba bergetar, seperti permukaan air yang dilempari batu, lalu menyusut dengan cepat dan padam. Heksagram darah di lantai berubah menjadi bekas hangus yang berasap tipis. Bau rumah itu lenyap, digantikan bau batu dan belerang.
Jeff berbalik perlahan. Azazael bersandar di ambang pintu dengan kedua lengan terlipat di dada. Ia tersenyum, seperti biasa. Namun untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Jeff melihat bahwa senyum itu tidak sampai ke matanya. Mata itu, hitam dan tanpa cahaya, menatapnya dengan sesuatu yang sangat dingin.
“Aku harus mengakui,” kata iblis itu, “bahwa aku terkesan. Tidak banyak manusia yang sanggup membuka pintu di dalam dinding ini. Kau belajar dengan cepat, Anak Muda.” Ia melangkah masuk, dan setiap langkahnya terdengar terlalu berat untuk tubuh yang ramping itu. “Ke mana kau hendak pergi?”
“Pulang.” Jeff tidak melihat gunanya berbohong. Bekas hangus di lantai itu sudah mengatakan semuanya. “Sebentar saja. Aku ingin melihat adikku.”