Azazael tidak mengatakan apa pun sepanjang perjalanan pulang dari kota Baal. Ia tidak bersiul, tidak bergurau, tidak memanggil Jeff dengan sebutan “Anak Muda” seperti biasanya. Iblis itu hanya berjalan di depan, menyusuri lorong-lorong Dark Castle yang berkelok, dan Jeff mengikutinya dengan perasaan seperti anak kecil yang digiring pulang setelah ketahuan mencuri. Baru ketika mereka tiba di depan pintu kamarnya, Azazael berbalik.
“Mulai malam ini,” katanya dengan suara yang tenang dan ramah, “tidak ada lagi cuti. Tidak ada lagi pulang. Tidak ada lagi Lubang Hitam yang kau buka sendiri tanpa sepengetahuanku.” Ia tersenyum, dan senyum itu tidak sampai ke matanya. “Kau mengerti, bukan? Bukan karena aku ingin menghukummu. Aku hanya khawatir. Dunia ini berbahaya bagi orang yang belum tahu tempatnya.”
“Sampai kapan?”
“Sampai aku bilang.”
Pintu tertutup. Jeff berdiri di tengah kamarnya dan menatap lantai batu tempat heksagram darahnya tadi tergambar. Noda itu sudah hilang, seolah lantai itu menelannya. Api di perapian menyala merah, lalu perlahan berubah ungu, dan ia tetap berdiri di sana sampai kakinya pegal.
Tidak pernah lupa siapa yang memegang ujung tali yang lain.
Kata-kata Baal berputar di kepalanya seperti lalat yang terperangkap di balik kaca. Ia menunduk menatap cincin di jarinya. Batu hitam itu kembali menghadap ke luar. Ia tidak ingat kapan memutarnya kembali, dan itu membuatnya lebih takut daripada apa pun yang ia lihat di kota tanpa bayangan tadi.
“Siapa yang hanya berpura-pura memberi perintah,” bisiknya, begitu pelan hingga nyaris tidak bersuara. Lalu ia cepat-cepat menutup mulut, sebab ia tidak tahu apakah cincin itu juga bisa mendengar pikiran yang diucapkan setengah.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti mesin. Setiap pagi, yang sebetulnya bukan pagi karena matahari tidak pernah terbit di Dunia Arwah, Azazael muncul di ambang pintu dengan selembar perkamen berisi daftar tugas. Arwah yang tersesat di padang timur. Arwah yang bersembunyi di gua-gua batu di utara. Seorang lelaki yang menolak mengakui bahwa ia sudah mati dan terus berusaha menyetir mobil yang tidak ada. Jeff menyelesaikan semuanya. Ia mematahkan tanduk, menenangkan, membuka jalan menuju Afterlife, lalu kembali ke kastel dengan tubuh yang lelah dan kepala yang kosong.
Ia patuh. Ia menunduk sedikit lebih dalam setiap kali berpapasan dengan penjaga bermata kaca, dan ia memastikan matanya tidak berisi apa-apa selain kepatuhan. Ia belajar bahwa itu mungkin dilakukan. Kalau ia cukup lelah, pikirannya memang tidak berisi apa-apa. Namun ada satu hal yang tidak bisa ia matikan, sekeras apa pun ia mencoba. Tarikan itu.
Ia pertama kali merasakannya pada hari keempat setelah kunjungan ke kota Baal. Rasanya sama seperti malam ketika Chris berdoa di dapur dan Jeff mendengarnya dari bawah menara jam, sebuah benang yang terikat di dadanya, tepat di belakang tulang dada, dan seseorang di ujung lain benang itu menariknya pelan-pelan. Bedanya, kali ini tarikan itu tidak datang dari arah rumah. Tarikan itu tidak mengarah ke atas, ke Tanah Proyeksi, ke Grand Mare dan pohon-pohon ek di Rosehill. Tarikan itu mengarah ke barat, melintasi padang gersang Dunia Arwah, ke tempat yang belum pernah ia datangi.
Mula-mula ia mengira itu hanya kelelahan. Lalu ia mengira itu tipuan, semacam ujian dari Azazael untuk melihat apakah ia akan melanggar perintah lagi. Namun tarikan itu tidak berhenti. Setiap kali ia memejamkan mata, ia merasakannya, dan setiap hari tarikan itu menjadi sedikit lebih lemah. Itu yang paling menakutkan.
Kesempatan datang pada hari ketujuh dalam bentuk selembar perkamen.
“Padang barat,” kata Azazael sambil mengulurkan daftar tugasnya. “Ada laporan arwah yang berkeliaran terlalu dekat dengan perbatasan. Bawa mereka kembali. Jangan pergi lebih jauh daripada Batu Gigi. Di baliknya tidak ada apa-apa yang perlu kau urus.”
Jeff menerima perkamen itu dan mengangguk. Ia berharap wajahnya tidak menunjukkan apa pun. Ia berharap, lebih daripada itu, Azazael tidak bisa mendengar betapa kerasnya jantungnya berdetak.
“Batu Gigi,” ulangnya.
“Kau akan mengenalinya.” Azazael menepuk bahunya, tepukan yang terlalu lama dan terlalu berat. “Pulanglah sebelum bulan turun, Anak Muda.”
Padang barat lebih sunyi daripada bagian Dunia Arwah mana pun yang pernah Jeff jelajahi. Tidak ada gerombolan arwah, tidak ada kadal bermata empat yang menertawakannya dari balik batu, bahkan tidak ada angin. Hanya tanah retak yang membentang tanpa ujung di bawah bulan jingga, dan sesekali, tulang-belulang raksasa yang menyembul dari tanah seperti rusuk perahu yang karam. Ia menemukan arwah-arwah yang dimaksud Azazael di dekat salah satu tulang itu, tiga orang perempuan tua yang duduk melingkar seperti sedang menunggu bus. Mereka tidak berubah menjadi iblis. Mereka terlalu lelah untuk itu. Jeff hanya perlu berlutut, berbicara pelan, dan membuka Lubang Hitam menuju Afterlife. Perempuan terakhir yang masuk menoleh kepadanya dan berkata, “Kau anak yang sopan,” dan Jeff tersenyum untuk pertama kalinya dalam seminggu.
Setelah itu, ia berdiri sendirian di tengah padang, dan tarikan di dadanya menyentak.
Ia melihat Batu Gigi di kejauhan. Azazael benar, ia memang mengenalinya. Batu itu menjulang dari tanah seperti taring raksasa, hitam dan runcing, setinggi menara jam di Jalan Lindell. Tarikan itu datang dari baliknya.
Jangan pergi lebih jauh daripada Batu Gigi.
Jeff menunduk menatap cincinnya. Batu hitam itu menatapnya balik. Ia tidak tahu apakah Azazael sedang melihat melalui batu itu saat ini juga. Ia tidak tahu apakah iblis itu sedang duduk di balkon menara tertingginya, tersenyum, menunggu Anak Muda-nya melanggar perintah sekali lagi.
Lalu ia teringat suara Chris malam itu di dapur. Kak Jeff! Ia teringat bulu putih yang melayang di antara mereka. Ia teringat janji yang ia ucapkan di makam orang tuanya, janji yang belum pernah ia langgar.
Ia memutar cincinnya, menghadapkan batu hitam itu ke telapak tangan, lalu mengepalkan tangannya erat-erat. Itu tidak akan menghentikan Azazael kalau iblis itu benar-benar ingin melihat. Namun setidaknya, Jeff tidak harus menatap mata itu sambil berjalan.
Ia berjalan melewati Batu Gigi.