Makhluk itu tidak menyerang. Itulah hal pertama yang membuat Jeff bingung, dan kebingungan itu, lebih daripada rasa takut, yang membuat tangannya gemetar di gagang kapak. Makhluk bersayap hitam itu hanya berdiri di tepi padang rumput dengan kepala serigalanya yang tertunduk rendah, menatap Jeff dengan mata kuning keemasan yang tidak berkedip. Ekornya yang bersisik bergerak pelan di atas rumput, ke kiri, ke kanan, seperti bandul jam. Kabut yang tadi tersibak oleh kepakan sayapnya perlahan kembali, merayap di antara kaki-kakinya yang besar, menggulung di sekeliling tanduknya yang melengkung.
“Menjauh dari adikku,” ulang Jeff, lebih keras kali ini, seolah suara yang lebih keras bisa menutupi gemetarnya.
Makhluk itu memiringkan kepalanya sedikit, gerakan yang anehnya mirip anjing yang mendengar bunyi asing. Lalu ia melangkah maju. Hanya selangkah, tapi langkah itu cukup untuk membuat tanah bergetar dan membuat Jeff mundur setengah langkah tanpa sadar, sampai tumitnya nyaris menyentuh rambut Chris yang tergerai di rumput.
Ia tidak boleh mundur lagi. Di belakangnya tidak ada tempat untuk mundur. Jeff menerjang, tetapi ia tidak punya rencana. Ia hanya punya kapak dan bahu yang berdarah dan satu-satunya hal yang ia tahu tentang semua makhluk di dunia ini, bahwa kelemahan mereka ada di kepala dan tanduk. Ia berlari melintasi rumput basah, melompat dengan seluruh kekuatan tubuh barunya, dan mengayunkan kapaknya ke arah tanduk kiri makhluk itu.
Kapak itu tidak pernah sampai. Makhluk itu tidak menghindar. Ia hanya mengangkat salah satu sayapnya, dengan gerakan malas, seperti orang yang mengusir lalat dari piring makan siangnya, dan ujung sayap itu menyentuh Jeff di udara. Rasanya tidak seperti dihantam, tetapi seperti ditangkap oleh dinding bulu yang lembut dan sangat, sangat kuat. Jeff terpental ke belakang, berputar di udara, dan mendarat di rumput beberapa langkah dari Chris dengan bunyi gedebuk yang membuat napasnya terlepas dari paru-parunya.
Ia berbaring di sana, terengah, menatap langit pucat. Tidak ada yang patah. Ia memeriksanya dengan cepat, menggerakkan jari-jari kakinya, menggerakkan lengannya. Bahkan luka di bahunya tidak bertambah parah. Makhluk itu bisa saja menghancurkannya, dan Jeff tahu itu, tapi makhluk itu memilih untuk tidak melakukannya.
Maka ia bangkit lagi, menerjang lagi. Kali ini ia mencoba dari samping, berlari memutar, menghindari sayap, mengincar leher. Makhluk itu memutar kepalanya, membuka moncongnya, dan Jeff melihat deretan gigi seperti belati yang berkilau di bawah cahaya pucat. Ia memejamkan mata dan bersiap. Namun gigi-gigi itu tidak menggigitnya. Moncong itu menangkap mantelnya, di bagian kerah, dengan lembut, persis seperti induk kucing yang mengangkat anaknya, lalu mengangkat Jeff dari tanah dan meletakkannya kembali, beberapa langkah lebih jauh dari Chris, seolah memindahkan perabot yang salah tempat.
“Berhenti!” Jeff berteriak. Ia tidak tahu kepada siapa ia berteriak, kepada makhluk itu atau kepada dirinya sendiri. “Berhenti memperlakukanku seperti anak kecil!”
Makhluk itu menatapnya. Lalu, untuk pertama kalinya, ia bersuara selain geraman.
“Kau memang anak kecil.”
Suaranya tidak keluar dari moncongnya. Suara itu datang dari mana-mana, dari kabut dan rumput dan pepohonan, berat dan dalam seperti bunyi lonceng gereja yang dipukul di bawah air. Suara itu tidak terdengar kejam, tapi lelah seperti suara seseorang yang sudah lama sekali tidak berbicara dengan siapa pun.
Jeff membeku. “Kau bisa bicara.”
“Aku bisa melakukan banyak hal.” Mata kuning itu beralih ke Chris. “Termasuk menunggu sampai kau berhenti membuang tenagamu.”
“Apa yang kau lakukan pada adikku?”
“Tidak ada.”
“Bohong!” Jeff mengangkat kapaknya lagi. Lengannya terasa berat sekali sekarang, dan ujung kapak itu bergoyang. “Ia di sini. Ia tidak bangun. Tanganku menembusnya. Kalau kau tidak melakukan apa-apa, lalu kenapa…”
Ia tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Makhluk itu tidak segera menjawab. Ia menundukkan kepalanya, mendekatkan moncongnya ke Chris, begitu dekat hingga embusan napasnya menggerakkan helai-helai rambut cokelat itu. Jeff mencengkeram kapaknya sampai buku-buku jarinya memutih, tapi makhluk itu hanya menghirup udara di atas wajah Chris, pelan, seolah mencium bau bunga.
“Ia tidak mati,” kata makhluk itu akhirnya. “Kalau itu yang kau takutkan.”
Kata-kata itu menghantam Jeff lebih keras daripada sayap tadi. Ia merasakan sesuatu di dadanya runtuh, tapi bukan keruntuhan yang ia takutkan. Keruntuhan yang lain, keruntuhan dinding yang ia bangun sejak melihat Chris terbaring di rumput, dan di baliknya, kelegaan yang begitu besar mengalir keluar hingga matanya perih.
Ia tidak menangis, sebab ia sudah berjanji.
“Lalu kenapa ia seperti ini?”
“Karena yang terbaring di sini hanyalah sebagian dirinya.” Makhluk itu mengangkat kepalanya lagi. “Jiwanya berjalan terlalu jauh di dalam mimpi. Tubuhnya masih tertidur di tempat yang seharusnya. Yang kau lihat di sini adalah jiwanya, dan jiwanya tidak boleh berada di sini.”
“Kalau begitu, biarkan aku membawanya pulang.”
“Tidak.”
Kata itu jatuh seperti batu nisan. Jeff menatap makhluk itu dengan mulut terbuka.
“Kenapa?”
Mata kuning itu menatapnya lama sekali, dan Jeff merasakan sesuatu yang aneh dalam tatapan itu. Tatapan itu tidak seperti tatapan penjaga bermata kaca yang membaca isi pikirannya, tidak pula seperti tatapan Abaddon yang menimbang-nimbang. Tatapan itu seperti tatapan seseorang yang sedang mencari wajah orang lain di wajah Jeff, wajah yang dulu dikenalnya.
“Karena kau tidak tahu ke mana kau akan membawanya,” jawab makhluk itu. “Dan kau tidak tahu siapa yang menunggu di ujung perjalanan itu.”
“Rumah. Aku akan membawanya ke rumah.”