Azazael merawat luka Jeff sendiri. Itu pertama kalinya iblis itu menyentuhnya dengan sengaja selain untuk menepuk bahu atau menggandeng tangan sebelum melompat antardimensi, dan Jeff membenci setiap detiknya. Ia duduk di tepi ranjang berkelambu di kamarnya, mantel hitamnya tersampir di kursi dengan robekan panjang di bagian punggung, sementara Azazael berdiri di belakangnya dan meletakkan telapak tangannya yang kasar di atas bahunya yang terluka. Telapak tangan itu panas. Panasnya menjalar ke dalam daging, ke dalam tulang, dan Jeff menggertakkan gigi menahan perih sampai perih itu perlahan surut dan digantikan rasa gatal yang aneh, seperti kulit yang tumbuh terlalu cepat.
“Nah,” kata Azazael sambil mengangkat tangannya. “Seperti baru.”
Jeff meraba bahunya. Lukanya sudah tertutup. Hanya ada garis tipis berwarna merah muda yang tersisa, seperti bekas luka lama yang sudah sembuh bertahun-tahun.
“Terima kasih,” katanya, karena ia tahu ia harus mengatakannya.
“Sama-sama, Anak Muda.” Azazael mengambil mantel itu dari kursi, memeriksanya, dan mengusap robekannya dengan ibu jari. Benang-benang hitam itu merajut dirinya sendiri di bawah sentuhannya, seperti rumput yang tumbuh dalam gerakan yang dipercepat. “Iblis murni memang tidak bisa diajak bicara. Mereka lapar, dan hanya itu yang mereka tahu. Kau beruntung masih bisa pulang.” Ia meletakkan mantel itu kembali di kursi dan menatap Jeff dengan kepala sedikit miring. “Kau benar-benar tidak ingat apa yang terjadi setelah kau pingsan?”
“Tidak.”
“Tidak ada mimpi? Tidak ada suara?”
“Tidak ada apa-apa.”
Mata hitam Azazael menatapnya lama, terlalu lama, dan Jeff membiarkan pikirannya mengambang kosong. Ia memikirkan api ungu di perapian, memikirkan tekstur kelambu di tepi ranjang. Ia tidak memikirkan sayap hitam dan mata kuning keemasan.
Akhirnya Azazael tersenyum. “Istirahatlah. Besok tidak ada tugas. Kau pantas mendapatkan satu hari libur.” Ia berjalan ke pintu, lalu berhenti dengan tangan di kenop. “Oh, dan Anak Muda? Adikmu baik-baik saja. Aku tahu kau mengkhawatirkannya.”
Pintu tertutup.
Jeff duduk diam di tepi ranjang sampai langkah kaki iblis itu menghilang di ujung lorong. Lalu ia membungkuk ke depan, menekankan kedua telapak tangannya ke wajah, dan menggigit bibirnya sampai terasa asin.
Adikmu baik-baik saja.
Kalimat yang sama. Kalimat yang sama yang diucapkan Azazael di ambang pintu ini seminggu yang lalu, ketika Jeff bertanya bagaimana iblis itu tahu. Seminggu yang lalu, Jeff belum tahu apa-apa. Sekarang, ia baru saja melihat jiwa adiknya terbaring di rumput lembah berkabut, tembus pandang dan bercahaya samar, dan tidak ada satu pun bagian dari dirinya yang percaya bahwa Chris baik-baik saja.
Entah Azazael tidak tahu, atau Azazael berbohong. Jeff tidak tahu mana yang lebih buruk.
Ia tidak tidur malam itu. Ia berbaring telentang di atas ranjang berkelambu dengan mata terbuka, menatap kain beledu merah gelap di atasnya, dan menghitung. Ia menghitung berapa kali Azazael muncul di ambang pintunya setiap hari. Ia menghitung berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuka Lubang Hitam, merapalkan mantra, dan melangkah masuk. Ia menghitung berapa lama ia bisa pergi sebelum ada yang menyadari ia tidak ada di kamarnya.
Hari libur. Satu hari penuh tanpa tugas, tanpa perkamen, tanpa Azazael yang muncul di ambang pintu dengan senyumnya yang lebar. Itu hadiah, atau itu jebakan. Jeff memutuskan, pada suatu titik di antara api merah dan api ungu, bahwa ia tidak peduli yang mana.
Ia bangun sebelum bulan turun, mengenakan mantel hitamnya yang sudah terajut kembali, mengikat kapaknya di pinggang, dan berlutut di lantai batu di tengah kamar. Ia memutar cincinnya, menghadapkan batu hitam itu ke telapak tangan, meskipun ia tahu itu sia-sia. Lalu ia menggoreskan ibu jarinya yang sudah penuh luka sekali lagi dan mulai menggambar.
Ia tidak menyebut rumah kali ini. Rumah adalah tempat pertama yang akan diawasi Azazael. Sebaliknya, ia membayangkan sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih kecil dan lebih aman. Ia membayangkan pohon ek tua di sudut halaman Rosehill, pohon yang dahannya menjulur ke atas pagar tetangga, tempat kucing hitam itu pernah duduk dan menatap jendela kamar Chris.
“Terbukalah, Lubang Hitam,” bisiknya, “menuju pohon ek di halamanku.”
Heksagram itu berputar. Kegelapan menelannya.
Grand Mare menyambutnya dengan gerimis. Jeff berdiri di bawah pohon ek dengan sepatu baja yang tenggelam di tanah lembap, dan selama beberapa detik, ia hanya bernapas. Udara di sini dingin dan basah dan berbau garam laut, berbau rumput yang baru dipotong, berbau aspal yang tersiram hujan. Bau-bau yang biasa, bau-bau yang manusiawi. Ia tidak tahu betapa ia merindukannya sampai ia menghirupnya lagi.
Langit masih gelap. Lampu-lampu jalan di Rosehill menyala kuning di balik tirai gerimis, dan rumah-rumah besar di sepanjang jalan itu tertidur dengan jendela-jendela yang gelap. Rumahnya juga gelap. Jeff berjalan menyeberangi halaman dan berhenti di depan pintu. Pintu itu terkunci. Ia tidak membawa kunci. Ia tidak pernah membutuhkan kunci di Dunia Arwah.
Ia memejamkan mata dan mendengarkan, dengan cara yang diajarkan Codex kepadanya, dengan cara yang membuatnya bisa mendengar tangisan arwah perempuan di persimpangan Jalan Corvin dari atap gedung di Bornwell. Ia mendengarkan rumah itu. Ia mendengarkan dengung kulkas di dapur, detak jam dinding di ruang tamu, tetes air dari talang yang bocor di sudut atap. Ia mendengarkan, mencari napas pelan seorang gadis yang sedang tidur di kamar lantai dua.
Tidak ada. Rumah itu kosong.
Jeff membuka mata. Ia meletakkan telapak tangannya di atas kenop pintu, dan cincin di jarinya berdenyut sekali. Ia mendengar bunyi klik pelan. Pintu terbuka. Ia tidak tahu apakah itu kekuatannya sendiri atau kekuatan cincin itu, dan saat ini, ia tidak peduli.
Ruang tamu itu gelap dan dingin. Foto keluarga di atas perapian sudah dipasang kembali dengan kaca baru yang masih mengilap. Di atas meja kopi, ada setumpuk buku pelajaran yang tertata rapi dan secangkir teh yang sudah dingin, dengan lapisan tipis di permukaannya yang menunjukkan bahwa teh itu sudah ditinggalkan berhari-hari. Jeff menaiki tangga dua anak tangga sekaligus. Pintu kamar Chris terbuka. Ranjangnya kosong. Selimutnya tersibak, seolah seseorang mengangkatnya dari sana dengan tergesa-gesa. Di atas bantal, tergeletak dua helai bulu. Sehelai putih, sehelai lagi hitam dan panjang, jauh lebih besar daripada bulu burung mana pun.
Jeff berdiri di ambang pintu dan menatap kedua bulu itu sampai matanya perih. Lalu ia berbalik dan berlari.
Bu Marta tinggal di Gang Pelabuhan, di rumah petak sempit di sebelah rumah lama mereka, dan Jeff tidak ingat bagaimana ia sampai di sana. Ia ingat atap-atap yang ia lompati, gerimis yang menampar wajahnya, dan lampu-lampu pelabuhan yang berkelip di kejauhan. Ia ingat menyadari, di tengah lompatan di atas sebuah gudang, bahwa ia masih mengenakan seragam Guardian-nya, dan bahwa tidak seorang pun di jalan-jalan di bawahnya bisa melihatnya. Ia mendarat di gang di belakang rumah Bu Marta, berlutut di genangan air, dan memejamkan mata.