Malam itu Jeff tidak kembali ke kamar tiga belas. Pendeta Abraham berbicara sebentar dengan perawat jaga, seorang perempuan bertubuh gempal yang rupanya pernah dibaptis di Gereja White Rose, dan perawat itu mengizinkan Jeff tetap tinggal di kapel selama yang ia mau. Bu Marta bersikeras menunggui Chris di atas, dengan termos teh melatinya dan sebotol minyak angin yang tidak pernah lepas dari genggamannya. Abraham sendiri pulang menjelang pukul sembilan setelah menepuk bahu Jeff dua kali dan berjanji akan kembali sebelum matahari terbit. Maka tinggallah Jeff sendirian, di bangku kayu terdepan, di bawah cahaya lampu dinding yang kekuningan, dengan buku catatan ayahnya terbuka di atas lutut.
Cincin di jarinya tetap dingin. Batu hitam itu kusam seperti kerikil di dasar parit, dan untuk pertama kalinya sejak malam di persimpangan Jalan Lindell, Jeff benar-benar merasa sendirian di dalam kepalanya sendiri. Rasanya aneh. Rasanya seperti melepas mantel basah yang sudah terlalu lama ia kenakan hingga ia lupa betapa beratnya.
Ia membalik halaman kedua.
Hari pertama. Aku menulis ini di rumah sakit Santa Agnes, di kapel lantai dasar, karena hanya di sini aku bisa berpikir tanpa merasa ada yang ikut membaca dari balik bahuku.
Jeff berhenti membaca. Ia mengangkat kepala dan menatap kapel itu. Bangku-bangkunya, salibnya, jendela kaca patri bergambar perempuan berjubah biru. Ayahnya pernah duduk di sini. Mungkin di bangku yang sama. Mungkin dengan buku yang sama terbuka di atas lututnya, dan cahaya lampu yang sama jatuh di halamannya. Bulu kuduknya meremang, dan ia kembali menunduk.
Jeffrey sakit. Usianya baru dua tahun, dan paru-parunya penuh cairan. Dokter bilang ini radang paru-paru yang terlambat ditangani. Dokter bilang kami harus bersiap. Helena tidak mau beranjak dari samping ranjangnya. Ia berdoa dan berdoa, dan aku tidak sanggup melihat wajahnya ketika ia berdoa, karena aku tahu ia sedang memohon sesuatu yang tidak bisa kuberikan.
Lalu, tadi malam, aku mendengar suara itu.
Jeff merasakan sesuatu yang dingin merayap turun di tulang punggungnya. Ia membaca kalimat itu sekali lagi, lalu sekali lagi, seolah dengan begitu huruf-hurufnya akan berubah.
Suara itu menawarkan kesembuhan. Suara itu menawarkan uang untuk membayar rumah sakit, untuk membayar dokter terbaik, untuk membayar semua yang tidak sanggup kubayar dengan gajiku di pabrik pengalengan. Suara itu hanya meminta satu hal, yaitu agar aku berjalan ke persimpangan Jalan Lindell dan melangkah masuk.
Aku tahu ini bukan dari Tuhan. Aku tidak sebodoh itu. Tapi Jeffrey batuk sampai bibirnya membiru, dan aku seorang ayah. Maka aku pergi.
Jeff menutup buku itu. Ia tidak sanggup meneruskan, tidak untuk sesaat. Ia menatap lantai kapel, ke ubin-ubin kelabu yang tersusun rapi, dan mencoba bernapas dengan teratur.
Ia tidak ingat pernah sakit. Tentu saja tidak, karena ia baru dua tahun. Namun ibunya pernah bercerita, dulu sekali, sambil menyisir rambutnya di depan cermin, bahwa Jeff pernah hampir pergi. Kau anak keajaiban, begitu kata ibunya. Dokter sudah menyerah, tapi kau sembuh dalam semalam. Tuhan masih menginginkanmu di sini.
Bukan Tuhan, pikir Jeff, dan pikiran itu terasa seperti menelan batu. Bukan keajaiban. Ayahnya yang berjalan ke persimpangan itu di tengah malam, berdiri di depan lubang-lubang hitam yang sama, dan memilih untuk melangkah masuk. Ia hidup karena sebuah kontrak. Ia hidup karena ayahnya menjual sesuatu yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
Ia membuka buku itu lagi.
Catatan-catatan berikutnya ditulis dengan tergesa-gesa, kadang hanya beberapa baris, kadang berhalaman-halaman. Ada yang ditulis dengan pensil yang tumpul, ada yang dengan tinta yang meluber, seolah Mark menulisnya dengan tangan yang gemetar. Tanggal-tanggalnya melompat-lompat, berminggu-minggu, kadang berbulan-bulan, dan Jeff membacanya satu demi satu seperti orang yang menyusuri jalan setapak dalam gelap.
Ia membaca tentang hari pertama ayahnya di Dunia Arwah, tentang empat arwah perempuan di dekat sebuah sungai kering, tentang kapak bergagang naga yang jatuh ke tangannya. Ia membaca tentang Azazael, yang dalam tulisan ayahnya disebut si Merah atau dia yang selalu tersenyum. Ia membaca tentang Dark Castle, tentang penjaga bermata kaca, tentang tiga belas anak tangga di aula singgasana. Semuanya begitu akrab hingga Jeff merasa sedang membaca catatan hariannya sendiri, ditulis oleh tangan orang lain.
Lalu ia sampai pada sebuah catatan yang membuatnya duduk tegak.
Sayap. Aku tidak tahu harus menulis apa tentang ini. Hari ini, ketika aku jatuh dari tebing di utara Dunia Arwah, sepasang sayap putih tumbuh dari punggungku dan menangkapku sebelum aku menghantam batu. Si Merah melihatnya. Aku tidak pernah melihat wajahnya seperti itu. Ia bilang itu bagian dari kontrak. Ia bohong. Aku tahu ia bohong, karena tangannya gemetar ketika ia mengatakannya.
Jeff menatap halaman itu lama sekali. Bagian dari paket, kata Azazael kepadanya di padang gersang itu, dengan senyum yang kembali terlalu cepat. Kebohongan yang sama, dua puluh lima tahun kemudian, dengan kata-kata yang nyaris sama. Iblis itu bahkan tidak repot-repot mencari kebohongan yang baru.
Beberapa halaman kemudian, tulisan ayahnya berubah. Lebih tenang. Lebih hangat.
Christine lahir hari ini. Ia punya lesung pipit Helena dan suara tangis yang bisa membangunkan seluruh Gang Pelabuhan. Jeffrey, yang sudah berumur sepuluh tahun dan merasa dirinya sangat dewasa, menggendongnya dengan kedua lengan yang kaku dan wajah yang serius sekali, seolah adiknya terbuat dari kaca. Ia bilang ia akan menjaganya. Aku percaya kepadanya.
Jeff menekan punggung tangannya ke mulut. Ia ingat hari itu. Ia ingat bau bedak bayi dan lantai rumah sakit, ia ingat betapa kecilnya tangan Chris yang menggenggam jarinya, dan ia ingat janji yang ia ucapkan dengan suara cempreng anak sepuluh tahun. Ia tidak tahu bahwa ayahnya menuliskannya. Ia tidak tahu bahwa ayahnya, pada hari yang sama, juga sedang menyimpan rahasia sebesar ini.
Ia berkedip keras, dan ia tidak menangis. Maka ia membalik halaman.
Aku bermimpi lagi tentang lelaki berpakaian putih itu. Mimpi yang sama dengan yang kualami sehari sebelum Jeffrey lahir, hanya saja kali ini ia mengatakan lebih banyak.