Kamar tiga belas di lantai tiga Rumah Sakit Santa Agnes menghadap ke pelabuhan. Dari jendelanya, kalau langit sedang cerah, orang bisa melihat kapal-kapal barang yang berlabuh di dermaga timur, derek-derek baja yang menjulang seperti leher burung bangau, dan atap-atap seng Gang Pelabuhan yang berkilau di bawah matahari. Hari itu langit tidak cerah. Hari itu kabut laut menggantung rendah di atas air, dan seluruh kota tampak seperti lukisan cat air yang dibiarkan basah terlalu lama.
Jeff duduk di kursi plastik di samping ranjang adiknya sejak pagi. Ia sudah menghabiskan roti isi kacang dari Abraham, dua gelas kopi dari mesin di lorong, dan sepiring nasi dengan sup ayam yang dibawakan Bu Marta dari kantin. Perutnya masih lapar, seperti biasa, tapi ia tidak beranjak. Ia memegangi tangan Chris yang hangat dan diam, dan ia bicara.
Ia bicara tentang apa saja. Tentang Pak Hollis yang kini memasang papan nama baru di depan tokonya, dengan huruf-huruf emas yang terlalu besar untuk ukuran tokonya yang kecil. Tentang anjing kurap di ujung gang yang dulu selalu mengejarnya setiap kali ia lewat dengan karung barang bekas, dan yang kemarin, menurut Bu Marta, akhirnya diadopsi oleh seorang nelayan tua. Tentang ombak di pantai Rosehill, tentang pohon-pohon ek di halaman, tentang betapa sepinya rumah besar itu tanpa suara Chris yang bersenandung di dapur.
Ketika ia kehabisan cerita, ia mengambil buku dari tas sekolah Chris, yang dibawakan Bu Marta dari rumah. Sebuah novel tebal bersampul biru dengan gambar menara di atas bukit, dibeli di Bornwell, dengan selembar kertas tiket bus terselip di tengahnya sebagai pembatas. Jeff membuka halaman itu dan mulai membaca dengan suara keras. Ia bukan pembaca yang baik. Ia tersandung pada kata-kata panjang dan salah menyebut nama-nama tokohnya, dan sesekali ia berhenti untuk mengomentari keputusan para tokoh itu, seolah Chris bisa mendengarnya dan memutar bola matanya seperti biasa.
Kakak bacanya jelek sekali, pasti begitu kata Chris kalau ia bisa bicara. Biar aku saja.
Namun Chris tidak bicara. Mesin di samping ranjangnya terus berbunyi, pelan dan teratur, dan dadanya naik turun dengan irama yang sama sejak pagi.
Dokter Hendricks datang menjelang siang. Ia lelaki setengah baya dengan kacamata berbingkai tipis dan suara yang terlalu lembut untuk ukuran tubuhnya yang tinggi besar. Ia memeriksa mata Chris dengan senter kecil, mendengarkan detak jantungnya, membaca angka-angka di layar, lalu menghela napas.
“Semuanya normal,” katanya, dan dari caranya mengucapkan kata itu, Jeff tahu bahwa itulah yang membuatnya cemas. “Otaknya aktif. Jantungnya kuat. Tidak ada cedera, tidak ada infeksi, tidak ada racun di darahnya. Secara medis, adik Anda hanya sedang tidur.” Ia melepas kacamatanya dan memijit pangkal hidungnya. “Saya sudah bekerja di rumah sakit ini selama dua puluh tahun, Tuan Christensen. Saya belum pernah melihat yang seperti ini.”
“Apa yang akan terjadi kalau ia tidak bangun?” tanya Jeff.
Dokter Hendricks memasang kembali kacamatanya. “Kami akan terus memberinya cairan dan nutrisi melalui infus. Tubuh muda bisa bertahan cukup lama dengan cara itu. Tapi tidak selamanya.” Ia menatap Chris, lalu menatap Jeff, dan ada sesuatu yang ragu di matanya, seolah ia ingin mengatakan hal yang tidak pantas diucapkan oleh seorang dokter. “Kalau Anda orang yang berdoa,” katanya akhirnya, “sekarang saat yang baik untuk melakukannya.”
Setelah dokter itu pergi, Jeff duduk diam lama sekali. Ia teringat pada kalimat terakhir yang ditulis ayahnya, kalimat yang ditulis dengan huruf-huruf kecil dan rapi seolah sudah dipikirkan matang-matang. Jangan percaya pada apa pun yang ia katakan tentang adikmu. Ia teringat pada makhluk bersayap hitam di Lembah Kabut, yang memanggilnya Anak Mark, yang menghantamnya tanpa melukainya. Ia tidak aman bersamamu selama tali itu masih melingkar di jarimu.
Ia menatap cincin di jarinya. Batu hitam itu menghadap ke telapak tangannya, seperti yang selalu ia lakukan sekarang setiap kali berada di dekat Chris. Ia tidak tahu apakah itu ada gunanya. Ia tidak tahu apakah Azazael melihat melalui batu itu, atau melalui matanya sendiri, atau melalui sesuatu yang lain sama sekali. Yang ia tahu hanyalah bahwa ia tidak ingin iblis itu menatap wajah adiknya.
“Aku akan menemukanmu,” bisiknya kepada Chris. “Aku janji. Dan kali ini, aku tidak akan berbohong tentang ke mana aku pergi.”
Panggilan itu datang menjelang sore, ketika kabut laut mulai menipis dan sinar matahari yang miring menyelinap masuk melalui jendela, menyepuh lantai kamar dengan warna tembaga.
Mula-mula hanya kehangatan. Jeff merasakannya di pangkal jari manisnya, seperti sentuhan cangkir teh yang baru diisi. Ia mengabaikannya. Bu Marta tertidur di sofa di sudut kamar dengan mulut sedikit terbuka dan termos teh melati yang terguling di pangkuannya, dan Jeff sedang membaca bab ketujuh novel bersampul biru itu, tentang seorang pangeran yang dikhianati oleh saudaranya sendiri.
Lalu kehangatan itu berubah menjadi panas.
Anak Muda. Suara Azazael terdengar riang seperti biasa, tapi lebih dekat, lebih mendesak. Waktumu sudah habis.
Jeff menutup bukunya perlahan. “Kau bilang satu hari,” bisiknya, cukup pelan agar Bu Marta tidak terbangun. “Masih ada beberapa jam lagi.”
Aku tahu apa yang kukatakan. Tapi sesuatu telah terjadi, dan kau perlu mendengarnya sekarang. Tentang adikmu.
Jantung Jeff berhenti sedetik. Ia menatap Chris, yang masih tidur dengan wajah tenang dan napas yang teratur, lalu ia menatap cincin di jarinya. Batu hitam itu masih menghadap ke telapak tangannya, tapi ia bisa merasakan denyutnya, cepat dan panas seperti jantung binatang kecil yang ketakutan.
“Katakan saja di sini.”
Tidak bisa. Bukan hal yang bisa kubisikkan. Ada jeda, dan di dalam jeda itu, untuk pertama kalinya, Jeff mendengar sesuatu yang lain di balik keriangan suara itu. Sesuatu yang tajam dan tidak sabar. Kembalilah, Anak Muda. Sekarang.
“Tidak.”
Panas di jarinya meledak.
Rasanya seperti mencelupkan tangan ke dalam minyak mendidih. Jeff menggigit bibirnya keras-keras untuk menahan jeritan, dan buku bersampul biru itu terlepas dari pangkuannya dan jatuh ke lantai dengan bunyi gedebuk. Bu Marta bergerak di sofa, menggumamkan sesuatu tentang ikan asin, lalu kembali mendengkur. Jeff tersaruk-saruk berdiri. Ia tidak ingin Bu Marta melihat ini. Ia tidak ingin siapa pun melihat ini, terutama Chris, meskipun Chris tidak bisa melihat apa-apa.
Ia berjalan sempoyongan ke kamar mandi kecil di sudut kamar, menutup pintunya, dan bersandar di wastafel. Di bawah lampu neon yang berkedip-kedip, ia melihat kulit di sekeliling cincin itu memerah, melepuh, mengeluarkan asap tipis yang berbau seperti korek api yang baru dinyalakan.