Membaca dengan ujung jari ternyata jauh lebih sulit daripada yang Jeff bayangkan. Huruf-huruf itu diukir dengan pisau kecil, barangkali pisau saku yang sama yang dipakai ayahnya untuk mengukir heksagram di sampul jurnal itu. Alur-alurnya dangkal dan tidak rata. Ada huruf yang terlalu dalam hingga serat kayunya terbelah, ada yang terlalu tipis hingga nyaris tidak terasa. Jeff harus meraba setiap lengkungan berkali-kali, menebak, menghapus tebakannya, lalu menebak lagi. Kukunya tersangkut di serpihan kayu. Lengannya pegal karena terus terangkat di celah sempit antara bingkai dan dinding batu. Dan sepanjang waktu itu, matanya tetap terpejam rapat, karena ia tahu bahwa begitu ia membukanya, siapa pun yang mengintip melalui batu hitam di jarinya akan ikut melihat apa yang sedang ia sentuh.
Ia membutuhkan waktu hampir satu jam untuk membaca tiga baris.
Perpustakaan di bawah sayap barat.
Rak terakhir, di balik Kitab Ratapan.
Katakan kepada Orvel: Helena menanam mawar putih.
Itu saja. Tidak ada salam, tidak ada penjelasan, tidak ada permintaan maaf seperti di halaman pertama jurnal itu. Hanya tiga baris yang ditulis oleh seorang lelaki yang tahu bahwa ia tidak punya banyak waktu, untuk seseorang yang ia harap akan datang suatu hari nanti dan meraba-raba dalam gelap. Jeff menarik tangannya dari belakang lukisan itu perlahan-lahan, membersihkan serpihan kayu dari ujung jarinya, dan berjalan kembali ke ranjang dengan mata masih terpejam. Ia baru membukanya setelah berbaring telentang dan menatap langit-langit.
Langit-langit itu terbuat dari batu hitam yang sama dengan seluruh kastel, dan tidak ada apa pun di sana yang menarik untuk dilihat. Justru karena itulah Jeff menatapnya. Ia menatapnya sampai api di perapian padam menjadi bara ungu, sampai bulan jingga di balik jendela merayap dari satu sisi ke sisi lainnya, sampai kelopak matanya terasa berat seperti dibebani timah.
Helena menanam mawar putih.
Ibunya. Mawar-mawar di halaman samping Gereja White Rose. Ayahnya memilih ibunya sebagai kata sandi, sebagai kunci, sebagai satu-satunya hal di dunia yang tidak akan pernah bisa ditebak oleh iblis mana pun, karena iblis tidak pernah peduli pada siapa yang menanam bunga. Jeff tertidur dengan kalimat itu di bibirnya.
“Perpustakaan?” Azazael mengangkat sebelah alisnya, atau setidaknya bagian kulit di atas matanya yang berfungsi sebagai alis. “Kau ingin membaca?”
Mereka sedang berjalan di lorong lantai tiga Dark Castle keesokan paginya, atau setidaknya pada jam yang di sini disebut pagi, karena bulan jingga sudah naik sedikit lebih tinggi dan api-api di dinding berubah dari ungu kembali menjadi merah. Jeff sudah memikirkan kata-katanya semalaman. Ia sudah memilih setiap kalimat seperti memilih batu loncatan di sungai yang deras.
“Kau bilang serigala itu lebih kuat daripada apa pun yang pernah kuhadapi,” katanya. “Kitab Para Iblis hanya punya satu halaman tentang iblis murni, dan isinya lebih banyak tentang cara menghindari mereka daripada cara melawan mereka. Kalau aku harus masuk lagi ke dalam kabut itu, aku ingin tahu apa yang akan kuhadapi.” Ia mengangkat bahu. “Kecuali kalau kau punya ide yang lebih baik.”
Azazael menatapnya lama. Lalu senyumnya melebar, perlahan, seperti tirai yang dibuka.
“Kau mulai belajar, Anak Muda,” katanya, dan ada kepuasan yang tulus dalam suaranya, kepuasan seorang tukang kebun yang melihat tanamannya tumbuh ke arah yang ia inginkan. “Perpustakaan ada di bawah sayap barat. Ikuti tangga melingkar di ujung lorong itu sampai kau tidak bisa turun lagi.” Ia berhenti sebentar. “Dan jangan ganggu pustakawannya. Ia sudah tua, cerewet, dan sudah lama sekali tidak bicara dengan siapa pun yang masih bernapas. Ia bisa membuatmu tuli kalau kau memberinya kesempatan.”
“Pustakawan?”
“Arwah lama. Ia menjual jiwanya demi pengetahuan, dan Yang Agung, yang punya selera humor yang cukup baik untuk ukuran makhluk setua dia, memberinya persis apa yang ia minta.” Azazael terkekeh. “Ia bisa membaca semua buku di dunia. Ia hanya tidak bisa pergi ke mana pun untuk menceritakannya.”
Tangga melingkar itu turun dan terus turun, jauh lebih dalam daripada yang masuk akal untuk sebuah bangunan, seolah perpustakaan itu tidak terletak di bawah kastel melainkan di bawah dunia itu sendiri. Dinding-dindingnya lembap dan dingin. Obor-obor di sepanjang tangga menyala dengan api biru yang tidak memberi kehangatan sama sekali. Jeff menghitung anak tangga sampai angka tiga ratus, lalu berhenti menghitung karena itu hanya membuatnya pusing.
Ketika akhirnya ia sampai di dasar, ia berdiri terpaku di ambang pintu dengan mulut sedikit terbuka.
Ia pernah masuk ke perpustakaan kota Grand Mare sekali, ketika masih kecil, bersama ibunya, dan ia ingat betapa terpesonanya ia oleh rak-rak tinggi yang berderet seperti tembok sebuah kota. Perpustakaan ini membuat perpustakaan kota itu tampak seperti lemari buku di sudut kamar Chris. Rak-raknya menjulang begitu tinggi hingga puncaknya hilang dalam kegelapan, dan berderet begitu jauh hingga ujungnya tidak terlihat. Tangga-tangga kayu yang panjang bersandar di rak-rak itu, sebagian bergerak sendiri dengan derit pelan, meluncur di atas rel besi dari satu sisi ke sisi lain. Lilin-lilin melayang di udara tanpa tempat lilin, nyalanya kecil dan tenang. Dan buku-buku itu, ribuan, puluhan ribu, barangkali jutaan, sebagian dirantai ke rak dengan rantai besi yang berkarat, sebagian berbisik pelan dalam bahasa-bahasa yang tidak Jeff kenal, sebagian lagi bergetar di tempatnya seperti binatang yang sedang bermimpi buruk.
Udaranya berbau debu, kulit tua, dan tinta.
“Kalau kau mau berdiri di situ dengan mulut terbuka seperti ikan kerapu,” kata sebuah suara yang kering dan tajam, “setidaknya tutup pintunya. Kau membuat buku-buku itu kedinginan.”
Jeff menoleh. Di balik sebuah meja baca besar yang dipenuhi tumpukan buku setinggi bahu, duduk seorang lelaki tua. Tubuhnya kurus seperti ranting, dengan bahu yang membungkuk dan leher yang menjulur ke depan seperti leher bangau. Rambutnya putih dan jarang, mencuat ke segala arah seolah ia sudah berabad-abad tidak menyisirnya. Ia mengenakan jubah cokelat yang sudah pudar dan kacamata bundar berbingkai kawat yang bertengger di ujung hidungnya, dan jari-jarinya yang panjang dan kurus belepotan tinta hitam sampai ke buku-buku jari. Tubuhnya sedikit tembus pandang, seperti tubuh Chris di Lembah Kabut, dan di sekeliling pergelangan kaki kirinya melingkar sebuah rantai perak tipis yang ujungnya terpasang di kaki meja baca itu.
“Maaf,” kata Jeff, lalu menutup pintu di belakangnya.
Lelaki tua itu mendengus. Ia menatap Jeff dari atas kacamatanya, dari ujung rambut sampai ujung sepatu bot baja, lalu kembali ke wajahnya. Tatapannya berhenti di sana lebih lama daripada yang seharusnya.
“Guardian baru,” katanya akhirnya. “Kudengar ada Guardian baru. Kabar menyebar cepat di kastel ini, bahkan sampai ke lubang tikus di bawah tanah seperti tempatku.” Ia meletakkan pena bulunya. “Apa yang kau cari, Guardian? Cara mengalahkan iblis? Cara melarikan diri? Cara membuat roti yang tidak gosong? Aku punya buku tentang semuanya, kecuali yang terakhir. Yang terakhir itu misteri bahkan bagiku.”
Jeff berjalan mendekat. Ia merasakan cincin di jarinya, hangat dan berdenyut pelan, seperti telinga yang ditempelkan ke dinding. Ia tahu ia harus berhati-hati.
“Iblis murni,” katanya. “Aku butuh buku tentang iblis murni. Terutama tentang serigala bersayap hitam yang tinggal di dalam kabut.”
Lelaki tua itu mengangkat alisnya. Lalu ia mengangguk perlahan, bangkit dari kursinya dengan derak tulang yang terdengar jelas, dan berjalan ke salah satu rak di dekatnya, menyeret rantai perak di kakinya dengan bunyi gemerincing yang halus. Ia mengambil sebuah buku tebal bersampul hitam dan membawanya kembali ke meja.