Astral Guardian

Marion Drossi
Chapter #16

Mammon

Jeff sedang membaca halaman yang sama untuk ketiga kalinya ketika pintu kamarnya terbuka tanpa diketuk. Bestiarium Jurang jilid khusus itu terbuka di pangkuannya, pada halaman tentang Marchosias, dan ia tidak sempat menutupnya. Maka ia membiarkannya terbuka, seolah itu memang bacaan yang paling wajar di dunia bagi seorang Guardian yang baru saja diperintahkan untuk memburu iblis pemberontak.

“Rajin sekali,” kata Azazael. Iblis itu melirik halaman yang terbuka, lalu tersenyum. “Bagus. Kenali musuhmu, begitu kata manusia, bukan? Meski menurutku, mengenali teman sendiri jauh lebih sulit.”

“Ada tugas?” tanya Jeff.

“Ada undangan.” Azazael mengeluarkan sehelai kartu dari balik jubahnya dan menjatuhkannya ke atas buku. Kartu itu tebal, berat seperti lempengan logam, dan tepiannya disepuh emas. Di tengahnya tercetak satu kata dengan huruf yang meliuk-liuk, dan cincin di jari Jeff menghangat untuk menerjemahkannya. Datanglah. Tidak ada tanda tangan, tidak ada nama, hanya sebuah lambang kecil di sudut bawah, yaitu timbangan dengan dua piringan yang tidak pernah seimbang.

“Mammon,” kata Azazael, dan untuk pertama kalinya Jeff mendengar iblis itu mengucapkan sebuah nama seperti orang menelan obat yang pahit. “Pangeran keserakahan. Penguasa tingkat ketiga. Ia ingin melihat Guardian yang baru, dan sayangnya, aku berutang budi kepadanya untuk urusan lama yang tidak perlu kau ketahui.”

“Kau berutang pada seseorang?”

“Semua orang berutang pada Mammon, Anak Muda. Itu memang keahliannya.” Azazael mencondongkan tubuh dan, untuk sesaat, senyumnya menghilang. “Dengarkan aku baik-baik. Jangan menerima apa pun darinya. Jangan minum, jangan makan, jangan memegang sesuatu yang ia sodorkan. Jangan menjual apa pun, dan yang paling penting, jangan pernah bertanya berapa harganya. Begitu kau bertanya, kau sudah separuh membeli.”

Jeff menatap kartu itu. Ia takut, pikirnya, dan pikiran itu mengejutkannya. Bukan untukku. Ia takut kehilangan sesuatu yang sudah ia anggap miliknya.

“Baik,” katanya.

 

Tingkat ketiga neraka adalah pasar yang tidak pernah tutup. Jeff menyadarinya begitu Lubang Hitam memuntahkannya di tengah sebuah jalan yang dilapisi ubin kuning pucat, dan bunyi pertama yang ia dengar adalah dentingan. Dentingan logam beradu logam, ribuan, puluhan ribu, datang dari segala arah sekaligus, seperti hujan yang turun di atas atap seng. Ia mendongak dan melihat sumbernya. Di setiap sudut jalan, di setiap jendela, di setiap pintu, tergantung timbangan. Ada yang sebesar telapak tangan, ada pula yang sebesar rumah, dan semuanya terus bergerak naik turun meski tidak ada yang meletakkan apa pun di atasnya.

Arwah-arwah memenuhi jalan itu. Berbeda dengan barisan bisu di kota Baal, arwah di sini bergerak dengan tergesa-gesa, saling menyikut, saling menyalip, dan masing-masing memanggul karung di punggungnya. Karung-karung itu besar dan menggembung, dan dari celah-celahnya, Jeff melihat kilau emas. Para arwah itu membungkuk begitu rendah di bawah beban mereka hingga wajah mereka nyaris menyentuh ubin, tapi tidak satu pun dari mereka mau meletakkan karungnya. Seorang lelaki tua tersandung tepat di depan Jeff. Karungnya robek sedikit, dan sekeping koin menggelinding keluar. Lelaki itu menjerit seolah kehilangan anaknya, lalu merangkak mengejar koin itu, dan tiga arwah lain menerkam koin yang sama.

Jeff melangkahi mereka tanpa menoleh. Ia sudah belajar untuk tidak menoleh di tempat-tempat seperti ini.

Istana Mammon berdiri di ujung jalan, dan istana itu terbuat dari kaca. Bukan kaca biasa, tentunya kaca yang begitu tebal hingga warnanya kehijauan, seperti dasar botol tua. Dinding-dindingnya bersusun-susun menjadi lemari raksasa, dan di setiap ruang di dalam lemari itu tersimpan sesuatu. Jeff melihat mahkota, perhiasan, lukisan, guci, dan senjata. Ia juga melihat hal-hal yang tidak masuk akal untuk disimpan. Sepasang sepatu bayi, sepucuk surat cinta yang belum dibuka, sebuah kotak musik kecil, seutas rambut yang diikat pita. Ia tidak tahu kenapa benda-benda itu membuat perutnya mual lebih daripada karung-karung emas di luar sana.

Seorang pelayan menyambutnya di pintu. Pelayan itu adalah arwah perempuan dengan wajah yang tertutup kerudung emas, dan ia tidak berbicara. Ia hanya membungkuk dan berjalan, dan Jeff mengikutinya menyusuri lorong demi lorong yang berkilauan, sampai mereka tiba di sebuah ruangan bundar yang sederhana. Ada sebuah meja kecil, dua kursi, dan seperangkat cangkir teh. Hanya itu.

Di salah satu kursi, duduk seorang lelaki yang sedang menuang teh.

 

Jeff sudah bertemu Abaddon, Belphegor, dan Baal. Ia sudah terbiasa dengan iblis yang membuat ruangan terasa sempit, iblis yang membuat udara terasa berat. Mammon tidak seperti itu. Mammon tampak seperti saudagar yang baik hati. Tubuhnya sedang, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu besar, dan ia mengenakan setelan berwarna anggur yang dijahit dengan sangat rapi. Kulitnya berwarna perunggu tua, kulit yang mengilap seperti patung yang terlalu sering disentuh. Di kepalanya, dua tanduk pendek melengkung ke belakang, dan kedua tanduk itu disepuh emas hingga berkilauan. Setiap jarinya memakai cincin, kadang dua, kadang tiga. Namun matanya yang membuat Jeff berhenti melangkah. Mata itu bulat dan berkilau seperti dua keping koin yang baru dipoles, dan di permukaannya, Jeff melihat bayangan dirinya sendiri.

Bukan bayangan dirinya yang sekarang. Di mata kiri Mammon, Jeff melihat dirinya duduk di meja makan rumah Rosehill, dan Chris tertawa di seberangnya. Di mata kanan, ia melihat dirinya berdiri di pantai, dan di sampingnya, dua sosok yang sangat ia kenal sedang melambai.

Jeff memalingkan wajahnya cepat-cepat.

“Ah,” kata Mammon. Suaranya lembut dan hangat, seperti madu yang dipanaskan. “Maafkan aku. Mataku memang suka menunjukkan apa yang paling diinginkan tamu. Kebiasaan buruk. Duduklah, Guardian. Tehnya masih panas.”

“Aku berdiri saja.”

“Azazael sudah memberimu nasihat, rupanya.” Mammon tertawa kecil, tidak tersinggung sedikit pun. Ia meletakkan teko dan menyesap tehnya sendiri. “Jangan menerima, jangan menjual, jangan bertanya harga. Ia mengatakan hal yang sama kepada setiap Guardian yang ia kirim kemari. Kau tahu kenapa? Karena ia sendiri pernah bertanya.”

Jeff tidak menjawab. Ia berdiri di dekat pintu dengan tangan kiri di gagang kapaknya, dan ia memastikan matanya tidak bertemu dengan mata koin itu.

“Kau mirip dia,” kata Mammon lagi, setelah beberapa saat. “Ayahmu. Ia juga berdiri di situ, tepat di situ, dengan tangan di gagang kapak. Ia juga tidak mau duduk.” Ia memiringkan kepalanya. “Tapi ia pada akhirnya datang juga kepadaku. Bukan di sini. Di dunia manusia, di sebuah kota kecil di pegunungan. Kau tahu nama kota itu, bukan?”

Jantung Jeff berdebar sekali, keras sekali. Ia tidak mengatakan apa-apa.

“Rottenburg,” kata Mammon dengan lembut. Ia mengucapkan nama itu seperti seseorang yang mengecap anggur.

 

Mammon tidak memberinya tugas. Jeff menunggu, berdiri di dekat pintu, dan menit-menit berlalu tanpa ada satu perintah pun. Iblis itu hanya minum teh, bercerita tentang koleksinya, tentang sepasang sepatu bayi yang dijual seorang ibu demi sebongkah roti, tentang surat cinta yang ditukar seorang pemuda dengan sebuah jabatan. Ia bercerita dengan nada sayang, seperti seorang kolektor yang memamerkan prangko-prangko langka. Barulah ketika tehnya habis, ia meletakkan cangkirnya dan menatap Jeff lurus-lurus.

“Adikmu tertidur,” katanya.

Ruangan itu menjadi sangat sunyi.

“Ia berbaring di kamar nomor tiga belas, di lantai tiga sebuah rumah sakit di atas bukit. Tubuhnya hangat. Jantungnya berdetak. Tapi jiwanya tidak di sana, dan dokter-dokter manusia yang malang itu tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.” Mammon menyatukan ujung-ujung jarinya yang penuh cincin. “Aku tahu di mana jiwanya sekarang. Aku tahu siapa yang menyembunyikannya, dan yang lebih menarik lagi, aku tahu siapa yang menginginkannya. Dua hal yang sangat berbeda, Guardian. Sangat berbeda.”

Jeff mencengkeram gagang kapaknya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia ingin menerjang meja itu. Ia ingin mencengkeram kerah setelan anggur itu dan mengguncangnya sampai semua jawaban jatuh keluar. Namun ia tahu, ia tahu dengan cara yang sama ia tahu bahwa api itu panas, bahwa begitu ia menyentuh iblis ini, ia akan kalah.

“Kau ingin tahu,” kata Mammon. Itu bukan pertanyaan. “Tentu saja kau ingin tahu. Dan aku tidak akan memintamu bertanya berapa harganya, sebab aku bukan pedagang yang kasar. Aku akan memberitahumu dengan sukarela.” Ia tersenyum. “Harganya murah sekali. Satu kenangan saja.”

“Kenangan apa?”

Lihat selengkapnya