Astral Guardian

Marion Drossi
Chapter #17

Utang di Rottenburg

Rottenburg terletak di punggung pegunungan sebelah timur laut Grand Mare, empat jam perjalanan bus dari pelabuhan, dan selama lima tahun, kota itu hanyalah sebuah nama di atas selembar kertas. Jeff masih ingat kertas itu. Laporan polisi, dua halaman, diketik dengan mesin tik yang huruf e-nya sudah aus. Kendaraan tergelincir di tikungan Jalan Pinus pada pukul dua belas lewat beberapa menit. Jalanan licin karena hujan. Tidak ada saksi. Kedua penumpang meninggal di tempat. Ia membaca laporan itu berkali-kali sampai lipatannya robek, dan setiap kali, ia merasa ada sesuatu yang hilang di antara kalimat-kalimatnya, sesuatu yang tidak diketik oleh siapa pun.

Lubang Hitam menurunkannya di tepi hutan pinus, tidak jauh dari gapura kota. Udara di sini tipis dan dingin, berbau getah dan tanah basah, dan kabut menggantung rendah di antara batang-batang pohon seperti selendang yang tersangkut. Dari tempatnya berdiri, Jeff bisa melihat atap-atap rumah yang curam dan berlumut, cerobong-cerobong asap yang mengepul, dan sebuah menara gereja kecil yang loncengnya berbunyi dua kali, entah untuk menandai jam berapa.

Ia memejamkan mata dan membiarkan seragamnya luruh. Mantel hitam, pelindung lengan, sepatu baja, semuanya larut seperti asap, dan ketika ia membuka mata, ia hanya mengenakan jaket lusuh dan celana kerjanya yang lama, pakaian yang sama dengan yang ia kenakan pada pagi pertama di persimpangan Jalan Lindell. Kapaknya lenyap dari pinggang. Cincinnya tetap tinggal, perak dan dingin, dengan batu hitam yang sudah ia putar menghadap ke telapak tangan.

Biar ia melihat, pikirnya lagi, mengulang tekad yang ia buat semalam. Namun kali ini, tekad itu terasa sedikit lebih tipis.

 

Tikungan Jalan Pinus tidak sulit ditemukan. Jalan itu satu-satunya jalan yang naik dari lembah, berkelok-kelok di lereng seperti seutas tali yang dijatuhkan sembarangan, dan tikungan yang paling tajam berada tepat sebelum gapura kota. Di sana, pagar pembatas dari besi tampak lebih baru daripada bagian-bagian lainnya. Catnya masih putih bersih, belum dimakan karat. Di baliknya, lereng jatuh curam ke arah jurang yang dipenuhi pinus.

Jeff berdiri di depan pagar itu lama sekali. Ia tidak tahu apa yang ia harapkan. Barangkali sebuah tanda. Sebuah salib kayu kecil, setangkai bunga yang layu, apa saja yang menunjukkan bahwa dua orang pernah berakhir di sini dan seseorang pernah peduli. Namun tidak ada apa-apa. Hanya pagar putih yang dingin dan aspal yang retak dan rumput liar yang tumbuh di sela-selanya. Dunia sudah melanjutkan hidupnya, seperti biasa, tanpa menunggu siapa pun.

Ia berlutut dan memetik beberapa tangkai bunga liar yang tumbuh di tepi jalan. Bunga-bunga kecil berwarna kuning pucat, ia tidak tahu namanya. Ia mengikatnya dengan sehelai rumput panjang dan meletakkannya di kaki pagar.

“Maaf, aku baru datang sekarang,” katanya pelan. “Kami tidak punya uang untuk ongkos bus. Chris menangis berhari-hari karena tidak bisa ke sini. Aku bilang padanya, nanti, kalau aku sudah dapat pekerjaan yang lebih baik.” Ia tertawa kecil, tawa yang tidak lucu sama sekali. “Ternyata pekerjaan yang lebih baik itu seperti ini.”

Angin bertiup dari arah jurang, dingin dan lembap, dan membawa aroma hujan. Jeff menggigil. Ia hendak bangkit ketika merasakan sesuatu bergerak di saku jaketnya.

Koin itu. Ia sudah memindahkannya dari mantel ke saku jaket pagi tadi, karena ia tidak tahu harus meletakkannya di mana lagi, dan sekarang koin itu menggeliat seperti ikan kecil yang terjebak. Ia mengeluarkannya. Koin itu hangat, hampir panas, dan ketika ia meletakkannya di telapak tangan, koin itu berputar sendiri dengan perlahan sampai sisi bergambar timbangan menghadap ke atas dan ujung timbangan yang lebih berat menunjuk ke arah kota.

“Ya, ya,” gumam Jeff. “Aku tahu.”

 

Rottenburg adalah kota tua yang dibangun oleh para penambang, dan kota itu masih tampak seperti kota yang sedang menunggu tambangnya dibuka kembali. Jalan-jalannya sempit dan berbatu, rumah-rumahnya rapat, dan sebagian besar toko di jalan utama menempelkan papan bertuliskan Tutup atau Dijual. Orang-orang yang berpapasan dengan Jeff tidak menatapnya. Mereka berjalan dengan kepala tertunduk, kerah dinaikkan, seolah kabut di kota ini bukan hanya ada di udara.

Koin itu menuntunnya melewati alun-alun, melewati gereja kecil dengan lonceng yang berbunyi dua kali, lalu masuk ke sebuah gang yang lebih sempit lagi. Di ujung gang itu, ada sebuah toko dengan jendela yang dipenuhi barang-barang. Jam saku, kalung, cincin kawin, biola tanpa senar, sepasang teropong, setumpuk piring porselen. Semuanya berdebu, semuanya diberi label kecil dengan tulisan tangan yang rapi. Di atas pintunya tergantung papan nama dari kayu yang catnya sudah mengelupas.

Vale & Putra. Pegadaian dan Pinjaman. Sejak lama.

Jeff membaca papan itu dan merasakan sesuatu yang pahit di pangkal lidahnya. Ia teringat kalimat dalam laporan polisi. Tujuan perjalanan korban ke Rottenburg tidak diketahui. Ia teringat cerita Pendeta Abraham, tentang ayahnya yang datang menjelang tengah malam di bawah hujan, ketakutan, dan berkata ia harus membayar seorang rentenir. Selama ini ia membayangkan rentenir itu sebagai lelaki bertubuh besar dengan tongkat pemukul di tangan. Ia tidak pernah membayangkan toko kecil berdebu dengan biola tanpa senar di jendelanya.

Ia mendorong pintu. Sebuah lonceng kecil berdenting di atas kepalanya. Bagian dalam toko itu lebih gelap dan lebih sesak daripada yang tampak dari luar. Rak-rak menjulang sampai ke langit-langit, dan setiap raknya penuh. Ada jam dinding di mana-mana, puluhan jam dinding, dan Jeff baru menyadari setelah beberapa saat bahwa tidak satu pun dari jam-jam itu berdetak. Semuanya berhenti, dan semuanya berhenti di waktu yang berbeda-beda. Bau kapur barus dan minyak lampu memenuhi udara.

Di balik meja kayu yang panjang, seorang lelaki tua sedang menulis di sebuah buku besar bersampul kulit merah.

Ia kurus, begitu kurus hingga setelan abu-abunya tampak seperti tergantung di sandaran kursi alih-alih dikenakan oleh seseorang. Rambutnya tipis dan putih, disisir rapi ke belakang dengan minyak. Sebelah matanya memakai kacamata tunggal berbingkai emas yang dikaitkan dengan rantai halus ke saku rompinya. Tangannya penuh bintik-bintik cokelat, dan jari-jarinya yang panjang memegang pena dengan cara yang sangat hati-hati, seolah pena itu terbuat dari kaca.

“Kami sudah tutup,” katanya tanpa mengangkat wajah.

“Papan di pintu bilang buka.”

“Papan di pintu selalu bilang buka. Itu supaya orang-orang yang putus asa tidak perlu mengetuk.” Pena itu berhenti. “Tapi untuk hari ini, khusus untuk hari ini, kami sudah...”

Lelaki tua itu mengangkat wajahnya, dan kalimatnya tidak pernah selesai.

Jeff melihat semua warna lenyap dari wajah keriput itu. Ia melihat kacamata tunggal itu jatuh dari mata kanannya dan berayun-ayun di ujung rantainya. Ia melihat pena itu tergelincir dari jari-jari yang panjang dan menggelinding di atas buku besar, meninggalkan coretan tinta yang panjang seperti luka. Mata lelaki tua itu tidak menatap wajah Jeff. Mata itu menatap tangan kirinya, tangan yang tergantung di sisi tubuhnya, dan cincin perak yang melingkar di jari manisnya.

“Kau,” bisik lelaki itu. “Kau anaknya.”

“Gideon Vale?”

Lelaki tua itu tidak menjawab. Ia hanya menatap cincin itu, dan bibirnya yang tipis bergetar.

Jeff mengeluarkan koin emas dari sakunya dan meletakkannya di atas meja, di atas halaman buku besar yang tercoret tinta. Koin itu berdenting pelan. Sisi bergambar timbangan menghadap ke atas.

Lihat selengkapnya