Astral Guardian

Marion Drossi
Chapter #18

Malam Kecelakaan

Tujuh jam adalah waktu yang sangat panjang untuk duduk di bawah jam-jam yang tidak berdetak.

Jeff tidak tahu bagaimana ia melewatinya. Gideon Vale menyalakan lampu minyak ketika matahari mulai turun di balik pegunungan, dan cahaya kuningnya yang bergoyang-goyang membuat bayangan rak-rak memanjang di lantai seperti jari-jari yang meraih. Lelaki tua itu tidak banyak bicara. Sesekali ia menulis di buku besarnya, sesekali ia hanya duduk dan menatap gelasnya yang kosong, dan sekali, ketika lonceng gereja di alun-alun berbunyi sembilan kali, ia bercerita tentang istrinya. Namanya Agatha. Agatha suka menanam tomat di pot-pot kecil di jendela, dan Agatha tidak pernah tahu dari mana uang untuk obatnya datang, dan ketika Agatha akhirnya meninggal, jam miliknya tidak pernah digantung di dinding toko ini.

“Karena ia tidak berutang apa pun,” kata Gideon Vale. “Yang berutang adalah aku.”

Jeff tidak menanggapinya. Ia memikirkan Chris. Sudah hampir dua minggu sejak adiknya tertidur di kamar nomor tiga belas, dan ia teringat kata-kata Dokter Hendricks tentang infus yang tidak bisa bertahan selamanya. Ia teringat halaman yang ia baca di perpustakaan Orvel, tentang tubuh yang ditinggalkan jiwanya, yang hanya mampu bertahan paling lama empat puluh hari. Ia menghitung di dalam kepalanya, lalu berhenti menghitung, karena angka-angka itu hanya membuat dadanya sesak.

Pelan-pelan, katanya pada dirinya sendiri. Hadapi yang di depan mata dulu.

Ia memandangi jam ibunya. Jam kecil berbingkai kayu ek itu tergantung di dekat pintu, dan dalam cahaya lampu minyak, ia bisa melihat goresan kecil di sudut kanan bawah bingkainya. Goresan itu ia buat sendiri, ketika berumur delapan tahun, dengan ujung pisau dapur, karena ia ingin mengukir namanya dan baru sempat menulis huruf J. Ibunya tidak memarahinya. Ibunya hanya tertawa dan bilang, sekarang jam ini benar-benar milik keluarga kita.

Ia tidak menangis. Ia hanya terus memandang.

 

Pukul sebelas lewat sepuluh menit, Gideon Vale bangkit dari kursinya. Ia berjalan ke sudut toko dengan lampu minyak di satu tangan, dan Jeff mengikutinya. Benda yang tertutup kain hitam itu lebih tinggi daripada mereka berdua, dan ketika lelaki tua itu menarik kainnya dengan satu tarikan yang hati-hati, debu beterbangan di udara seperti salju yang lambat.

Itu memang sebuah cermin. Bingkainya terbuat dari perak yang sudah menghitam, diukir dengan pola daun-daun yang saling membelit, dan di antara daun-daun itu, kalau diperhatikan dengan saksama, ada bentuk-bentuk lain, yaitu puluhan mata kecil yang terpejam, terukir di antara dedaunan seperti buah yang bersembunyi. Permukaan cerminnya sendiri tidak memantulkan apa pun. Permukaan itu kelabu dan diam, seperti air raksa di dalam mangkuk, dan ketika Jeff berdiri di depannya, ia tidak melihat wajahnya sendiri.

“Sebutkan tempatnya,” kata Gideon Vale pelan. “Sebutkan malamnya. Lalu sentuh dengan tangan yang tidak terbungkus. Cermin ini akan menunjukkan apa yang terjadi, tepat pada jam yang sama, lima tahun yang lalu. Kau tidak bisa mengubah apa pun. Kau tidak bisa berbicara dengan siapa pun. Kau hanya bisa melihat.”

“Dan kalau aku ingin berhenti?”

“Kau tidak akan ingin berhenti,” kata lelaki tua itu. “Itu masalahnya.”

Jeff mengangkat tangan kanannya. Jari-jarinya gemetar sedikit, dan ia membiarkannya gemetar. Ia menyebutkan nama toko ini, nama kota ini, dan malam ketika hujan turun begitu lebat hingga selokan di gang meluap. Lalu ia menempelkan telapak tangannya ke permukaan cermin yang kelabu.

Permukaan itu dingin, lalu tidak lagi. Permukaan itu beriak di bawah tangannya seperti kolam yang dilempari batu, dan riak-riak itu menyebar ke tepi bingkai, dan ketika riak itu reda, toko itu ada di sana, di dalam cermin. Toko yang sama, rak-rak yang sama, jam-jam yang sama. Hanya saja lampu-lampunya lebih terang, dan Gideon Vale di balik meja tampak lima tahun lebih muda dan sedikit kurang kurus, dan di luar jendela, hujan turun seperti dinding.

Lonceng di atas pintu berdenting. Dan ayahnya masuk.

 

Jeff tidak siap. Ia mengira ia sudah siap, setelah tujuh jam menunggu, setelah membaca jurnal itu, setelah mengenali wajah itu di dalam lukisan. Namun ia tidak siap melihat ayahnya bergerak. Bernapas. Mengibaskan air hujan dari rambutnya dengan cara yang sama persis seperti yang dulu ia lakukan setiap kali pulang dari pabrik pengalengan, dengan satu gelengan kepala yang cepat seperti anjing basah, sementara ibunya berpura-pura marah karena lantainya basah.

Mark tampak lebih tua daripada yang Jeff ingat. Lebih kurus. Ada garis-garis di wajahnya yang dulu tidak ada, atau barangkali dulu memang sudah ada dan Jeff tidak pernah memperhatikannya, karena anak-anak jarang memperhatikan wajah orang tua mereka. Ia mengenakan jaket kerja cokelat yang sudah pudar di bagian siku, jaket yang kini tergantung di lemari rumah Rosehill karena Chris tidak tega membuangnya. Di jari manis kirinya, cincin perak dengan batu hitam berkilau di bawah lampu.

Di belakangnya, ibunya masuk. Helena mengenakan syal hijau yang ia rajut sendiri, syal yang selalu ia pakai pada hari-hari dingin, dan rambutnya yang cokelat diikat asal-asalan di tengkuk. Ia basah kuyup. Ia tampak lelah. Dan ia memegang tangan ayah Jeff dengan begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, sama seperti Jeff memegang tepi meja tadi siang.

Jeff mengangkat tangan kirinya yang terbungkus kain hitam dan menekannya ke mulutnya sendiri, keras-keras, supaya tidak ada suara yang keluar.

Ia menyaksikan semuanya, persis seperti yang diceritakan Gideon Vale. Cincin yang diletakkan di atas meja. Buku besar yang dibuka. Pena yang diulurkan. Ayahnya yang membaca dengan alis berkerut, bibirnya bergerak-gerak tanpa suara seperti biasa ketika ia membaca sesuatu yang penting. Lalu wajah ayahnya berubah. Jeff melihat perubahan itu dari dekat sekali, lebih dekat daripada yang pernah ia lihat semasa ayahnya hidup, dan ia tidak akan pernah melupakannya. Wajah itu tidak marah. Wajah itu tenang, setenang air yang akhirnya berhenti beriak, seperti seseorang yang baru saja menemukan jawaban dari pertanyaan yang sudah lama mengganggunya.

Aku lebih baik dijemput daripada menjual mereka.

Ibunya menangis. Ibunya mencium tangan ayahnya. Lalu mereka berbalik dan keluar, dan pintu itu berdenting lagi, dan di dalam cermin, Gideon Vale yang lima tahun lebih muda menatap jam di dinding dan menulis sesuatu di buku besarnya.

Cermin itu tidak tinggal di dalam toko. Gambarnya bergerak, mengikuti kedua orang tua Jeff ke luar, ke tengah hujan, seolah cermin itu sendiri tahu siapa yang ingin dilihat oleh orang yang menyentuhnya.

Hujan di dalam cermin itu tidak bersuara, tapi Jeff bisa merasakan dinginnya. Ia melihat kedua orang tuanya berdiri sebentar di mulut gang, di bawah atap seng yang meneteskan air seperti tirai manik-manik. Ayahnya menarik syal hijau ibunya lebih rapat ke leher. Ibunya membiarkannya.

“Seharusnya kau tinggal di rumah,” kata ayahnya. Suaranya terdengar jelas, seolah cermin itu menyampaikannya langsung ke telinga Jeff. Suara itu serak dan rendah dan lembut, dan Jeff sudah lima tahun tidak mendengarnya.

“Dua puluh tahun yang lalu, kau pergi ke persimpangan itu sendirian,” jawab ibunya. “Kali ini tidak.”

“Helena, kalau mereka datang...”

“Biar mereka datang.” Ibunya mengangkat wajah, dan air hujan mengalir di pipinya bercampur dengan sesuatu yang lain. Namun ia tersenyum. “Aku sudah berdoa untuk lelaki yang bekerja di malam hari setiap hari Kamis selama dua puluh tahun, Mark. Tuhan pasti sudah bosan mendengar namamu. Biar Ia mendengarnya sekali lagi.”

Lihat selengkapnya