Astral Guardian

Marion Drossi
Chapter #19

Kembali ke Kabut

Jeff kembali ke Dark Castle dengan jam ibunya terbungkus jaket di bawah lengan, dan secarik kain hitam terselip di dalam sepatu bajanya, tepat di bawah telapak kaki, tempat yang menurutnya paling tidak mungkin diperiksa oleh siapa pun. Gideon Vale tidak meminta bayaran untuk jam itu. Lelaki tua itu hanya mengambilnya dari dinding, membersihkan debunya dengan lengan setelannya, lalu mengulurkannya dengan kedua tangan, seperti seseorang yang mengembalikan barang pinjaman yang sudah terlalu lama ia simpan. Utang ayahmu bukan kepadaku, katanya. Aku hanya penjaga buku. Jeff tidak tahu harus berterima kasih atau marah kepadanya, maka ia tidak melakukan keduanya. Ia hanya mengangguk dan pergi.

Kamarnya di sayap timur kastel masih sama. Api ungu masih menyala di perapian tanpa kayu. Lukisan-lukisan masih tergantung di dinding, dan lelaki dalam lukisan ketiga masih memalingkan wajahnya, hanya saja sekarang Jeff tidak bisa lagi melihat lukisan itu tanpa melihat ayahnya. Ia menggantung jam ibunya di dinding seberang, di atas meja tulis, pada sebatang paku yang ia cabut dari bingkai kursi yang sudah longgar. Jarum-jarumnya tetap menunjuk pukul dua belas lewat tujuh menit. Ia tidak mencoba memutarnya.

Azazael datang tidak lama kemudian, seperti yang sudah ia duga. Iblis itu berdiri di depan jam itu dengan kedua tangan di belakang punggung, memiringkan kepala, mengamatinya seperti seorang pengunjung museum yang mengamati sebuah lukisan yang tidak ia pahami.

“Jam yang manis,” katanya. “Sedikit kusam. Berhenti, pula.”

“Ibuku menggantungnya di dapur selama dua puluh tahun.” Jeff duduk di tepi ranjang dan melepaskan sepatu bajanya yang kiri, perlahan, dengan sengaja, membiarkan Azazael melihat bahwa tidak ada apa-apa di dalamnya. Yang kanan ia biarkan terpasang. “Ia selalu terlambat lima menit. Kata Ayah, itu supaya kami tidak pernah ketinggalan bus.”

“Dan rentenir itu? Si tua Vale?”

“Ia tidak mengatakan apa-apa yang tidak kau ketahui.” Itu benar, pikir Jeff, sebab semuanya memang sudah diketahui Azazael. Ia hanya tidak pernah menduga Jeff akan ikut mengetahuinya. “Ia bilang Ayah datang untuk membayar utang. Ayah tidak bisa membayarnya. Lalu Ayah pergi, dan jalanannya licin.”

Iblis itu berbalik dari jam dan menatapnya. Jeff membalas tatapan itu. Ia membiarkan matanya basah, karena memang basah, dan ia membiarkan suaranya pecah sedikit, karena memang pecah. Ia sudah menemukan cara berbohong yang paling sulit dibongkar, yaitu berkata jujur tentang perasaannya dan diam tentang segala hal yang lain.

“Kasihan sekali,” kata Azazael lembut. Ia mengulurkan tangan dan menepuk bahu Jeff, dua kali, ringan. Tangannya hangat, seperti biasa, dan seperti biasa pula, kehangatan itu tidak sampai ke tulang. “Kau sudah melihat tempatnya. Kau sudah meletakkan bunga. Sekarang biarkan yang sudah lewat tetap lewat, Anak Muda, karena ada yang masih bisa diselamatkan.”

Jeff mendongak.

“Adikmu,” kata Azazael. “Sudah enam belas hari ia tertidur. Kau tahu, bukan, berapa lama sebuah tubuh bisa menunggu?”

“Empat puluh hari.”

“Kau rajin membaca.” Senyum itu melebar. “Bagus. Maka kau mengerti kenapa kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Besok, kau akan kembali ke padang barat. Kau akan melewati Batu Gigi, dan kali ini, dengan izinku. Kau akan membuka pintu hitam itu, menemukan adikmu, dan membawanya keluar.” Ia mencondongkan tubuhnya sedikit, dan suaranya turun menjadi bisikan yang hangat, bisikan seorang paman yang menjanjikan hadiah. “Aku akan menunggu di depan pintu. Begitu kau keluar, aku akan mengantar jiwa adikmu pulang ke tubuhnya sendiri, dengan tanganku sendiri. Ia akan bangun di kamar rumah sakit itu dan mengira semuanya hanya mimpi buruk.”

Dengan tanganmu sendiri, pikir Jeff, dan ia teringat tangan yang sama memungut cincin dari lumpur di tikungan Jalan Pinus. Ia teringat suara yang sama, tenang dan riang di tengah hujan. Dan kau punya anak.

“Bagaimana kalau makhluk itu menolak menyerahkannya?”

“Maka kau akan memaksanya.” Azazael menegakkan tubuhnya. “Kapakmu sudah pernah menyala merah. Aku tahu. Aku merasakannya, bahkan dari balik kabut itu. Senjata seorang Guardian tidak menyala karena kekuatan, Anak Muda, tapi karena tekad. Dan kau punya banyak sekali tekad.” Ia berjalan ke pintu. “Tidurlah. Besok akan menjadi hari yang panjang.”

Pintu tertutup. Jeff menunggu sampai langkah kaki iblis itu hilang di ujung lorong, lalu ia menunggu lagi, lama, sampai api ungu di perapian meredup menjadi merah tua. Ia tidak tidur. Ia memandangi jam ibunya di dinding, dan sesekali, ketika ia yakin tidak ada yang memperhatikan, ia menekan telapak kaki kanannya ke dasar sepatu baja dan merasakan kain tipis itu di bawahnya, seperti seseorang yang meraba saku untuk memastikan kunci rumahnya masih ada.

 

Mereka berangkat sebelum langit Dunia Arwah berubah warna, kalau langit itu memang pernah berubah warna. Azazael berjalan di sampingnya menyusuri padang barat, dan untuk pertama kalinya, Jeff melihat iblis itu tidak berpindah tempat dalam sekejap mata, tapi benar-benar berjalan, selangkah demi selangkah, dengan jubah merahnya menyapu rumput kering. Ia tidak tahu kenapa. Barangkali karena Azazael ingin terlihat seperti seorang teman yang mengantar. Barangkali karena di dekat tebing itu, kekuatan iblis tidak bekerja sebaik biasanya. Jeff menyimpan kedua kemungkinan itu di kepalanya.

Batu Gigi menjulang di depan mereka, hitam dan runcing, dan kali ini Jeff melihatnya dengan lebih saksama. Batu itu tidak berdiri sendirian. Di sekeliling kakinya, setengah terkubur di tanah, ada batu-batu lain yang lebih kecil, tersusun melingkar, dan pada permukaannya, nyaris tidak terlihat karena dimakan cuaca, ada ukiran yang sudah ia kenal. Bulu. Ukiran bulu, sama seperti di dinding ruangan putih di balik rak terakhir perpustakaan Orvel.

Batas, pikir Jeff. Ini bukan penanda. Ini tembok. Tembok yang sudah runtuh, barangkali, sisa dari zaman ketika Dark Castle masih bernama Benteng Fajar dan para malaikat masih menjaga jurang. Dan Azazael melarangnya melewati tembok ini bukan karena di baliknya ada bahaya, tapi karena di baliknya ada sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh mata iblis.

Azazael berhenti tepat di depan lingkaran batu itu. Jeff memperhatikan bahwa ujung jubah merahnya tidak menyentuh batu-batu kecil itu sama sekali.

“Dari sini, kau sendirian,” kata iblis itu. “Aku akan menunggu di tepi tebing. Jangan lama-lama.”

“Kau bilang akan menunggu di depan pintu.”

“Tepi tebing itu memang di depan pintu.” Azazael tersenyum. “Pergilah, Guardian. Bawa adikmu pulang.”

Lihat selengkapnya