Astral Guardian

Marion Drossi
Chapter #20

Ayah

Pepohonan di ujung barat Lembah Kabut tidak seperti pepohonan mana pun yang pernah Jeff lihat. Batangnya ramping dan pucat, nyaris putih, lurus menjulang seperti tiang-tiang marmer, dan daun-daunnya yang kecil berwarna perak berkilau samar setiap kali kabut bergerak di antara mereka. Tidak ada burung ataupun serangga. Hanya bunyi langkah kaki Jeff di atas lumut yang lembap, dan di sampingnya, Chris yang berjalan tanpa suara di dalam lengkungan sayap putih kakaknya, seolah sayap itu adalah payung yang melindunginya dari hujan yang tidak turun.

Marchosias berjalan di belakang mereka, cukup jauh untuk tidak mengganggu, cukup dekat untuk tetap bisa melindungi. Setiap kali Jeff menoleh, makhluk raksasa itu menundukkan kepalanya sedikit, seperti mengangguk, dan Jeff tidak tahu apakah itu isyarat agar mereka terus berjalan atau sekadar sopan santun dari zaman yang sudah lama lewat.

Senandung itu semakin jelas. Rendah, sumbang, dan sesekali terputus, seolah orang yang menyenandungkannya sedang berkonsentrasi pada sesuatu yang rumit di tangannya. Jeff mengenal setiap nadanya. Ia mendengarnya ketika ayahnya membetulkan genteng yang bocor di musim hujan, berdiri di atas tangga reyot dengan paku-paku terjepit di antara bibir. Ia mendengarnya ketika ayahnya mengganti engsel lemari, menambal ban sepeda, menyolder radio tua yang suaranya sudah serak. Ia tidak pernah tahu judul lagu itu. Barangkali lagu itu memang tidak punya judul. Barangkali lagu itu hanya bunyi yang keluar dari seorang lelaki ketika tangannya sibuk dan hatinya tenang.

Chris meraih bulu-bulu di sayap kakaknya dan menggenggamnya erat-erat.

“Kak,” bisiknya. “Kalau itu bukan dia...”

“Itu dia.”

“Bagaimana Kakak tahu?”

Jeff tidak menjawab, karena pepohonan di depan mereka terbuka, dan ia tidak perlu menjawab lagi.

 

Di tengah sebuah lingkaran kecil yang dikelilingi pohon-pohon pucat, berdiri sebatang pohon yang lebih tua daripada yang lain. Batangnya lebar dan berkerut, cabang-cabangnya melengkung rendah seperti lengan yang hendak memeluk, dan di antara akar-akarnya yang besar, ada sebuah bangku dari batu putih yang sudah ditumbuhi lumut. Sebagian ukiran bulu masih terlihat di sandarannya. Seseorang pernah duduk di bangku itu ribuan tahun yang lalu, barangkali, dan memandangi lembah yang sama.

Sekarang yang duduk di sana adalah ayahnya. Mark sedang mengukir. Sepotong kayu kecil berwarna pucat di tangan kirinya, sebilah pisau lipat di tangan kanannya, dan serpihan-serpihan kayu yang tipis bergelung di atas lututnya seperti kulit apel. Kepalanya menunduk, alisnya berkerut, bibirnya bergerak-gerak mengikuti senandung itu. Ia mengenakan jaket kerja cokelat yang sama dengan yang Jeff lihat di dalam cermin Gideon Vale, jaket yang pudar di bagian siku. Di punggungnya, sepasang sayap putih terlipat rapat.

Namun sayap itu tidak seperti sayap Jeff. Sayap itu tipis, nyaris tembus pandang, dan banyak bulunya yang sudah gugur, meninggalkan celah-celah kosong seperti gigi yang tanggal. Dan bukan hanya sayapnya. Seluruh tubuh ayahnya pudar, seperti foto lama yang terlalu sering terkena matahari. Warna cokelat jaketnya sudah nyaris kelabu. Rambutnya yang dulu hitam tampak seperti abu. Dari lutut ke bawah, kakinya nyaris tidak ada lagi, hanya garis-garis samar yang menyatu dengan kabut di sekitar akar pohon.

Jeff berdiri di tepi lingkaran itu dan tidak bisa bergerak. Ia sudah membayangkan saat ini, sejak kalimat terakhir Marchosias di tepi sungai, sepanjang perjalanan menembus pepohonan pucat. Ia membayangkan dirinya berlari. Ia membayangkan dirinya berteriak. Ia membayangkan dirinya mengatakan sesuatu yang penting, sesuatu yang sudah ia simpan selama lima tahun, sejak pagi ketika dua orang polisi berdiri di depan pintu rumah mereka di Gang Pelabuhan dengan topi di tangan. Namun sekarang, ketika saat itu benar-benar datang, ia hanya berdiri di sana seperti anak kecil yang tertangkap basah, dan tidak ada satu kata pun yang mau keluar.

Senandung itu berhenti. Pisau lipat itu berhenti. Mark mengangkat kepalanya. Wajahnya pudar, tapi matanya tidak. Matanya masih cokelat tua, masih hangat, masih memiliki kerutan-kerutan kecil di sudutnya yang dulu muncul setiap kali ia menahan tawa. Mata itu menatap Jeff. Lalu beralih ke Chris. Lalu kembali ke Jeff, dan turun ke sayap-sayap putih yang terbentang dari punggung anak lelakinya, dan sesuatu di wajah ayahnya pecah, perlahan-lahan, seperti es di permukaan sungai pada awal musim semi.

“Kau tambah tinggi,” kata Mark. Suaranya serak, seperti suara seseorang yang sudah lama sekali tidak berbicara kepada siapa pun. “Ibumu selalu bilang kau akan lebih tinggi daripada aku.”

Chris yang lebih dulu berlari. Ia melepaskan diri dari sayap kakaknya dan menyeberangi lingkaran itu tanpa suara, dan kali ini, tubuhnya tidak menembus apa pun. Ia menabrak dada ayahnya. Jiwa menabrak jiwa. Mark menjatuhkan pisau dan potongan kayu itu dan memeluknya, dan Jeff mendengar adiknya mengeluarkan suara yang belum pernah ia dengar sejak pemakaman, suara yang bukan tangisan dan bukan jeritan, suara yang hanya keluar dari seseorang yang sudah terlalu lama menahan sesuatu yang terlalu berat.

“Ayah,” kata Chris berulang-ulang. “Ayah, Ayah, Ayah.”

“Ya,” bisik Mark ke rambutnya. “Ya, Sayang. Ayah di sini.”

Jeff melangkah maju. Selangkah, lalu selangkah lagi, lalu ia sudah berdiri di depan bangku batu itu, dan ayahnya mendongak menatapnya dari balik bahu Chris. Jeff mengulurkan tangan. Tangannya menembus bahu ayahnya, dingin dan ringan seperti kabut.

Ia sudah tahu itu akan terjadi. Tetap saja, rasanya seperti jatuh.

Mark menatap tangan anaknya yang tenggelam di dalam bahunya sendiri. Lalu ia melepaskan pelukannya pada Chris, hanya sedikit, dan mengangkat tangan kanannya. Jari kelingkingnya bengkok ke samping, persis seperti yang Jeff ingat, persis seperti di dalam lukisan. Mark mengacungkan jari bengkok itu ke udara, menunjuk ke arah yang sama sekali tidak jelas, ke antara langit dan pepohonan dan kabut, dengan wajah yang sangat serius.

Jeff tertawa. Tawa itu keluar dari dadanya seperti batuk, tiba-tiba dan menyakitkan, dan ia tidak bisa menghentikannya.

“Ke mana, Ayah?” katanya, dan suaranya pecah di tengah kalimat.

“Entahlah,” kata Mark, persis seperti dulu, dua puluh tahun yang lalu, di dapur rumah mereka di Gang Pelabuhan, dengan jari terbalut sendok dan perban. “Jariku saja tidak tahu. Bagaimana aku bisa tahu?”

Dan sayap-sayap putih di punggung Jeff melengkung ke depan dengan sendirinya, sekali lagi, membungkus ayah dan adiknya sekaligus di dalam satu pelukan yang lebar dan bercahaya. Bulu-bulu itu menyentuh mereka. Ia bisa merasakan bahu ayahnya yang kurus di bawah jaket kerja yang lusuh, rambut adiknya yang lembut, dan kehangatan samar yang bukan berasal dari tubuh, karena tidak ada di antara mereka yang masih punya tubuh di tempat ini, tapi dari sesuatu yang lebih tua daripada tubuh.

Lihat selengkapnya