Azazael tidak marah. Itulah yang paling menakutkan bagi Jeff, lebih menakutkan daripada amarah apa pun yang bisa ia bayangkan. Ketika ia berjalan kembali menyeberangi padang di balik Batu Gigi dengan bahu terkulai dan mantel hitam yang robek di punggung, iblis itu menyongsongnya dengan wajah penuh simpati. Ia tidak bertanya apa yang terjadi. Ia hanya menatap kain hitam yang masih membelit jari manis Jeff, lama, lalu tersenyum.
“Makhluk itu menjatuhkanmu lagi?”
“Ia tidak mau mendengarkan.” Jeff membiarkan suaranya terdengar lelah, karena memang lelah. Ia membiarkan matanya merah, karena memang merah. “Aku melihat Chris. Ia baik-baik saja. Tapi makhluk itu tidak mau menyerahkannya. Ia bilang aku belum siap.”
“Dan kain itu?”
Jeff menunduk, seolah malu. “Pemberian si tua Vale. Ia bilang kain itu bisa melindungiku dari makhluk-makhluk di balik kabut. Aku tidak tahu apakah itu benar. Aku hanya tidak ingin dijatuhkan lagi.”
Kebohongan itu terasa tipis di lidahnya, setipis kain itu sendiri. Namun Azazael hanya mengangguk perlahan, dengan wajah seorang guru yang memaklumi kenakalan muridnya.
“Simpan saja kalau itu membuatmu merasa lebih aman,” katanya. “Vale memang suka memberikan hadiah-hadiah kecil yang aneh. Ayo, Anak Muda. Kau perlu tidur. Kita akan mencoba lagi lain kali.”
Dan begitulah. Tidak ada tuduhan, tidak ada ancaman, tidak ada rasa panas yang membakar jari. Mereka berjalan kembali ke Dark Castle bersama-sama, menyeberangi padang barat yang kering, dan sepanjang jalan, Azazael bercerita tentang Mammon dan kebiasaannya menghitung koin sebelum tidur. Jeff tertawa di saat-saat yang tepat. Ia mengangguk di saat-saat yang tepat. Dan sepanjang jalan, ia tidak bisa berhenti memikirkan sentuhan ringan di pergelangan kakinya ketika ia melangkah keluar dari kabut, sentuhan yang terlalu ringan, sentuhan yang hampir pasti hanya perasaannya saja.
Malam itu, ia tidak tidur. Ia duduk di depan meja tulis di bawah jam ibunya yang berhenti, dengan jurnal ayahnya terbuka di hadapannya, meskipun ia tahu ia tidak bisa membaca tujuh halaman terakhir itu. Ia hanya ingin melihat tulisan tangan ayahnya. Huruf-huruf yang miring ke kanan, huruf g yang ekornya selalu terlalu panjang, coretan-coretan kecil di tepi halaman yang kadang berupa gambar perahu, kadang berupa wajah ibunya yang sedang tertawa. Ia memandangi semuanya di bawah cahaya api ungu dan memikirkan pohon tua di ujung barat Lembah Kabut, dan bangku batu, dan burung kayu yang menoleh ke belakang.
Temukan Orvel. Temukan jalannya.
Besok pagi, pikirnya. Besok pagi ia akan turun ke perpustakaan dengan alasan apa saja, dan ia akan memaksa Orvel menyerahkan halaman-halaman sobek itu, entah pustakawan tua itu suka atau tidak. Ia akan mencari jalan ke Gereja White Rose. Ia akan...
Cincin di jarinya bergerak. Jeff membeku. Kain hitam itu masih membelit jari manisnya rapat-rapat, tapi di bawahnya, sesuatu menggeliat, seperti kelopak mata yang terbuka di balik perban. Lalu rasa hangat. Bukan panas yang membakar seperti di rumah sakit, tapi kehangatan yang perlahan, merayap, nyaris menyenangkan, seperti air mandi yang dipanaskan sedikit demi sedikit.
Kau tahu, Anak Muda, kata suara Azazael. Suara itu tidak datang dari pintu, tidak juga dari udara. Suara itu datang dari dalam kepalanya, lebih jelas dan lebih dekat daripada yang pernah ia dengar sebelumnya, seolah iblis itu sedang duduk di dalam tengkoraknya. Aku sudah bertanya-tanya selama berminggu-minggu, kenapa ayahmu dulu begitu sering pergi ke barat. Kenapa matanya selalu buta setiap kali ia melewati Batu Gigi. Kenapa ia memilih lari ke sana ketika malamnya tiba. Aku tidak pernah bisa melihat apa yang ada di balik kabut itu.
Jeff berdiri begitu cepat hingga kursinya terjungkal ke belakang.
Tapi sekarang aku tidak perlu melihatnya, kata suara itu dengan riang. Sebab sekarang, ada seseorang di sana yang bisa melihatkannya untukku.
Dan dari dalam kepalanya, sayup-sayup, Jeff mendengar sesuatu yang lain. Dengkuran. Dengkuran yang dalam dan berat dan sangat puas, dengkuran yang pernah ia dengar di kaki ranjang adiknya pada malam terakhir cutinya di rumah Rosehill. Di balik dengkuran itu, terdengar gemericik sungai yang jernih. Dan di balik gemericik sungai itu, terdengar senandung yang rendah dan sumbang.
“Tidak,” bisik Jeff. “Tidak, tidak, tidak...”
Tali memiliki dua ujung, kata Azazael. Kau sudah membacanya di Codex, bukan? Aku memegang ujung yang satu. Dan sekarang, kucingku duduk tepat di ujung yang lain. Terima kasih sudah membukakan pintunya untuk kami, Guardian.
Ia merobek kain itu dari jarinya. Ia tidak tahu kenapa, barangkali karena naluri, barangkali karena ia ingin melihat apa yang terjadi. Batu hitam di cincinnya terbuka lebar seperti mata yang terbelalak, dan dari dalamnya, cahaya merah menyembur ke lantai kamar, membentuk heksagram yang berputar semakin cepat, semakin terang, menyedot udara dan api ungu dan cahaya lilin ke dalam pusarannya.
Jeff tidak sempat mencabut kapaknya. Lantai di bawah kakinya lenyap, dan ia jatuh, dan di sampingnya, dalam pusaran merah yang sama, sesosok tubuh tinggi berjubah merah ikut jatuh bersamanya, dengan tangan terlipat di dada dan senyum yang tidak pernah bergeser sedikit pun.
Mereka mendarat di padang rumput Lembah Kabut. Jeff jatuh berlutut di atas rumput yang basah. Azazael mendarat dengan kedua kakinya, ringan seperti penari, dan begitu ujung sepatunya menyentuh tanah, kabut di sekeliling mereka mendesis. Kabut itu mundur. Kabut itu menjauh dari tubuh iblis itu seperti air yang menjauh dari minyak panas, membentuk lingkaran kosong yang semakin lebar di sekitarnya, dan untuk pertama kalinya, Jeff melihat Azazael meringis. Hanya sedikit. Hanya sesaat. Seolah sesuatu yang tidak kelihatan sedang menekan kulitnya dari segala arah.
“Kabut ini benar-benar tidak menyukai bangsaku,” kata iblis itu, setengah kepada dirinya sendiri. “Tidak apa-apa. Aku tidak akan lama.”
Di kejauhan, di tepi sungai, sebuah bayangan besar bangkit dari rumput. Marchosias sudah berdiri sebelum Jeff sempat berteriak. Kedua sayap hitamnya terbentang lebar, begitu lebar hingga menutupi separuh langit yang pucat, dan dari dadanya keluar geraman yang membuat tanah di bawah lutut Jeff bergetar. Di belakangnya, di antara pepohonan putih, Jeff melihat dua sosok yang bercahaya samar. Seorang lelaki yang pudar dengan jaket kerja cokelat, dan seorang gadis dengan piama biru bergambar bulan sabit, yang mendekap sesuatu di dadanya.