Astral Guardian

Marion Drossi
Chapter #22

Buronan

Kabut di Lembah Kabut tidak pernah benar-benar diam, tapi setelah Azazael pergi, kabut itu bergerak dengan cara yang berbeda. Kabut itu merayap rendah di atas rumput yang hangus, menyelimuti bekas-bekas cakar dan lingkaran tanah yang terbakar, seperti seorang ibu yang menarik selimut menutupi tubuh anaknya yang terluka. Di tempat-tempat Azazael tadi berdiri, rumput tidak akan tumbuh lagi. Jeff tahu itu tanpa perlu diberi tahu siapa pun.

Marchosias berbaring di tepi sungai dengan sayap kirinya terkulai pada sudut yang salah. Cahaya hitam, kental seperti tinta, masih merembes pelan dari luka panjang di bahunya, dan setiap kali makhluk raksasa itu menarik napas, bulu-bulu di sekitar luka itu bergetar. Ia tidak mengerang. Ia hanya memejamkan matanya yang kuning keemasan dan membiarkan air sungai yang jernih mengalir di atas kaki depannya, seolah air itu bisa membawa pergi sebagian rasa sakitnya.

Jeff duduk di bangku batu putih di bawah pohon tua itu, di samping ayahnya, dengan burung kayu yang belum selesai di telapak tangannya.

Mark nyaris tidak ada lagi. Ia masih duduk di sana, masih mengenakan jaket kerja cokelat yang kini sudah sepenuhnya kelabu, tapi Jeff bisa melihat kulit pohon di belakang punggungnya menembus tubuhnya, dan sayap-sayapnya yang tipis sudah hampir tidak berbulu sama sekali. Hanya matanya yang masih utuh. Mata cokelat tua dengan kerutan di sudutnya, mata yang menatap anak lelakinya dengan begitu banyak hal sekaligus hingga Jeff tidak sanggup membalas tatapannya terlalu lama.

“Seharusnya aku menangkapnya,” kata Jeff. Suaranya serak karena terlalu banyak berteriak. “Aku sudah sedekat itu. Kalau aku lebih cepat sedikit...”

“Kalau kau lebih cepat sedikit, ia akan menjatuhkan adikmu ke dalam ketiadaan di balik tebing itu dan memilih anak lain untuk dijadikan kunci, suatu hari nanti, seratus tahun lagi. Ia sabar, Jeffrey. Kesabaran adalah satu-satunya kebajikan yang tidak pernah ia buang.” Mark tersenyum tipis. “Kau tidak kalah. Kau hanya belum menang. Ayah sudah bilang tadi.”

“Ayah bilang itu awal.”

“Memang awal.” Ayahnya mengangkat tangan kanannya yang pudar dan mengarahkannya ke tangan kiri Jeff, ke cincin perak yang kini kembali terbungkus kain hitam robek. Jari-jarinya berhenti tepat di atas cincin itu tanpa menyentuhnya. “Dengarkan Ayah baik-baik, karena Ayah tidak tahu berapa lama lagi Ayah bisa berbicara. Cincin ini tidak bisa dilepas. Kau sudah tahu itu. Cincin ini juga tidak bisa dihancurkan, tidak dengan kapakmu, tidak dengan api, tidak dengan apa pun yang dibuat di jurang maupun di dunia manusia. Ayah sudah mencoba semuanya.”

“Lalu bagaimana...”

“Tali selalu memiliki dua ujung.” Mark mengulang kalimat dari Codex itu dengan suara yang pelan dan jelas, seperti guru yang mengulang pelajaran terpenting untuk murid yang keras kepala. “Azazael memegang ujung yang satu, dan kau memegang ujung yang lain. Selama ini, ia yang menarik. Ia yang melihat melalui matamu. Ia yang memanggilmu pulang. Ia yang membakarmu kalau kau melawan. Tapi tali tidak tahu siapa yang seharusnya menarik, Nak. Tali hanya tahu ke mana ia ditarik.”

Jeff menatap ayahnya. Sesuatu bergerak di dalam kepalanya, perlahan, seperti kunci yang diputar di lubang yang sudah berkarat.

“Balikkan matanya,” bisik Mark. “Itu yang Ayah tulis di tujuh halaman terakhir jurnal itu, dengan aksara mereka, supaya hanya orang yang memakai cincin ini yang bisa membacanya, dan hanya di tempat yang tidak bisa mereka lihat. Berkat tidak bisa memutus tali. Tapi berkat bisa membalik arahnya. Kalau mata di batu itu diberkati di tempat yang suci, oleh tangan yang tidak pernah menandatangani apa pun dengan mereka, maka mata itu tidak lagi menatap keluar dari jarimu. Mata itu akan menatap ke dalam. Ke ujung tali yang lain.” Bibirnya yang pucat bergetar. “Yang melihat akan dilihat. Yang menarik akan ditarik.”

“Ke Azazael.”

“Ke Azazael. Ke mana pun ia bersembunyi. Dan ia tidak akan bisa melepaskan ujung tali itu, sama seperti kau tidak bisa melepaskan cincinnya, karena ia sendiri yang mengikatkannya pada jiwanya, dua puluh lima tahun yang lalu, ketika ia pertama kali memberikan cincin itu kepada Ayah.” Mark menarik napas, napas yang tidak lagi menggerakkan dadanya. “Ayah tidak sempat melakukannya. Ayah terlalu lama menulis, terlalu lama ragu, terlalu lama berharap ada jalan yang tidak menuntut keberanian sebanyak itu. Lalu kontraknya habis.”

“Tangan yang tidak pernah menandatangani apa pun,” ulang Jeff. “Siapa? Pendeta Abraham?”

“Barangkali. Barangkali seseorang yang lain.” Mata ayahnya beralih ke arah timur, ke arah yang tidak bisa dilihat dari lembah ini, ke arah Grand Mare. “Pergilah ke Gereja White Rose. Ibumu berdoa di sana setiap Kamis, di antara mawar-mawar putih itu, dan Ayah tidak pernah tahu bahwa ia tidak berdoa sendirian. Lelaki berpakaian putih dalam mimpi Ayah, sehari sebelum kau lahir, Ayah melihatnya lagi, sekali, di halaman gereja itu, sedang menyiram mawar-mawar ibumu. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap Ayah dan menggelengkan kepala, seolah berkata, belum waktunya.” Mark tersenyum. “Barangkali sekarang sudah waktunya.”

Di tepi sungai, Marchosias membuka matanya. Ia tidak mengangkat kepala, tapi Jeff melihat telinga serigalanya bergerak, berputar ke arah timur, ke arah tebing dan pintu hitam dan Dunia Arwah di baliknya.

Lalu Jeff juga mendengarnya. Lonceng. Dentangnya rendah dan berat, begitu dalam hingga bukan telinga yang mendengarnya, melainkan tulang dada. Dentang itu menembus kabut seperti batu yang dijatuhkan ke dalam kolam, sekali, dua kali, lalu terus dan terus, berirama, tidak tergesa-gesa. Jeff menghitungnya tanpa sadar, sampai sepuluh, sebelas, dua belas.

Dentang ketiga belas bergema lama sekali, lalu senyap.

“Lonceng Dark Castle,” kata Marchosias. Suaranya dalam dan lelah. “Terakhir kali lonceng itu berbunyi tiga belas kali adalah pada malam aku menolak berlutut. Yang Agung baru saja menyatakan seseorang sebagai pengkhianat, Anak Mark. Dan aku kira kita berdua tahu siapa.”

Jeff tidak perlu bertanya bagaimana. Ia bisa membayangkannya dengan begitu jelas hingga rasanya seperti mengingat. Azazael berlutut di depan singgasana tiga belas anak tangga, dengan pergelangan tangan yang hangus dan tanduk kiri yang retak, menceritakan kepada Abaddon bagaimana Guardian kesayangannya bersekutu dengan pemberontak paling tua di seluruh jurang. Bagaimana anak manusia itu menyerangnya tanpa peringatan. Bagaimana ia, Azazael yang setia, nyaris tewas demi melindungi jiwa berharga yang kini ia persembahkan dengan rendah hati. Setiap katanya dusta, dan setiap dustanya dibungkus dengan sepotong kebenaran, sehingga tidak ada yang bisa membongkarnya.

Lihat selengkapnya