Astral Guardian

Marion Drossi
Chapter #23

Malaikat yang Diam

Gereja White Rose berdiri di ujung timur kota tua, di atas sebuah bukit kecil yang menghadap ke pelabuhan, dan pada pagi hari, ketika kabut laut masih menggantung rendah di atas atap-atap rumah, menara loncengnya yang putih tampak seperti tiang kapal yang muncul dari dalam awan. Jeff berjalan ke sana melewati jalan-jalan belakang yang ia kenal sejak kecil, gang-gang sempit di antara gudang-gudang tua dan rumah-rumah nelayan, dengan kerah jaket dinaikkan dan kepala tertunduk seperti orang-orang Rottenburg. Ia tidak menatap genangan air. Ia tidak menatap kaca jendela. Setiap kali melewati etalase toko, ia memalingkan wajahnya ke arah lain, dan ia menghitung langkah-langkahnya di dalam hati supaya pikirannya tetap kosong.

Gerbang besi gereja itu terbuka. Halaman di baliknya basah oleh embun, dan di sepanjang pagar batu, mawar-mawar putih yang dulu dirawat ibunya bermekaran dengan begitu lebat hingga udara di sekitarnya terasa manis. Jeff berhenti di ambang gerbang. Ia sudah pernah berdiri di sini, beberapa minggu yang lalu, dan merasakan cincin di jarinya menjadi dingin. Namun kali ini ada sesuatu yang lain. Kali ini, ketika kakinya menginjak batu pertama di halaman gereja, ia merasakan sesuatu yang tegang di dadanya mengendur, seperti tali yang tiba-tiba dilepas oleh tangan yang menariknya.

Batu hitam di balik kain robek itu menjadi kusam dan dingin. Mati, seperti biasa di tempat ini.

Pendeta Abraham sedang menyapu tangga gereja dengan sapu lidi yang sudah botak. Lelaki tua itu mengangkat wajahnya, melihat Jeff, dan sapu itu jatuh dari tangannya. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya berjalan menuruni tangga dengan langkah-langkah yang terlalu cepat untuk lututnya yang sudah tua, lalu meraih kedua bahu Jeff dan menatap wajahnya lama sekali, seolah memastikan bahwa lelaki di hadapannya bukan hantu.

“Bu Marta meneleponku tengah malam,” katanya akhirnya. Suaranya bergetar. “Ada perawat yang... ada sesuatu di kamar adikmu. Ia mengusirnya dengan air yang kuberikan. Adikmu baik-baik saja. Tubuhnya baik-baik saja. Tapi, Jeff, mereka sudah sampai ke sana.”

Jeff memejamkan matanya. Ia membayangkan Bu Marta dengan rosarionya, sendirian di kamar nomor tiga belas, menghadapi sesuatu yang bahkan ia sendiri belum tahu bagaimana menghadapinya. Ia membayangkan tangan seorang perawat di dekat selang infus Chris. Rasa marah naik ke tenggorokannya, panas dan pahit, dan ia menelannya kembali.

“Itu salahku,” katanya. “Mereka mencariku. Mereka ingin menyakitiku.”

“Itu salah mereka,” kata Pendeta Abraham dengan tegas, dan untuk sesaat, suaranya mengingatkan Jeff pada khotbah-khotbah Minggu yang dulu membuatnya tertidur di bangku paling belakang. “Jangan pernah memikul dosa yang bukan milikmu, Nak. Itu cara paling cepat untuk patah.”

Ia membawa Jeff masuk ke pastoran kecil di belakang gereja, rumah batu bertingkat satu dengan dapur sempit dan rak-rak penuh buku tua, lalu menghangatkan semangkuk sup kacang yang ia masak semalam. Jeff makan dua mangkuk. Ia tidak sadar betapa laparnya ia sampai sendok itu menyentuh dasar mangkuk yang kedua. Sambil makan, ia bercerita. Tidak semuanya, karena sebagian dari cerita itu terlalu berat untuk diucapkan di dapur kecil yang hangat ini, di depan seorang lelaki tua yang sudah kehilangan sahabatnya lima tahun yang lalu. Namun ia bercerita cukup banyak. Tentang Lembah Kabut. Tentang ayahnya. Tentang burung kayu yang belum selesai dan cahaya keemasan dan dua suara yang bersenandung bersama-sama.

Pendeta Abraham mendengarkan tanpa menyela. Ketika Jeff selesai, lelaki tua itu melepas kacamatanya dan mengusap matanya dengan ujung lengan jubah.

“Selama lima tahun,” katanya pelan. “Selama lima tahun aku berdoa untuk jiwanya, dan selama itu ia menunggu di sebuah lembah, menunggu anaknya.” Ia mengenakan kacamatanya kembali. “Ayahmu selalu keras kepala. Kau tahu itu?”

“Aku tahu.”

“Kau mewarisinya.” Lelaki tua itu tersenyum. “Lalu, apa yang ia minta kau lakukan di sini?”

Jeff menceritakan pesan terakhir ayahnya. Tali yang memiliki dua ujung. Mata yang harus dibalik. Tangan yang tidak pernah menandatangani apa pun. Dan lelaki berpakaian putih yang menyiram mawar-mawar ibunya.

Pendeta Abraham diam lama sekali. Lalu ia bangkit, berjalan ke jendela dapur, dan menyingkap tirainya yang berwarna kuning pucat.

“Lelaki itu,” katanya. “Maksudmu, tukang kebun itu?”

 

Jeff tidak pernah memperhatikan tukang kebun Gereja White Rose. Tidak ada yang pernah memperhatikannya, menurut Pendeta Abraham, dan itulah yang aneh, kalau dipikir-pikir sekarang. Lelaki itu sudah merawat halaman gereja sejak sebelum Abraham ditahbiskan, sejak sebelum Jeff lahir, barangkali sejak sebelum gereja itu dibangun. Ia datang setiap pagi, menyiram mawar, mencabut rumput liar, menyapu daun-daun gugur, dan pergi sebelum kebaktian dimulai. Tidak ada yang tahu namanya. Tidak ada yang tahu di mana ia tinggal. Tidak ada yang pernah membayarnya, dan ia tidak pernah meminta bayaran.

“Aku selalu mengira ia salah seorang jemaat yang terlalu pemalu untuk duduk di dalam,” kata Pendeta Abraham. “Ibumu sering mengobrol dengannya. Atau ibumu yang mengobrol, dan ia mendengarkan. Ia tidak pernah berbicara kepada siapa pun. Aku bahkan tidak yakin ia bisa berbicara.”

Lelaki itu sedang berlutut di samping semak mawar paling tua di sudut halaman, semak yang tingginya hampir mencapai bahu orang dewasa dan batangnya berkerut seperti tangan nenek-nenek, ketika Jeff berjalan menghampirinya. Ia mengenakan kemeja putih polos yang lengannya digulung sampai siku, celana kerja abu-abu yang lututnya bernoda tanah, dan sepasang sepatu bot karet hijau yang sudah usang. Rambutnya pendek dan berwarna seperti pasir pantai. Ia tidak tampak tua. Ia juga tidak tampak muda. Ia tampak seperti seseorang yang sudah berhenti bertambah umur pada titik tertentu dan memutuskan bahwa titik itu sudah cukup.

Ia tidak menoleh. Jari-jarinya yang kotor oleh tanah terus bekerja, mengikat sebatang mawar yang patah pada sebuah tongkat bambu dengan seutas tali rami, dengan simpul yang sangat rapi dan sangat sabar.

Jeff berdiri di belakangnya. Ia tidak tahu harus berkata apa. Semua yang sudah ia siapkan sepanjang perjalanan dari Gang Pelabuhan tiba-tiba terasa terlalu besar, terlalu aneh, terlalu konyol untuk diucapkan kepada seorang tukang kebun yang sedang mengikat mawar.

“Ayahku bilang,” katanya akhirnya, “kau pernah datang dalam mimpinya. Sehari sebelum aku lahir.”

Jari-jari itu berhenti. Lelaki itu menyelesaikan simpulnya. Lalu ia bangkit, perlahan, mengibaskan tanah dari lututnya, dan berbalik menghadap Jeff. Matanya berwarna kelabu kebiruan, seperti laut di Grand Mare pada pagi musim dingin, dan ketika mata itu menatap Jeff, angin yang sejak tadi diam tiba-tiba bertiup di seluruh halaman gereja. Mawar-mawar putih itu bergoyang serentak. Kelopak-kelopaknya berguguran dan beterbangan di udara seperti salju.

Dan di dinding batu gereja di belakang lelaki itu, bayangannya tidak berbentuk seperti bayangan seorang manusia. Bayangan itu tinggi dan lebar, jauh lebih lebar daripada tubuhnya, dengan sesuatu yang terbentang dari punggungnya. Sayap. Bukan sepasang. Jeff menghitungnya tanpa sadar, satu pasang di atas, satu pasang di tengah, satu pasang di bawah, terbentang lebar di atas batu putih seperti lukisan yang digambar oleh cahaya pagi.

Lalu angin itu reda, kelopak-kelopak mawar mendarat di rumput, dan bayangan di dinding itu kembali menjadi bayangan seorang lelaki biasa berkemeja putih.

“Sariel,” kata lelaki itu.

Lihat selengkapnya