Astral Guardian

Marion Drossi
Chapter #24

Sekutu yang Ganjil

Sebelum pergi, Jeff singgah di Rumah Sakit Santa Agnes. Ia tahu itu tidak bijaksana. Para pemburu sudah sampai ke kamar nomor tiga belas sekali, dan barangkali mereka masih mengawasinya, menunggu Guardian pengkhianat itu datang menjenguk adiknya seperti tikus yang kembali ke perangkap yang sama. Namun mata di cincinnya sudah tertidur, dan ia memakai jaket lusuhnya, bukan seragam, dan ia membawa sekantong roti dari toko Pak Hollis yang ia beli dengan sisa uang di sakunya. Dan ia tidak bisa pergi ke tempat yang mungkin tidak akan membiarkannya kembali tanpa melihat wajah adiknya sekali lagi.

Bu Marta sedang merajut di kursi plastiknya ketika ia masuk. Perempuan tua itu meletakkan rajutannya, berdiri, dan menampar lengan Jeff, cukup keras untuk membuatnya meringis. Lalu ia memeluknya.

“Itu untuk berbohong soal Rollmount,” katanya ke dada Jeff. “Dan ini untuk kepulanganmu.”

Jeff tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya membiarkan dirinya dipeluk, mencium bau minyak angin dan teh melati yang selalu melekat pada perempuan tua itu, bau yang sama sejak ia masih kecil dan Bu Marta mengoleskan minyak itu ke dadanya setiap kali ia batuk. Di atas ranjang, Chris masih tertidur. Wajahnya masih pucat dan tenang, dadanya naik turun dengan teratur, dan di samping bantalnya, di atas meja kecil, sehelai bulu putih dan sehelai bulu hitam tergeletak berdampingan di dalam sebuah gelas air yang kosong.

“Aku menemukannya di bantalnya waktu itu,” kata Bu Marta, mengikuti arah tatapannya. “Aku tidak tahu kenapa, tapi aku tidak tega membuangnya.”

“Jangan dibuang,” kata Jeff. “Tolong.”

Ia duduk di tepi ranjang dan menggenggam tangan adiknya yang hangat. Ia tidak membaca novel bersampul biru itu kali ini. Ia hanya bercerita, pelan sekali, nyaris berbisik, tentang Lembah Kabut dan pepohonan pucat dan seorang lelaki yang mengukir burung di bawah pohon tua. Ia tidak tahu apakah Chris bisa mendengarnya dari dalam sangkar cahaya merah di menara tertinggi Dark Castle. Barangkali tidak. Namun Bu Marta, yang duduk di seberang ranjang dengan rajutannya, mendengarkan semuanya, dan tidak bertanya apa-apa, dan ketika Jeff selesai, perempuan tua itu hanya mengangguk dan menyeka matanya dengan ujung selendang.

“Pergilah,” katanya. “Aku akan tetap di sini. Pendeta Abraham bilang ia akan datang setiap malam. Dan aku masih punya air.” Ia menepuk tas kainnya yang lusuh. “Ada tiga botol.”

 

Ia tidak bisa masuk ke Dark Castle melalui gerbang. Para penjaga bermata kaca akan membaca niatnya begitu ia menatap mereka, dan niatnya sekarang terlalu besar dan terlalu jelas untuk disembunyikan di balik pikiran tentang biskuit basi. Ia juga tidak bisa membuka Lubang Hitam menuju kamarnya di sayap timur, karena kamar itu adalah tempat pertama yang akan diawasi Azazael.

Namun ada satu tempat di dalam kastel itu yang tidak bisa diawasi siapa pun. Ia membuka Lubang Hitam di kapel kecil Rumah Sakit Santa Agnes, di tengah lantai batu yang dingin, dengan darah dari ibu jari kirinya. Ia tidak memanggil kekuatan cincin untuk membantunya, karena ia ingat kata-kata Sariel tentang nelayan dan tali pancing. Ia hanya mengucapkan mantra itu, kata demi kata, perlahan, dan menyebutkan tujuannya dengan sangat hati-hati.

Menuju ruang putih di balik Kitab Ratapan.

Heksagram itu berputar lebih lambat daripada biasanya, seolah ragu, seolah tempat yang ia sebutkan itu tidak terlalu suka didatangi dengan cara seperti ini. Lalu lingkaran itu terbuka, dan Jeff melangkah masuk ke dalam kegelapan yang menelannya utuh.

Ia mendarat di atas lantai batu putih, di tengah ruangan bundar yang dinding-dindingnya diukir dengan ribuan bulu, di bawah kubah yang retak tempat cahaya samar merembes masuk dari suatu tempat yang tidak bisa ia lihat. Udaranya sejuk dan berbau kertas tua. Cincin di jarinya, yang matanya sudah tertidur, terasa sejuk dan tenang, tidak lagi mati seperti dulu setiap kali ia berada di tempat suci.

Dan di ambang pintu rahasia yang setengah terbuka, berdiri sesosok arwah kurus berjubah cokelat dengan kacamata bundar berbingkai kawat yang miring di ujung hidungnya, memegang sebatang lilin yang melayang dan sebuah buku tebal yang nyaris terjatuh dari tangannya.

“Kerapu,” kata Orvel dengan suara tercekik. “Ikan kerapu, demi semua halaman yang pernah kubaca. Kau tidak bisa begitu saja muncul di sini seperti... seperti...” Ia melambaikan tangannya ke arah lingkaran merah yang memudar di lantai. “Itu! Kau tahu berapa umur lantai ini?”

“Maaf.”

“Maaf, katanya.” Arwah tua itu mendorong kacamatanya ke pangkal hidung dan menatap Jeff dari ujung rambut sampai ujung kaki. Lalu matanya turun ke tangan kiri Jeff, ke cincin perak dengan batu hitam yang kusam, dan tatapannya berubah. “Matanya,” bisiknya. “Matanya tertutup. Bukan mati. Tertutup. Siapa yang...”

“Seorang tukang kebun.”

Orvel menatapnya lama. Lalu ia meletakkan bukunya di atas lantai, sangat hati-hati, seperti meletakkan bayi yang sedang tidur.

“Lonceng itu berbunyi tiga belas kali,” katanya. “Seluruh kastel membicarakanmu. Penjaga-penjaga di lorong bawah mengatakan kau menyerang Tuan Azazael dari belakang. Penjaga-penjaga di lorong atas mengatakan kau bersekutu dengan Marchosias dan berencana membunuh Yang Agung di atas singgasananya. Arwah-arwah di dapur mengatakan kau punya tiga kepala.” Ia mengangkat bahunya yang kurus. “Aku cenderung memercayai arwah-arwah di dapur. Mereka yang paling jarang berbohong.”

Jeff tertawa, dan tawa itu mengejutkannya sendiri. Rasanya sudah bertahun-tahun sejak terakhir kali ia tertawa tanpa ada rasa pahit di ujungnya.

“Ayahku bilang kau menyimpan sesuatu untukku,” katanya.

“Ayahmu,” ulang Orvel pelan. Ia tidak bertanya bagaimana Jeff bisa bertemu ayahnya. Barangkali ia sudah menebaknya. Barangkali arwah yang sudah menjual jiwanya demi pengetahuan tahu bahwa ada pertanyaan yang jawabannya lebih baik tidak didengar. Ia hanya berbalik, berjalan ke salah satu dinding berukir, dan meletakkan telapak tangannya yang tembus pandang di atas sebuah ukiran bulu yang sedikit lebih besar daripada yang lain. Ukiran itu bergeser ke dalam dengan bunyi gesekan batu yang pelan. Di baliknya, ada sebuah ceruk kecil, dan di dalam ceruk itu, terlipat rapi dan diikat dengan seutas pita biru yang sudah pudar, ada empat lembar halaman.

Jeff mengenali kertasnya. Tebal, kekuningan, dengan tepi yang compang-camping. Halaman-halaman yang hilang dari Kitab Para Iblis.

Lihat selengkapnya