Kabar itu datang melalui Orvel, seperti yang sudah Jeff duga, dan kabar itu buruk, seperti yang juga sudah ia duga.
Ia kembali ke ruangan putih di balik Kitab Ratapan pada malam berikutnya, melalui Lubang Hitam yang sama, dari kapel rumah sakit yang sama. Kali ini ia menggambar heksagramnya di atas selembar kain tua yang ia bentangkan lebih dulu di lantai, supaya Orvel tidak perlu meratapi lantai batu yang umurnya lebih tua daripada sebagian besar bintang. Pustakawan tua itu menyambutnya dengan wajah yang lebih kelabu daripada biasanya, kalau wajah arwah memang bisa menjadi lebih kelabu, dan ia tidak menyebut ikan kerapu sama sekali. Itu saja sudah cukup membuat perut Jeff mulas.
“Dewan para pangeran berkumpul kemarin,” kata Orvel tanpa basa-basi. Ia duduk di tepi bangku batu di tengah ruangan, dengan rantai perak di pergelangan kakinya terjulur melewati celah pintu rahasia, kembali ke mejanya di luar sana. “Di aula singgasana. Semuanya, kecuali Belphegor, yang memang tidak pernah datang, dan Leviathan, yang tidak pernah mau meninggalkan danaunya. Tuan Azazael berbicara paling lama. Ia menceritakan kepada mereka sebuah kisah yang sangat menarik.”
“Tentangku.”
“Tentang kau, tentang Marchosias, dan tentang Belphegor.” Orvel mendorong kacamatanya ke pangkal hidung. “Menurut kisah itu, Guardian pengkhianat telah bersekutu dengan pemberontak tertua di seluruh jurang dan dengan pangeran yang paling malas, dan bersama-sama, mereka berencana menculik jiwa seorang gadis yang diberkati untuk membuka sebuah gerbang ke dunia manusia.” Ia tertawa kecil, tawa yang kering seperti kertas yang diremas. “Kau harus mengakui, ia sangat berbakat. Ia menceritakan rencananya sendiri, kata demi kata, dan menempelkan wajah orang lain di atasnya.”
Jeff mengepalkan tangannya. “Dan mereka percaya?”
“Mereka ingin percaya. Itu lebih penting.” Orvel menggeleng. “Yang Agung memerintahkan Baal untuk memimpin perburuan. Baal yang disiplin, Baal yang teratur, Baal yang paling membenci Belphegor di antara semua pangeran. Pilihan yang sangat cerdik. Tuan Azazael bahkan tidak perlu mengusulkannya. Ia hanya perlu menyebut nama Belphegor dengan nada tertentu, dan Yang Agung melakukan sisanya.”
“Lalu Chris?”
Orvel diam sebentar. Lilin yang melayang di dekat bahunya meredup, seolah ikut menahan napas.
“Tuan Azazael mengatakan bahwa ia telah merebut jiwa gadis itu dari tangan para pemberontak,” katanya pelan, “dengan susah payah, dengan luka di tanduknya sebagai bukti. Dan ia mempersembahkannya kepada Yang Agung. Pada malam Bulan Merah, di aula singgasana, di hadapan seluruh dewan, jiwa yang diberkati itu akan menjadi santapan Yang Agung, sebagai tanda kesetiaan Tuan Azazael yang tidak tergoyahkan.”
Lantai batu putih di bawah kaki Jeff seakan bergeser. Ia meraih dinding berukir di sampingnya dan merasakan ujung-ujung bulu yang diukir itu menekan telapak tangannya.
“Itu bohong,” katanya. “Ia tidak akan membiarkan Abaddon memakannya. Ia butuh Chris untuk gerbang itu.”
“Tentu saja itu bohong. Tapi itu kebohongan yang sangat bagus, karena separuhnya benar.” Orvel menatapnya. “Jiwa adikmu memang akan dibawa ke aula singgasana. Ia akan diikat di dalam heksagram di kaki takhta, di tempat yang paling terang dan paling dijaga di seluruh Dark Castle. Dan Tuan Azazael akan berdiri di sampingnya, tersenyum, sampai saat yang ia tunggu-tunggu tiba. Menara tertingginya sudah disegel. Tidak ada Lubang Hitam yang bisa terbuka di sana, tidak lagi. Gerbang depan dijaga dua kali lipat. Dan aula singgasana...” Ia mengangkat bahu. “Kau sudah pernah ke sana. Kau tahu.”
Jeff tahu. Anak tangga hitam yang berjumlah tiga belas. Ribuan prajurit. Mata kaca di setiap sudut. Dan sesosok makhluk dengan tiga tanduk yang duduk di puncaknya, yang tidak pernah meninggalkan ruangan itu sejak ia merebutnya.
Ia memejamkan mata dan memaksa dirinya bernapas. Satu hal dulu. Satu hal setiap kali.
“Kalau Baal memimpin perburuan,” katanya akhirnya, perlahan, “berarti Baal tahu jalan-jalan yang tidak diketahui orang lain. Jalan-jalan yang ia jaga.”
Orvel menatapnya seperti menatap seseorang yang baru saja mengusulkan untuk berenang di dalam perapian.
“Kau ingin pergi menemui makhluk yang diperintahkan untuk menangkapmu.”
“Aku ingin pergi menemui makhluk yang membenci Azazael lebih daripada ia membenciku.” Jeff merogoh ke balik jaketnya dan mengeluarkan halaman-halaman yang terikat pita biru pudar itu. Ia membuka halaman ketiga, halaman yang dibacakan Orvel kepadanya kemarin, halaman tentang tali yang seharusnya terikat pada takhta dan tentang hukuman bagi siapa pun yang berani mencurinya. “Baal suka keteraturan, bukan? Ia suka aturan. Ia benci sesuatu yang tidak pada tempatnya.”
Untuk waktu yang lama, pustakawan tua itu tidak mengatakan apa-apa. Lalu, perlahan, sudut-sudut bibirnya yang tipis terangkat.
“Ayahmu,” katanya, “selalu menyalahkan kudanya waktu kalah main catur. Tapi ia tidak pernah takut menggerakkan pionnya ke tengah papan.”
Neraka tingkat pertama masih sesunyi yang Jeff ingat. Jalan-jalan dari kaca hitam yang licin. Bangunan-bangunan bersudut tajam yang tersusun rapi seperti gigi di dalam rahang. Langit kelabu yang rata, tanpa bayangan. Dan di sepanjang jalan, barisan demi barisan arwah yang berjalan dengan langkah serempak, kiri, kanan, kiri, kanan, tanpa pernah sampai ke mana pun, arwah-arwah yang semasa hidupnya tidak pernah memilih apa pun dan kini dihukum untuk tidak pernah berhenti berjalan.