Astral Guardian

Marion Drossi
Chapter #26

Jiwa di Tangan Iblis

Sementara itu, di menara tertinggi Dark Castle, Azazael berdiri di depan cermin dan mengamati tanduknya sendiri. Retakan itu masih ada. Ia sudah mencoba segala cara. Ia sudah membasuhnya dengan darah tiga ekor iblis cebol yang ia panggil dari dunia manusia, mengolesinya dengan abu dari perapian Yang Agung yang tidak pernah padam, membisikkan kepadanya kata-kata dari zaman ketika ia masih memiliki nama yang lain. Retakan itu tetap di sana, membelah tanduk kirinya dari pangkal sampai ujung seperti sambaran petir yang membeku, dan tepi-tepinya masih berwarna putih bersih dan dingin dan sama sekali tidak pantas berada di tubuh seperti tubuhnya. Setiap kali ia menyentuhnya, ujung jarinya terasa seperti terbakar.

Sayap itu seharusnya tidak sebesar itu. Ia sudah memikirkannya ribuan kali sejak malam di lembah. Mark tidak pernah membentangkan sayapnya selebar itu. Mark tidak pernah membuat kapaknya menyala seputih itu. Mark menyerang dengan tangan yang gemetar, dengan wajah yang pucat, seperti lelaki yang tahu ia sedang melakukan sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali. Anak itu tidak gemetar. Anak itu terbang ke arahnya dengan wajah yang tenang, setenang wajah ayahnya di depan buku besar Mammon, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat, sangat lama, Azazael merasakan sesuatu yang dingin merayap di sepanjang tulang punggungnya.

Ia tidak menyukai perasaan itu. Maka ia memutuskan untuk tidak memikirkannya lagi.

Di belakangnya, di dalam sangkar burung dari batang-batang cahaya merah yang tergantung di langit-langit, jiwa gadis itu duduk memeluk lututnya dan menatapnya tanpa berkedip.

Azazael berbalik dan tersenyum kepadanya. “Sudah waktunya, Sayang,” katanya. “Kau akan bertemu seseorang yang sangat penting.”

Gadis itu tidak menjawab. Ia tidak pernah menjawab, kecuali sekali, beberapa hari yang lalu, ketika ia bertanya apakah Azazael tidak bisa melihat kakaknya lagi. Selebihnya ia hanya diam, dan menatap, dengan sepasang mata cokelat tua yang hangat dan jernih dan sangat, sangat mirip dengan mata ayahnya. Azazael sudah mencoba membuatnya takut. Ia sudah mencoba membuatnya menangis. Ia sudah menceritakan kepadanya, dengan suara yang lembut dan penuh perhatian, tentang tubuhnya yang terbaring di rumah sakit dan tentang hari-hari yang terus berkurang dan tentang kakaknya yang barangkali sudah mati di suatu selokan di dunia manusia. Gadis itu mendengarkan semuanya dengan wajah yang sama. Lalu, setiap malam, ketika ia mengira Azazael sudah pergi, ia bersenandung.

Lagu tanpa kata yang rendah dan sumbang. Lagu yang sama yang didengungkan Mark di lembah kabut itu. Azazael membenci lagu itu lebih daripada ia membenci retakan di tanduknya.

Kucing hitam itu melompat turun dari ambang jendela dan berjalan di antara kakinya. Ia mengangkat tangannya, dan sangkar itu turun perlahan dari langit-langit, berayun-ayun, sampai berhenti tepat di depan dadanya. Ia meraih kaitnya dengan dua jari.

“Jangan khawatir,” katanya kepada gadis itu. “Aku tidak akan membiarkannya memakanmu. Kau terlalu berharga untuk itu.” Senyumnya melebar. “Tapi ia tidak perlu tahu.”

 

Aula singgasana Dark Castle tidak pernah terang, tapi pada malam itu, untuk pertama kalinya dalam ingatan siapa pun, obor-obor di sepanjang dindingnya dinyalakan semua. Api hijau dan ungu dan merah menari-nari di dalam mangkuk-mangkuk besi, melemparkan bayangan yang berlapis-lapis ke atas pilar-pilar yang menjulang, dan di bawah cahaya yang berwarna-warni itu, ribuan prajurit berdiri dalam barisan-barisan yang rapi, sunyi, tanpa bergerak sedikit pun. Di sepanjang dinding, para penjaga bermata kaca berdiri seperti patung, mata-mata mereka yang besar dan jernih memantulkan api seperti kolam-kolam kecil.

Di kaki tiga belas anak tangga hitam itu, dewan para pangeran sudah menunggu. Baal berdiri paling dekat dengan tangga, tegak dan kaku, dengan sayap kelabunya terlipat dan ular di kepalanya diam seperti mahkota. Ia tidak menoleh ketika Azazael masuk. Di sebelahnya, Mammon bersandar pada tongkat berkepala emas, mengenakan setelan berwarna anggur yang sama, dengan cincin di setiap jarinya berkilau di bawah cahaya obor. Pedagang itu tersenyum kepada Azazael, senyum yang lebar dan ramah dan sama sekali tidak sampai ke matanya yang berwarna seperti koin. Dan di ujung barisan, setengah tersembunyi di balik sebuah pilar, berdiri sosok yang jarang sekali meninggalkan tingkatnya sendiri.

Asmodeus tidak memiliki satu wajah. Setiap kali seseorang menatapnya, wajahnya menjadi wajah orang yang paling dirindukan oleh orang yang menatapnya, dan karena itulah, sebagian besar penghuni Dark Castle memilih untuk tidak menatapnya sama sekali. Azazael menatapnya. Ia melihat wajahnya sendiri, wajahnya yang dulu, sebelum kejatuhan, dengan kulit yang tidak retak dan mata yang tidak hitam. Ia memalingkan wajahnya dengan cepat.

Di puncak tangga, di atas singgasananya yang terbuat dari batu hitam dan tulang, Abaddon membuka matanya. Seluruh aula seakan menahan napas. Api di mangkuk-mangkuk besi meredup. Ribuan prajurit itu, yang sejak tadi diam, entah bagaimana menjadi lebih diam lagi. Heksagram merah di dahi Yang Agung berdenyut perlahan, seperti jantung yang sedang tidur, dan ketiga tanduknya, dua yang melengkung dan satu yang lurus, melemparkan bayangan panjang yang merayap menuruni tiga belas anak tangga dan berhenti tepat di ujung sepatu Azazael.

Azazael berlutut. Ia menundukkan kepalanya sampai dahinya nyaris menyentuh lantai, dan ia mengangkat sangkar cahaya merah itu tinggi-tinggi dengan kedua tangannya.

“Yang Agung,” katanya. Suaranya bergema di seluruh aula, hangat dan penuh hormat. “Hambamu membawa persembahan.”

Abaddon tidak segera menjawab. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, perlahan, dan seluruh aula ikut condong bersamanya, seperti yang selalu terjadi. Matanya yang hitam seluruhnya, lebih hitam daripada kegelapan di antara bintang-bintang, turun menyusuri tiga belas anak tangga dan berhenti pada sangkar di tangan Azazael. Pada jiwa yang duduk memeluk lutut di dalamnya.

Dan jiwa itu, dengan wajah yang bercahaya samar dan tepi-tepi tubuh yang tembus pandang seperti kaca berembun, mengangkat kepalanya dan membalas tatapan itu.

Bisik-bisik menjalar di antara barisan prajurit, pelan seperti angin di antara ilalang. Azazael mendengarnya, dan ia merasakan sesuatu yang panas naik ke wajahnya. Ia tidak pernah melihat makhluk mana pun, manusia atau iblis atau malaikat yang jatuh, menatap Yang Agung secara langsung tanpa gemetar. Mark pernah melakukannya. Anak lelaki Mark pernah melakukannya, berdiri tegak di tengah aula ini dengan dagu terangkat. Dan sekarang anak perempuannya, yang bahkan tidak lagi memiliki tubuh, duduk di dalam sangkar dan menatap Abaddon seperti seorang anak menatap orang asing di halte bus.

Keluarga yang menyebalkan, pikir Azazael. Sungguh-sungguh keluarga yang menyebalkan.

“Matanya,” kata Abaddon. Suaranya tidak keras. Suara itu tidak perlu keras. Suara itu terdengar seperti tanah yang bergeser jauh di bawah kaki, dan setiap makhluk di aula itu merasakannya di dalam dada mereka. “Aku sudah pernah melihat mata seperti itu. Dua kali.”

“Mata keluarga Guardian, Yang Agung,” kata Azazael. “Darah yang sama. Berkat yang sama.” Ia mengangkat sangkar itu sedikit lebih tinggi. “Gadis ini adalah adik dari pengkhianat yang telah menodai nama Dark Castle. Para pemberontak menculiknya untuk membuka gerbang. Hambamu merebutnya kembali dari cakar Marchosias sendiri, dan menanggung luka ini sebagai buktinya.” Ia menyentuh tanduk kirinya yang retak dengan ujung jari, dan meringis, dan membiarkan seluruh aula melihat ringisan itu. “Jiwa yang diberkati, Yang Agung. Bersih. Tidak terikat kontrak apa pun. Sudah berabad-abad sejak terakhir kali jiwa seperti ini sampai ke tangan kita. Hambamu mempersembahkannya kepadamu, untuk disantap pada malam Bulan Merah, sebagai tanda kesetiaan yang tidak tergoyahkan.”

Lihat selengkapnya