Astral Guardian

Marion Drossi
Chapter #27

Danau Cermin

Tangga di dalam akar itu tidak pernah berakhir. Setidaknya, begitulah rasanya. Anak-anak tangganya dipahat langsung dari bahan akar itu sendiri, sesuatu yang bukan kayu dan bukan batu, keras dan halus dan sedikit hangat di bawah telapak sepatu baja Jeff, seperti kulit pohon yang masih hidup. Tangga itu berputar ke bawah dalam lingkaran-lingkaran yang lebar, mengikuti lekuk akar yang berliku, dan dinding-dindingnya diukir dengan bulu-bulu yang sama seperti di ruangan putih Orvel. Di sela-sela ukiran itu tumbuh lumut yang memancarkan cahaya putih pucat, cukup terang untuk melihat tiga atau empat anak tangga di depan, tidak lebih. Di luar lingkaran cahaya itu, hanya ada kegelapan, dan bunyi air yang beriak dari kedalaman yang semakin dekat.

Jeff tidak tahu sudah berapa lama ia berjalan. Waktu di dalam akar itu tidak berjalan seperti waktu di luar. Ia sudah lapar dua kali, dan sudah memakan dua potong roti terakhir dari toko Pak Hollis yang ia selipkan di saku mantel. Ia sudah tidur sekali, duduk bersandar pada dinding dengan kapak di pangkuan, dan bermimpi tentang dapur kecil di Gang Pelabuhan. Ia sudah menghitung anak tangga sampai seribu, lalu berhenti menghitung karena angka-angka itu hanya membuat kakinya terasa lebih berat.

Tinggal enam hari, pikirnya. Atau lima. Atau kurang. Ia tidak tahu lagi.

Gulungan peta dari Baal terselip di balik mantelnya, dan setiap kali ia berhenti untuk beristirahat, ia membukanya di bawah cahaya lumut dan menelusuri akar yang ia lalui dengan ujung jarinya. Ia sudah melewati garis mendatar yang pertama. Garis yang kedua sudah dekat. Di samping garis itu, dengan tulisan tangan Baal yang kecil dan sangat rapi, tertulis satu kata.

Leviathan.

Dan di bawahnya, lebih kecil lagi, seolah ditambahkan belakangan: Jangan menatap terlalu lama.

 

Tangga itu berakhir dengan tiba-tiba. Sesaat sebelumnya Jeff masih berputar menuruni lingkaran yang tak berujung, saat berikutnya dinding akar di sebelah kirinya terbuka, dan ia berdiri di ambang sebuah gua yang begitu luas hingga ia tidak bisa melihat langit-langitnya.

Di depannya terbentang sebuah danau. Air danau itu hitam dan diam, sediam kaca, tanpa riak sedikit pun, meskipun bunyi riak yang ia dengar selama berhari-hari jelas datang dari sini. Permukaannya membentang ke segala arah sampai lenyap di dalam kegelapan, dan di atasnya, membelah danau itu menjadi dua, ada sebuah jalan setapak dari batu-batu pipih yang tersusun berjarak-jarak, seperti batu-batu loncatan di sungai dangkal. Batu-batu itu menyala samar dengan cahaya putih yang sama seperti lumut di dinding tangga, dan barisan cahaya kecil itu memanjang lurus ke depan, menuju sebuah titik terang yang sangat jauh di seberang.

Jeff melangkah ke batu yang pertama. Batu itu kokoh di bawah kakinya. Ia melangkah ke batu yang kedua, lalu yang ketiga, dan pada batu yang keempat, ia membuat kesalahan. Ia menunduk.

Permukaan air di samping batu itu tidak memantulkan wajahnya. Permukaan air itu memantulkan sebuah ruangan. Ruang makan yang hangat dan terang, dengan taplak meja berkotak-kotak merah dan putih, dan di sekeliling meja itu duduk sebuah keluarga. Seorang ayah, seorang ibu, dua orang anak. Mereka sedang tertawa. Si ayah menceritakan sesuatu sambil melambai-lambaikan garpu, dan si ibu menutup mulutnya dengan serbet untuk menahan tawa, dan kedua anak itu, seorang anak lelaki dan seorang anak perempuan, saling melempar kacang polong di bawah meja.

Jeff mengenali ruang makan itu. Restoran Vellaine, di Bornwell. Ia pernah duduk di sana, di hari pertamanya sebagai orang kaya, dan ia pernah melihat keluarga itu di meja sebelah. Ia ingat bagaimana ia memandangi mereka diam-diam di antara potongan steik ketiga dan keempatnya. Ia ingat bagaimana rasanya, rasa yang pahit di pangkal lidah, yang tidak bisa dihapus oleh makanan seenak apa pun.

Ia mengalihkan pandangannya dan melangkah ke batu berikutnya. Air di sana memantulkan sesuatu yang lain. Sebuah gedung universitas dengan menara jam dan halaman berumput, dan di halaman itu, seorang pemuda dengan toga hitam berdiri di antara teman-temannya, mengangkat topi wisudanya tinggi-tinggi. Jeff mengenalinya juga. Namanya Daniel. Mereka duduk sebangku di sekolah dasar, dan Daniel selalu menyontek jawaban matematika dari buku Jeff. Lalu ayah Daniel mendapat pekerjaan di kantor pelabuhan, dan Daniel pindah ke sekolah yang lebih baik, dan Jeff tidak pernah mendengar kabarnya lagi, sampai suatu hari, ketika ia sedang mengangkat peti-peti ikan di dermaga pada usia dua puluh dua tahun, ia melihat foto Daniel di koran yang dipakai untuk membungkus ikan. Lulus dengan pujian. Hendak melanjutkan studi ke luar negeri.

Jeff membungkus ikan dengan koran itu dan tidak memikirkannya lagi. Atau begitulah yang selalu ia katakan pada dirinya sendiri.

Batu berikutnya. Air di sampingnya memantulkan sebuah rumah di Rosehill, rumah dengan pohon-pohon ek di halamannya, dan di jendela lantai dua, seorang anak lelaki seumuran Chris sedang membaca buku dengan kaki terangkat di atas meja. Tidak ada yang menyuruhnya bekerja. Tidak ada yang menghitung uang belanja di atas kertas bekas. Tidak ada yang pernah menyuruhnya berhenti sekolah supaya adiknya bisa tetap sekolah.

Batu berikutnya. Seorang lelaki seusia Jeff tertidur di sofa dengan televisi menyala, tanpa mimpi tentang iblis dan kontrak dan tali yang melingkar di jarinya. Batu berikutnya. Seorang lelaki seusia Jeff berjalan di pantai bersama kedua orang tuanya yang sudah beruban, yang masih hidup, yang tidak pernah pergi ke Rottenburg di malam hujan. Batu berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya.

Jeff berhenti berjalan. Ia tidak sadar kapan ia berhenti.

Kenapa bukan kau?

Suara itu datang dari air. Bukan dari satu tempat, tapi dari seluruh permukaan danau sekaligus, ribuan suara yang berbisik bersama-sama, lembut dan sabar dan sangat masuk akal.

Kenapa mereka mendapatkannya, dan bukan kau? Kau bekerja lebih keras daripada mereka. Kau berkorban lebih banyak daripada mereka. Kau berhenti sekolah. Kau menjual hari-harimu di dermaga. Kau menjual jiwamu sendiri. Dan apa yang kau dapatkan? Adik yang tertidur di rumah sakit. Orang tua yang hanya bisa kau temui sebagai bayangan di lembah kabut. Sebuah cincin. Kenapa bukan kau yang duduk di meja makan itu? Kenapa bukan kau yang mengangkat topi wisuda itu?

Lihat selengkapnya