Tangga akar itu tidak berakhir di sebuah gua, seperti di tingkat Leviathan. Tangga itu berakhir di depan sebuah pintu kayu bercat hijau yang sudah mengelupas di bagian bawahnya, dengan kenop kuningan yang kusam dan sebuah ladam kuda berkarat yang dipaku terbalik di atas kusennya, untuk keberuntungan, kata ayahnya dulu, meskipun keberuntungan tidak pernah benar-benar mampir ke rumah mereka. Jeff berdiri di anak tangga terakhir dan menatap pintu itu dengan napas tertahan. Ia tahu pintu ini. Ia sudah membukanya ribuan kali, dengan sepatu basah dan tas sekolah yang robek dan, belakangan, dengan tangan yang berbau ikan dari pelabuhan. Pintu rumah mereka di Gang Pelabuhan. Hanya saja, pintu yang ia kenal tidak berdiri sendirian di ujung tangga akar di dasar jurang, dikelilingi lumut putih yang bercahaya samar.
Bau itu merembes dari celah di bawahnya. Roti yang baru keluar dari oven. Udang yang ditumis dengan mentega dan bawang putih. Minyak angin, teh melati, sabun murah yang selalu dibeli ibunya karena wanginya seperti bunga lili, walaupun sama sekali tidak.
Ia membuka peta Baal dengan tangan yang tidak sepenuhnya mantap. Di bawah tulisan Asmodeus, ada satu baris lagi yang ditulis dengan tinta yang lebih tipis, seolah Baal ragu apakah perlu menuliskannya. Ia tidak memaksa. Ia hanya menawarkan. Yang tinggal, tinggal karena memilih.
Jeff melipat peta itu dan menyelipkannya ke balik mantel. Lalu ia mengulurkan tangan dan memutar kenop kuningan itu, karena tidak ada jalan lain, dan karena, ia akan mengakuinya kemudian, sebagian dari dirinya ingin sekali melihat apa yang ada di baliknya.
Dapur itu terang. Itu yang pertama kali ia perhatikan. Dapur rumah mereka di Gang Pelabuhan tidak pernah terang. Jendelanya kecil dan menghadap ke dinding gudang sebelah, dan lampunya hanya satu, bohlam kuning yang bergoyang-goyang di ujung kabel setiap kali ada truk lewat. Namun dapur ini terang oleh cahaya matahari sore yang masuk dari jendela yang lebih lebar, jendela yang menghadap ke laut, dan di ambang jendela itu, tiga pot tanaman kemangi tumbuh subur, dan di dinding di sebelahnya, jam kecil berbingkai kayu ek itu berdetak dengan riang.
Ibunya berdiri di depan kompor, mengenakan celemek bermotif bunga yang sekarang tergantung di dapur Bu Marta, rambutnya yang cokelat diikat asal-asalan di tengkuk, dan ia sedang menyenandungkan sesuatu sambil mengaduk wajan. Ketika pintu itu terbuka, ia menoleh, dan wajahnya, wajah yang terakhir kali Jeff lihat di dalam cermin Gideon Vale, basah oleh hujan dan air mata, kini cerah dan hangat dan sama sekali tidak terkejut.
“Kau terlambat,” katanya. “Cuci tanganmu. Ayahmu sudah menunggu dari tadi.”
Jeff tidak bisa bergerak. Di meja makan, ayahnya duduk dengan sebuah radio tua yang dibongkar di depannya, kabel-kabel dan sekrup-sekrup kecil berserakan di atas kain lap, dan obeng mungil terjepit di antara jari-jarinya. Ia tidak pudar. Ia tidak tembus pandang. Wajahnya berwarna dan rambutnya hitam dan jaket kerjanya cokelat, tidak kelabu, dan ketika ia mendongak dan melihat Jeff, ia mengacungkan obeng itu ke udara dengan jari kelingkingnya yang bengkok.
“Ke mana, Jeffrey?” katanya dengan wajah sangat serius.
Dan di seberang meja, mengerjakan pekerjaan rumah dengan pensil yang sudah tinggal setengah, rambutnya dikuncir dua dan kakinya berayun-ayun di bawah kursi, duduk seorang gadis berumur dua belas tahun yang menoleh kepadanya dan tersenyum dengan gigi depan yang belum rata.
“Kak Jeff,” kata Chris. “Bantu aku. Soal nomor tujuh susah sekali.”
Jeff berdiri di ambang pintu itu lama sekali. Ia tahu ini tidak nyata. Ia tahu itu sejak ia membuka pintu, sejak ia membaca baris terakhir di peta Baal, sejak bau roti itu pertama kali menyentuh hidungnya di tangga akar. Ia tahu ayahnya sudah pergi dalam cahaya keemasan di Lembah Kabut, dan ibunya sudah pergi lebih dulu, dan adiknya berumur tujuh belas tahun dan sedang terikat di dalam heksagram merah di kaki takhta Abaddon. Ia tahu semua itu.
Namun ia juga tahu bahwa ia tidak pernah mendengar ibunya berkata kau terlambat selama lima tahun. Dan ia sangat, sangat lelah. Maka ia melangkah masuk. Pintu hijau itu tertutup di belakangnya dengan bunyi klik yang pelan.
Ia mencuci tangannya, duduk di kursinya yang lama, kursi yang kakinya goyang dan selalu diganjal dengan lipatan kardus, dan entah sejak kapan ia sudah tidak mengenakan mantel hitam itu lagi. Ia mengenakan kaus abu-abu dan celana kerja yang lama. Kapaknya tidak ada di pinggangnya. Ia tidak ingat melepaskannya. Ia juga tidak ingat apakah ia peduli.
Ibunya meletakkan sepiring udang di depannya, udang mentega bawang putih yang selalu dimasaknya pada hari ulang tahun Jeff, dan menepuk kepalanya seperti menepuk kepala anak kecil, padahal tangannya harus terangkat tinggi untuk itu. Jeff makan. Rasanya persis seperti yang ia ingat. Tidak, lebih baik. Rasanya seperti yang ia ingat ditambah lima tahun kerinduan, dan setiap gigitan membuat sesuatu di dadanya mengendur sedikit lagi, seperti simpul yang dilepas satu per satu.
Ia membantu Chris mengerjakan soal nomor tujuh. Soal tentang dua kereta yang berangkat dari dua kota yang berbeda dan bertemu di suatu tempat di tengah, dan Chris mengerang dan mengeluh bahwa tidak ada orang waras yang akan naik kereta sambil menghitung kecepatannya. Ayahnya tertawa di balik radio. Ibunya ikut tertawa di depan kompor. Seekor kucing hitam yang gemuk melompat ke atas kursi kosong di ujung meja, meringkuk, dan mendengkur keras-keras.
“Si Hitam,” kata Chris sambil menggaruk telinga kucing itu. “Dia tidur di kakiku setiap malam. Kakak ingat?”