Astral Guardian

Marion Drossi
Chapter #29

Penjaga di Bangsal

Sementara itu, di Rumah Sakit Santa Agnes, Bu Marta sudah tiga malam tidak tidur nyenyak, dan ia mulai berbicara kepada tanaman, sebatang sirih gading di dalam pot plastik yang dibawakan Pak Hollis pada hari kedua, bersama sekantong roti kismis dan pesan dari istrinya bahwa seluruh pelanggan toko roti mendoakan Christine. Bu Marta meletakkannya di ambang jendela kamar nomor tiga belas, menyiramnya setiap pagi dengan sisa air minumnya, dan setiap malam, ketika lampu-lampu di lorong diredupkan dan suara roda troli perawat sudah lama menghilang, ia menceritakan kepadanya hal-hal yang tidak bisa ia ceritakan kepada siapa pun. Tentang suaminya, yang meninggal di laut tiga puluh tahun yang lalu. Tentang anak-anaknya, yang pindah ke kota-kota besar dan hanya menelepon pada hari Natal. Tentang Helena, yang dulu tinggal di seberang gangnya dan selalu meminjam gula tanpa pernah mengembalikannya, dan yang ia rindukan setiap hari, lebih daripada yang pernah ia akui.

Dan tentang perawat berambut pirang itu, yang matanya hitam seluruhnya, dan yang pagi harinya tidak ingat apa-apa.

“Aku sudah tua,” katanya kepada sirih gading itu pada malam ketiga. “Aku seharusnya merajut syal dan mengeluh soal harga ikan. Bukan begini.” Ia menepuk tas kainnya yang lusuh, tempat dua botol air yang tersisa bergeser dan berdenting. “Tapi Helena pasti akan melakukan hal yang sama untuk anak-anakku. Jadi, ya sudah.”

Sirih gading itu tidak menjawab. Di ranjangnya, Chris bernapas dengan teratur, wajahnya pucat dan tenang di bawah cahaya lampu tidur. Bu Marta merapikan selimutnya untuk kesekian kalinya, meskipun selimut itu sama sekali tidak berantakan, lalu duduk kembali di kursi plastiknya dan mengambil rajutannya.

Pintu kamar terbuka tanpa diketuk. Bu Marta menyambar tas kainnya dan sudah setengah berdiri dengan sebotol air di tangan ketika ia melihat bahwa yang masuk adalah Pendeta Abraham, dan di belakangnya, seorang lelaki tua lain yang belum pernah ia lihat. Lelaki itu kurus sekali, begitu kurus hingga setelan abu-abunya tampak seperti tergantung di gantungan baju, dan ia mengenakan kacamata tunggal berbingkai emas yang dikaitkan dengan rantai ke saku rompinya. Di bawah lengannya, ia mengapit sebuah buku besar bersampul kulit merah. Ia tampak lelah, seperti seseorang yang baru saja menempuh perjalanan panjang dengan bus malam, dan ia tampak takut, dan ia tampak, entah bagaimana, seperti seseorang yang sudah lama sekali tidak tahu harus berbuat apa dengan kedua tangannya.

“Marta,” kata Pendeta Abraham dengan suara pelan. “Ini Tuan Gideon Vale, dari Rottenburg. Ia... ia mengenal Mark.”

Bu Marta menatap lelaki kurus itu. Ia menatap buku besar di bawah lengannya. Ia tidak tahu apa-apa tentang pegadaian di kota pegunungan, atau tentang juru tagih, atau tentang buku-buku besar yang mencatat janji orang-orang yang putus asa. Namun ia sudah hidup enam puluh tujuh tahun di Gang Pelabuhan, dan ia mengenali wajah seorang rentenir ketika ia melihatnya.

Ia tidak menurunkan botol airnya.

“Kau,” katanya. “Kau yang membuat Mark berutang.”

Gideon Vale tidak membantah. Ia hanya menundukkan kepalanya, sedikit, seperti seseorang yang menerima tamparan yang sudah lama ia tunggu.

“Ya,” katanya. “Dan aku datang kemari karena malam ini, seseorang akan datang untuk menagihnya.”

 

Mereka duduk di tiga kursi plastik yang ditarik melingkar di samping ranjang Chris, seperti tiga orang tua yang sedang berjaga di samping cucu mereka, dan Gideon Vale membuka buku besarnya di atas pangkuannya.

Ia tidak menjelaskan semuanya. Ia tidak menceritakan tentang pasar yang tidak pernah tutup di tingkat ketiga jurang, atau tentang lemari-lemari kaca yang berisi sepatu bayi dan surat cinta yang belum dibuka. Ia hanya menunjuk sebuah baris di halaman yang terbuka, baris yang ditulis dengan tinta yang sudah memudar, dan membiarkan Pendeta Abraham membacanya keras-keras dengan suara yang semakin lama semakin pelan.

Mark. Grand Mare. Jaminan: satu cincin Guardian. Jaminan tambahan: segala yang diwariskan, termasuk berkat yang menyertai kedua anaknya. Juru tagih: G. Vale, Rottenburg. Status: belum.

Lalu jari Gideon yang panjang dan berbintik-bintik bergeser ke ujung baris itu, ke kata terakhir, dan Bu Marta melihat bahwa kata itu tidak lagi berbunyi belum. Tinta yang memudar itu sudah berubah. Kata itu kini ditulis dengan tinta merah yang masih basah, yang berkilau di bawah cahaya lampu tidur seperti luka yang baru.

Status: ditagih.

“Kemarin pagi tulisannya berubah,” kata Gideon Vale. “Sendiri. Seperti biasa. Majikanku tidak pernah mengirim surat. Ia hanya mengubah tulisan di buku ini, dan juru tagihnya diharapkan mengerti.” Ia menutup buku itu perlahan. “Utang yang tidak dibayar diwariskan. Begitu aturannya. Selama jiwa gadis ini berada di tubuhnya, berkatnya melindunginya, dan tidak ada yang bisa menyentuhnya. Namun sekarang jiwanya berada di tempat lain, dan tubuh ini...” Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia tidak perlu menyelesaikannya.

Lihat selengkapnya