Di bawah rumah Asmodeus, tangga akar itu bercabang. Jeff hampir tidak melihatnya. Ia mendaki dengan kepala tertunduk dan napas yang berat, setengah berlari, menghitung anak tangga di dalam hati supaya tidak memikirkan dapur yang terang dan jam yang berdetak terlalu tepat, dan ia baru berhenti ketika lumut putih di dinding akar itu tiba-tiba meredup di sebelah kirinya. Di sana, tangga itu terbelah dua. Cabang yang satu terus menurun, melingkar ke dalam kegelapan yang begitu pekat hingga cahaya lumut seolah takut untuk tumbuh di sana. Cabang yang lain mendaki, lurus dan curam, ke dalam sebatang akar yang jauh lebih besar daripada akar-akar yang sudah ia lewati, akar yang dindingnya berdenyut pelan seperti nadi di leher seseorang yang sedang tidur.
Ia membuka peta Baal di bawah cahaya lumut. Di cabang yang menurun, Baal tidak menulis apa pun selain sebuah lingkaran merah kecil, dan di bawahnya, dengan huruf-huruf yang ditekan begitu kuat hingga kertasnya nyaris sobek: Jangan. Di cabang yang mendaki, ada sebuah garis lurus yang berakhir di bawah gambar kecil sebuah kursi.
Akar tunggang, pikir Jeff. Ia meletakkan telapak tangannya di dinding akar yang berdenyut itu, dan dari dalamnya, sangat jauh dan sangat samar, ia merasakan getaran yang sama dengan yang membangunkannya dari rumah Asmodeus. Bukan doa lagi. Kali ini senandung. Rendah dan sumbang, dan turun di ujung, seperti orang yang menghela napas.
Ia mulai mendaki. Akar tunggang itu tidak memiliki anak tangga yang dipahat seperti tangga lainnya. Yang ada hanya tonjolan-tonjolan serat kayu yang tidak beraturan, licin dan hangat, dan di beberapa tempat, akar itu begitu curam hingga Jeff harus memanjat dengan kedua tangan dan kedua kaki seperti seorang anak kecil yang memanjat pohon ek di halaman rumah Rosehill. Ia memikirkan sayapnya. Ia bisa saja membentangkannya dan terbang ke atas dalam sekejap mata. Namun ia ingat kata-kata Sariel tentang nelayan dan tali pancing, dan ia ingat kucing hitam yang melesat keluar dari pintu hijau itu, dan ia tahu bahwa sekarang, di suatu tempat di atas sana, Azazael sudah tahu bahwa ia sedang datang. Ia tidak ingin memberi tahu iblis itu dari mana tepatnya.
Maka ia memanjat. Lama sekali. Telapak tangannya lecet dan lututnya memar dan napasnya menderu-deru di dalam akar yang sempit itu, dan setiap kali ia berhenti untuk beristirahat, ia menempelkan telinganya ke dinding kayu yang hangat dan mendengarkan senandung itu. Semakin tinggi ia memanjat, semakin jelas senandung itu terdengar.
Lalu akar itu berakhir di bawah sebuah lubang sempit yang tertutup lempengan batu, dan dari celah-celah di sekeliling lempengan itu, merembes cahaya obor yang berwarna kehijauan, dan bau yang ia kenal dari minggu-minggu pertamanya di Dark Castle. Bau batu yang lembap, bau karat, bau besi tua dan kesedihan yang sudah terlalu lama dikurung.
Ia menggeser lempengan batu itu sedikit demi sedikit, menahan napas setiap kali batu itu berderit, sampai celahnya cukup lebar untuk dilewati. Lalu ia memanjat keluar dan berlutut di atas lantai batu yang dingin, di tengah sebuah ruangan sempit dengan langit-langit rendah dan jeruji besi di salah satu sisinya.
Sebuah sel. Jeff tahu sel siapa ini bahkan sebelum ia melihat rantai-rantai itu. Rantai-rantai itu tergeletak di sudut, masing-masing setebal lengan orang dewasa, berkarat dan putus, dan ujung-ujungnya yang terpotong masih berkilau samar, licin dan rata seperti dipotong dengan sesuatu yang sangat panas dan sangat putih. Di dinding batu di atasnya, ada goresan-goresan yang panjang dan dalam, ribuan goresan, berderet-deret, seperti hitungan hari yang dibuat dengan cakar oleh seseorang yang sudah lama berhenti berharap. Dan di lantai di bawah goresan itu, terselip di celah antara dua batu, ada sesuatu yang kecil dan kering dan berwarna cokelat.
Jeff mengambilnya. Remah roti yang sudah membatu, sudah keras seperti kerikil, tapi masih berbentuk sudut sepotong roti tawar yang dulu dibungkus dengan kertas koran dan disimpan di saku mantel selama berhari-hari.
Ia memandanginya lama sekali di telapak tangannya. Lalu ia menyimpannya di saku dalam mantelnya, di samping koin emas Mammon, dan bangkit.
Pintu sel itu tidak terkunci. Engselnya sudah lama patah, dan pintu jeruji itu hanya disandarkan begitu saja pada kusennya, seolah tidak ada yang pernah peduli untuk memperbaikinya setelah tahanannya pergi. Jeff mengangkatnya perlahan dan menggesernya ke samping, lalu melangkah keluar ke sebuah lorong panjang yang diterangi obor-obor berapi hijau.
Dan di ujung lorong itu, berdiri seorang penjaga bermata kaca. Ia tinggi dan ramping, terbungkus zirah kelabu yang menutupi segalanya kecuali sepasang mata bulat yang besar dan jernih seperti air di dasar sumur. Tombaknya tegak di tangannya. Ia tidak bergerak, hanya berdiri di sana, di bawah cahaya obor yang berwarna kehijauan, dan menatap Jeff dengan mata yang tidak pernah berkedip.
Jeff membeku. Ia tahu apa yang akan terjadi. Ia sudah mengalaminya pada hari pertamanya di gerbang Dark Castle, ketika penjaga-penjaga ini membaca keinginannya untuk melarikan diri semudah membaca tulisan di papan. Ia sudah mengalaminya lagi di dapur rumah lamanya di Gang Pelabuhan, ketika sebuah mata kaca yang kecil menyapu genangan air seperti mercusuar dan ia harus memikirkan biskuit basi untuk melewatinya. Ia bisa mencoba itu lagi. Ia bisa memikirkan biskuit, atau api ungu, atau jam yang berhenti. Ia bisa mengosongkan pikirannya sekosong mungkin dan berharap itu cukup.
Namun ia sudah terlalu lelah untuk berpura-pura. Dan di suatu tempat di atas kepalanya, di balik langit-langit batu dan lantai aula singgasana, adiknya sedang bersenandung.