Astral Guardian

Marion Drossi
Chapter #31

Halaman yang Hilang

Para penjaga bermata kaca membawanya melalui jalan-jalan yang tidak pernah ia ketahui ada di Dark Castle. Lorong-lorong sempit di balik dinding, cukup lebar untuk satu orang, dengan langit-langit yang begitu rendah hingga Jeff harus terus menunduk. Tangga-tangga putar yang tersembunyi di dalam pilar. Jembatan-jembatan batu yang membentang di atas ruang-ruang kosong yang gelap, tempat angin dingin bertiup dari bawah dengan bunyi seperti napas raksasa yang sedang tidur. Di beberapa tempat, dinding batu hitam yang kasar itu menipis, dan di baliknya, Jeff bisa melihat batu putih yang berukir bulu, seperti tulang yang menyembul dari balik kulit. Benteng Fajar, pikirnya. Benteng itu masih ada di sini, di dalam kastel ini, dibungkus dan disembunyikan tapi tidak pernah benar-benar dihancurkan.

Penjaga yang berjalan di depannya, penjaga dengan goresan berbentuk bulu di mata kanannya, tidak berbicara sepanjang perjalanan. Namun sesekali, ketika mereka melewati salah satu dinding putih itu, ia berhenti sejenak dan meletakkan tangannya yang berbalut zirah kelabu di atas ukirannya, dengan gerakan yang sangat pelan, seperti seseorang yang menyentuh nisan.

Jeff tidak bertanya. Ada hal-hal yang tidak perlu ditanyakan. Mereka keluar dari balik sebuah rak buku yang bergeser ke samping tanpa suara, dan Jeff mendapati dirinya berdiri di lorong paling bawah perpustakaan, di antara rak-rak yang menjulang ke dalam kegelapan dan lilin-lilin melayang yang berkedip-kedip gugup. Bau kertas tua dan debu dan tinta menyambutnya seperti pelukan. Dan dari balik tumpukan buku setinggi pinggang, sesosok arwah kurus berjubah cokelat melompat berdiri dengan begitu cepat hingga kacamatanya terlempar dari hidungnya dan rantai perak di pergelangan kakinya berdenting keras.

“Kerapu,” kata Orvel. Lalu ia berhenti, menangkap kacamatanya di udara, mengenakannya kembali dengan tangan yang gemetar, dan menatap Jeff dari ujung rambut sampai ujung kaki. “Kau hidup.”

“Kurang lebih.”

“Kurang lebih, katanya.” Arwah tua itu melangkah maju, sejauh yang diizinkan rantainya, dan mencengkeram kedua lengan Jeff dengan jari-jarinya yang tembus pandang dan bernoda tinta. Cengkeraman itu terasa dingin dan ringan, seperti kabut. “Kau menghilang selama dua hari. Dua hari penuh! Seluruh kastel bilang kau sudah tenggelam di danau Leviathan. Baal melaporkan kepada dewan bahwa kau terlihat di Gang Pelabuhan, lalu di Gereja White Rose, lalu di sebuah toko roti, dan Tuan Azazael tersenyum begitu lebar hingga para pengawal di dekatnya mundur selangkah. Aku sudah bersiap-siap untuk menangis di atas Bestiarium jilid keempat.” Ia melepaskan lengan Jeff dan mendorong kacamatanya ke pangkal hidung dengan sikap yang sangat berwibawa. “Untung saja tidak jadi. Bestiarium jilid keempat sangat sulit dijilid ulang.”

Jeff tertawa. Rasanya aneh, tertawa di tempat seperti ini, pada saat seperti ini, dengan adiknya terikat di dalam lingkaran lilin hitam beberapa lantai di atas kepalanya. Namun tawa itu keluar begitu saja, dan Orvel ikut tertawa, tawa kering yang terdengar seperti halaman-halaman yang dibalik dengan cepat, dan para penjaga bermata kaca yang berdiri di belakang Jeff tidak bergerak sama sekali, tapi entah bagaimana, Jeff merasa mereka juga ingin tertawa.

 

Mereka masuk ke ruang putih di balik Kitab Ratapan. Kali ini para penjaga ikut masuk, ketujuhnya, dan mereka berdiri berjajar di sepanjang dinding berukir bulu itu dengan kepala sedikit tertunduk, seperti orang-orang yang kembali ke rumah masa kecil mereka dan tidak yakin apakah mereka masih diizinkan menginjakkan kaki di dalamnya. Cincin di jari Jeff menjadi sejuk dan tenang. Mata di batu hitamnya masih tertidur, terpejam di bawah kelopak cahaya yang ditinggalkan Sariel.

Orvel mengeluarkan halaman terakhir dari ceruk di balik ukiran bulu. Halaman itu terlipat dua kali dan diikat terpisah dari yang lain, dengan seutas benang merah yang sudah nyaris putus.

“Ini yang paling lama kusimpan,” katanya. “Ayahmu bilang halaman ini yang paling berbahaya. Bukan karena isinya bisa melukai, tapi karena bisa membuat seseorang berharap.” Ia mengulurkan halaman itu. “Bacalah sendiri. Matamu sudah tertutup. Kau tidak membutuhkan aku lagi untuk menerjemahkan.”

Jeff membuka lipatannya. Huruf-huruf aksara Codex yang berliku dan rapat itu bergerak di bawah tatapannya, seperti biasa, berputar dan bertukar tempat sampai menjadi kalimat-kalimat yang bisa ia baca. Namun kali ini ada yang berbeda. Kali ini ia merasakan cincin itu menerjemahkan dengan hati-hati, sangat pelan, seolah cincin itu sendiri tidak ingin terburu-buru membaca apa yang tertulis di sana.

Tentang berakhirnya kontrak.

Kontrak seorang Guardian berlangsung selama dua puluh tahun. Pada malam terakhir tahun kedua puluh, tali itu ditarik, dan jiwa yang terikat padanya dibawa ke hadapan takhta untuk menjadi bagian dari selubung Yang Agung.

Namun ketahuilah: jiwa-jiwa itu tidak dicerna. Jiwa yang diberkati tidak dapat dicerna oleh apa pun yang lahir dari jurang. Jiwa-jiwa itu hanya ditenun, lapis demi lapis, menjadi selimut yang melindungi Yang Agung dari cahaya yang masih tersisa di dinding-dinding rumahnya. Mereka tidak tidur. Mereka tidak mati. Mereka hanya menunggu.

Tali setiap Guardian ditenun dari benang yang sama. Maka siapa pun yang memutus talinya sendiri dengan kutuk, akan jatuh sendirian. Namun siapa pun yang melepaskan talinya dengan berkat, dengan rela, tanpa menuntut balas, akan mengembalikan benang itu kepada asalnya, dan setiap jiwa yang tertenun dengan benang yang sama akan terlepas bersamanya.

Syaratnya hanya satu. Yang melepaskan harus memanggil mereka dengan nama mereka yang sebenarnya, satu demi satu, sebab jiwa yang sudah terlalu lama ditenun telah lupa siapa dirinya. Nama-nama itu tertulis di tempat perjanjian pertama dibuat. Di atas segel yang tertua.

Jeff membaca halaman itu dua kali. Lalu ia membacanya sekali lagi, perlahan, menggerakkan bibirnya tanpa suara seperti ayahnya dulu ketika membaca sesuatu yang penting.

Lihat selengkapnya