Sumur itu tersembunyi di bawah lantai sebuah ruangan kosong di dasar menara barat, di balik lempengan batu putih yang begitu besar hingga tiga penjaga bermata kaca harus mengangkatnya bersama-sama. Di bawahnya tidak ada air. Tidak ada tangga. Hanya sebuah lubang bundar yang sempurna, selebar rentangan dua lengan, dengan dinding yang licin dan putih seperti bagian dalam kerang, dan dari kedalamannya yang tidak terukur, naik cahaya pucat yang samar, seperti cahaya fajar yang dilihat dari dasar laut.
Jeff berlutut di tepinya dan menatap ke bawah. Ia tidak bisa melihat dasarnya. Ia bahkan tidak bisa melihat di mana cahaya itu berasal. Lubang itu hanya terus turun, dan turun, dan turun, sampai dinding putihnya menyatu menjadi satu titik yang berkilau di kejauhan.
Jangan melawan, kata penjaga dengan goresan bulu di matanya. Sumur ini dibuat untuk mereka yang bersayap. Ia akan menurunkanmu dengan lembut kalau kau tidak melawan.
“Dan kalau aku melawan?”
Penjaga itu tidak menjawab. Jeff memutuskan bahwa ia tidak benar-benar ingin tahu.
Ia duduk di tepi sumur dengan kaki menggantung di atas kekosongan, mengencangkan ikatan kapak di pinggangnya, meraba saku dalam mantelnya untuk memastikan halaman itu masih ada, lalu mendorong tubuhnya ke depan.
Ia jatuh. Selama satu detik yang sangat panjang, ia benar-benar jatuh, dengan perut yang melonjak ke tenggorokan dan angin yang menderu di telinga, dan setiap bagian dari tubuhnya menjerit agar ia membentangkan sayap. Ia menahannya, lalu memejamkan mata dan memaksa dirinya untuk tidak melawan, dan tiba-tiba, cahaya pucat itu memeluknya dari segala arah, seperti air hangat, dan kejatuhannya melambat, dan melambat, sampai ia tidak lagi jatuh, melainkan melayang turun dengan perlahan seperti sehelai bulu yang dilepaskan dari jendela.
Ia membuka mata. Dinding-dinding putih di sekelilingnya bergerak naik dengan tenang. Di beberapa tempat, dinding itu berlubang, seperti jendela, dan melalui lubang-lubang itu, Jeff bisa melihat sekilas tingkat-tingkat jurang yang ia lewati. Sebuah danau hitam yang tidak beriak. Sebuah pintu hijau yang mengelupas, sendirian di ujung tangga akar. Lalu tempat-tempat yang belum pernah ia lihat dan tidak ingin ia lihat lagi. Sebuah lautan yang terbuat dari bisikan, tempat jutaan suara berbicara bersamaan tanpa ada yang mendengarkan. Sebuah padang abu kelabu yang tak berujung, tempat sosok-sosok kecil berjalan berputar-putar dengan kepala tertunduk, mencari sesuatu yang sudah lama mereka lupakan namanya. Ia memalingkan wajah dari jendela-jendela itu. Ia menatap lurus ke bawah, ke titik cahaya yang semakin lama semakin besar, dan ia menghitung napasnya.
Lalu dinding putih itu berakhir, dan kakinya menyentuh tanah.
Tempat itu tidak memiliki langit. Tidak memiliki dinding. Tidak memiliki apa pun selain dataran batu hitam yang licin dan datar, membentang ke segala arah sampai lenyap di dalam kegelapan, dan dinginnya bukan dingin yang biasa. Dinginnya seperti dingin yang ada sebelum ada api, sebelum ada matahari, sebelum ada apa pun yang pernah hangat. Napas Jeff mengepul putih di depan wajahnya. Ujung-ujung jarinya mati rasa dalam hitungan detik.
Di tengah dataran itu, beberapa ratus langkah dari tempatnya mendarat, ada sebuah lingkaran.
Lingkaran itu sangat besar. Lebih besar daripada pelataran Dark Castle, lebih besar daripada seluruh Gang Pelabuhan dan pasar ikan di ujungnya. Garis-garisnya terbuat dari cahaya merah yang diukir langsung ke dalam batu hitam, membentuk pola-pola yang rumit dan saling membelit, lingkaran di dalam lingkaran di dalam lingkaran, dan di tengahnya, sebuah bintang bersudut enam yang begitu besar hingga Jeff tidak bisa melihat semua ujungnya sekaligus. Heksagram. Heksagram pertama, pikirnya. Heksagram yang menjadi induk dari semua heksagram lainnya. Yang terukir di cincinnya, di dahi Abaddon, di lantai kamar mandi rumah sakit, di gembok koper yang menunggunya di kamar sempitnya di Gang Pelabuhan pada pagi ketika semuanya dimulai.
Dan garis-garis merah itu retak. Tidak di semua tempat. Hanya di beberapa titik, di sepanjang lingkaran yang paling dalam, ada celah-celah yang tipis seperti rambut, dan dari celah-celah itu, merembes cahaya yang lain. Cahaya keemasan yang pucat dan hangat, cahaya yang Jeff kenal dari pagi-pagi di dermaga, ketika matahari baru saja muncul dari balik laut dan segala sesuatu di Grand Mare tampak seolah dicelup ke dalam madu. Cahaya fajar. Cahaya itu merembes dari bawah segel, dari tempat yang tidak bisa ia lihat, dan setiap kali cahaya itu menyentuh udara, sekitarnya menjadi sedikit lebih hangat, sedikit lebih manis, sebelum dingin yang purba itu menelannya kembali.
Jeff berdiri di tepi lingkaran luar dan merasakan rambut di tengkuknya berdiri. Ia tahu siapa yang ada di bawah sana. Ia tidak perlu diberi tahu. Ia tahu dengan cara yang sama ia tahu bahwa api itu panas dan laut itu asin, dengan pengetahuan yang lebih tua daripada pikiran, dan ia tahu, sama pastinya, bahwa siapa pun yang ada di bawah sana sedang memperhatikannya.
Ia melihat ukiran-ukiran itu. Di sepanjang tepi lingkaran yang paling luar, tidak diukir dengan cahaya melainkan dipahat langsung ke dalam batu hitam, ada tulisan. Huruf-huruf aksara Codex, rapat dan berliku, berderet-deret mengelilingi seluruh lingkaran seperti tulisan di tepi sebuah koin raksasa. Cincin di jarinya berdenyut sekali, pelan, dan huruf-huruf itu mulai bergerak di bawah tatapannya.
Inilah perjanjian yang pertama, yang dibuat di atas segel yang tertua, oleh dia yang duduk di kursi yang bukan miliknya.
Jeff melangkah. Ia tidak memutuskan untuk melangkah. Kakinya bergerak sendiri mengikuti tulisan itu, menyusuri tepi lingkaran ke arah kiri, dan ia teringat peringatan Orvel dan tulisan Baal di petanya. Yang berhenti tidak pernah berjalan lagi. Maka ia tidak berhenti. Ia membaca sambil berjalan, dan tulisan itu terus mengalir di sepanjang batu, kalimat demi kalimat, tentang benang dan tali dan selubung, tentang cahaya yang harus ditutupi dan jiwa-jiwa yang harus ditenun, kalimat-kalimat yang dingin dan teliti dan tidak memiliki belas kasihan sama sekali, seperti daftar belanja yang ditulis oleh seseorang yang sudah lupa arti lapar.
Lalu tulisan itu berubah menjadi nama-nama. Nama yang pertama dipahat dengan huruf-huruf yang sudah nyaris aus, seolah sudah ribuan kali diinjak oleh kaki yang tidak terlihat. Jeff membungkuk sedikit tanpa memperlambat langkahnya, dan cincin itu menerjemahkannya dengan sangat pelan, huruf demi huruf.
Teodor Lark. Guru. Dari selatan. Mengajar anak-anak para nelayan membaca dengan menggunakan garam yang ditaburkan di atas meja.
Ia mengucapkannya keras-keras. Suaranya terdengar kecil dan tipis di tengah dataran yang tak berujung itu, tapi ia mengucapkannya. “Teodor Lark.”