Astral Guardian

Marion Drossi
Chapter #33

Bulan Merah

Ketika Jeff merangkak keluar dari lubang sempit di lantai sel itu, telapak tangannya berdarah, lututnya robek, dan seluruh tubuhnya gemetar seperti daun di musim gugur. Ia tidak tahu berapa lama ia memanjat. Barangkali setengah hari. Barangkali lebih. Di dalam akar tunggang itu, tidak ada siang atau malam, hanya serat kayu yang hangat dan licin, dan senandung yang semakin jelas, dan nama-nama yang ia ucapkan berulang-ulang di setiap tarikan napas supaya ia tidak berhenti. Teodor Lark. Matthias Brand. Liesel Amar. Sampai nama-nama itu terasa seperti doa.

Penjaga dengan goresan bulu di matanya sudah menunggu di depan pintu sel. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengulurkan tangannya yang berbalut zirah kelabu, dan Jeff meraihnya, dan penjaga itu menariknya berdiri dengan kekuatan yang mengejutkan.

Bulan sudah naik, kata penjaga itu. Cahayanya belum masuk ke aula. Masih ada waktu.

“Berapa lama?”

Sepanjang satu lagu.

Jeff tidak bertanya lagu yang mana. Ia sudah bisa mendengarnya. Di atas kepalanya, menembus batu dan lantai dan langit-langit lorong yang rendah, terdengar dentuman genderang yang berat dan lambat, satu, lalu jeda yang panjang, lalu satu lagi, seperti detak jantung raksasa yang sedang menunggu. Dan di antara dentuman-dentuman itu, sangat samar, nyaris tenggelam, senandung adiknya.

Mereka berlari menyusuri lorong-lorong bawah tanah, dan para penjaga bermata kaca lainnya muncul dari kegelapan satu per satu dan bergabung di belakang mereka tanpa suara, sampai ketujuhnya berlari bersama, zirah kelabu mereka berkilau di bawah cahaya obor hijau. Mereka berhenti di bawah kisi-kisi besi kecil di langit-langit lorong, kisi-kisi yang sama yang Jeff lihat dua malam yang lalu, dan dari balik jeruji-jerujinya, merembes cahaya yang berwarna-warni, hijau dan ungu dan merah, dan bau lilin yang terbakar, dan suara ribuan makhluk yang menahan napas.

Jeff memanjat ke atas sebuah peti batu yang sudah disiapkan para penjaga dan mengintip.

 

Aula singgasana Dark Castle penuh. Ia belum pernah melihatnya sepenuh ini, bahkan pada hari pertamanya, ketika ribuan prajurit berdiri dalam barisan yang rapi dan Abaddon menyuruhnya menunduk lebih dalam. Malam ini, barisan-barisan itu memenuhi setiap jengkal lantai, dari kaki tangga sampai ke pintu-pintu raksasa di ujung aula yang jauh, dan di antara pilar-pilar yang menjulang, makhluk-makhluk yang lebih kecil bergelantungan seperti kelelawar, mata-mata mereka yang merah berkilau dalam gelap. Obor-obor di sepanjang dinding menyala semua, dan apinya menari-nari tanpa angin.

Dari celah kisi-kisi itu, Jeff hanya bisa melihat sebagian kecil aula, tapi itu sudah cukup. Ia bisa melihat kaki tiga belas anak tangga hitam itu. Ia bisa melihat heksagram yang diukir di lantai, dan enam lilin hitam di keenam sudutnya, nyalanya tegak dan diam seperti jarum. Ia bisa melihat sepasang kaki telanjang yang bercahaya samar, ujung piama biru muda bergambar bulan sabit, dan sebuah tangan yang tembus pandang terkulai di atas batu, dengan jari-jari yang sedikit melengkung seperti sedang menggenggam sesuatu yang tidak terlihat.

Senandung itu datang dari sana. Serak, seperti yang dikatakan suara di dasar segala sesuatu. Namun tidak berhenti.

Aku di sini, pikir Jeff. Ia tidak berani bersenandung kali ini. Terlalu banyak telinga di aula itu. Aku di sini, Chris. Sedikit lagi.

Di dekat heksagram, berdiri sepasang kaki bersepatu hitam yang mengilap dan ujung jubah merah yang menyapu lantai. Jeff mengenali sepatu itu. Ia sudah melihatnya berdiri di ambang pintu kamarnya puluhan kali, bersandar santai dengan lengan terlipat. Di samping sepatu itu, ekor seekor kucing hitam bergoyang-goyang perlahan, ke kiri, ke kanan, seperti jarum jam yang tidak sabar.

Penjaga dengan goresan bulu itu memejamkan matanya yang besar dan jernih, dan tiba-tiba, Jeff melihat lebih banyak. Bukan dengan matanya sendiri. Penjaga itu berbagi penglihatannya, entah bagaimana, dan sekarang Jeff bisa melihat seluruh aula dari tempat penjaga-penjaga lain berdiri di sepanjang dinding, gambar-gambar yang bertumpuk dan bergeser seperti pantulan di pecahan-pecahan kaca.

Lihat selengkapnya