Untuk sesaat yang sangat panjang, tidak ada yang bergerak. Jeff melayang di atas heksagram dengan sayap putih yang terbentang lebar, begitu lebar hingga ujung-ujung bulunya nyaris menyentuh lilin-lilin hitam di keenam sudut lingkaran, dan cahaya yang memancar dari sayap itu bertarung dengan cahaya merah dari jendela tinggi, putih melawan merah, sampai udara di antara keduanya berpendar seperti fajar yang belum memutuskan warnanya. Di bawahnya, jiwa Chris melayang setinggi pinggang orang dewasa, dengan rambut cokelat yang tergerai dan piama biru muda yang berkibar pelan tanpa angin, dan matanya yang cokelat tua menatap kakaknya dengan cara yang sama seperti ia menatapnya di dapur rumah Gang Pelabuhan pada pagi ketika roti tinggal sepotong. Setengah tidak percaya. Setengah lega. Sepenuhnya marah karena kakaknya terlambat.
Tangan kanannya masih berada di dalam genggaman Azazael. Iblis itu tidak melepaskannya. Ia berdiri di tengah heksagram dengan jubah merahnya yang menyapu garis-garis cahaya, kakinya tertanam di tepi jendela yang berpusar di lantai, jendela yang menembus batu dan menembus jurang dan menembus segala sesuatu sampai ke terowongan-terowongan gelap di perut bukit Rottenburg. Wajahnya tidak lagi tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak pagi di persimpangan Jalan Lindell, Jeff melihat wajah Azazael tanpa senyum sama sekali, dan wajah itu ternyata jauh lebih tua daripada yang ia kira. Retakan di tanduk kirinya berdenyut putih.
“Turun,” kata Azazael pelan.
Cincin di jari Jeff mencengkeram, menarik seperti kail yang tertanam di dalam daging dan disentakkan oleh tangan yang tidak terlihat. Jeff tersentak ke bawah. Sayapnya mengepak keras menahan tubuhnya di udara, tapi tarikan itu tidak berhenti. Tarikan itu datang dari dalam dirinya, dari tempat di bawah tulang dada tempat ia dulu merasakan kehangatan setiap kali Azazael berbicara di dalam kepalanya, dan sekarang tempat itu terasa seperti sumur yang dalam dengan seutas tali yang menjulur keluar dari dasarnya.
“Kau lupa,” lanjut Azazael. “Kau bisa terbang ke mana pun kau mau, Anak Muda. Kau bisa membentangkan sayap ayahmu selebar langit. Tapi ujung tali yang lain ada di tanganku. Dan selama ada di tanganku, ke mana pun kau terbang, kau akan selalu terbang ke arahku.”
Tarikan itu semakin kuat. Jeff merosot sejengkal, sampai ujung sepatu bajanya nyaris menyentuh tepi heksagram. Di bawahnya, jendela ke Rottenburg berpusar seperti pusaran air, dan ia bisa mencium bau getah pinus dan hujan dan tanah basah yang naik dari dalamnya, bau yang sama dengan bau di tikungan Jalan Pinus, di depan pagar pembatas putih yang catnya masih baru.
Lalu sebuah suara yang lain berbicara, dan seluruh aula bergetar.
“Tali itu,” kata Abaddon, “milikku.”
Ia masih berdiri di anak tangga ketujuh. Ia tidak bisa melangkah ke dalam lingkaran itu, Azazael benar soal itu, dan Jeff bisa melihat bahwa ia sudah mencobanya. Ada bekas hangus di anak tangga keenam, di tempat salah satu kakinya yang besar tadi menginjak terlalu dekat dengan cahaya merah heksagram. Namun ia tidak membutuhkan kakinya. Tangannya yang hitam pekat terulur ke depan, jari-jarinya yang panjang mengembang, dan dari ujung-ujung jari itu, bayangan menjulur seperti asap tebal, merayap di udara, dan menemukan sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh siapa pun kecuali Jeff.
Tali itu. Tali yang terentang dari cincin di jarinya ke tangan Azazael, tali yang selama ini hanya bisa ia rasakan, kini tiba-tiba terlihat. Seutas benang merah yang tipis dan berkilau, setipis rambut, tegang seperti senar biola. Dan bayangan Abaddon membelit benang itu di tengah-tengahnya, dan menariknya ke arah yang lain.
Jeff menjerit. Rasanya seperti dibelah dua. Bukan tubuhnya, karena tubuhnya masih utuh, masih melayang di atas heksagram dengan sayap yang mengepak liar, tapi sesuatu di dalam tubuhnya, sesuatu yang lebih dalam daripada tulang dan lebih tua daripada napas. Azazael menarik dari satu arah. Abaddon menarik dari arah yang lain. Dan benang merah yang tipis itu, yang terikat di dasar jiwanya, meregang dan meregang di antara keduanya, sampai Jeff yakin benang itu akan putus, atau ia yang akan putus lebih dulu.
“Lepaskan, Merah,” geram Abaddon. Suaranya membuat lilin-lilin hitam di sudut heksagram berkedip. “Kau sudah mencuri dariku selama dua puluh lima tahun. Malam ini aku akan mengambil kembali semuanya. Talinya. Anak itu. Gadis itu. Dan kau.”
“Kau tidak bisa melangkah ke dalam lingkaran ini,” desis Azazael. Ia tidak lagi terdengar riang. Ia terdengar seperti seseorang yang sedang memegang tepi jurang dengan ujung-ujung jarinya. “Dan aku tidak akan melepaskannya. Tidak setelah dua puluh lima tahun.”
Mereka menarik bersamaan. Jeff merasakan dunianya berputar. Ia melihat aula singgasana dari atas dan dari bawah sekaligus, melihat ribuan prajurit yang bertarung di antara pilar-pilar, melihat para penjaga bermata kaca dengan tombak-tombak mereka yang terhunus, melihat Belphegor yang masih berbaring telentang di bangku batunya dengan mata terpejam, melihat bayangan Baal yang merayap di lantai seperti air pasang. Ia melihat semua itu, dan semua itu terasa sangat jauh, sangat kecil, seperti gambar di dasar sebuah sumur yang dalam.