Azazael menerjang. Ia tidak berlari. Ia tidak terbang. Ia hanya ada di satu tempat, lalu di tempat lain, dengan cakar-cakarnya yang panjang dan berpijar terayun ke arah wajah Jeff, dan Jeff baru sempat memutar tubuhnya setengah lingkaran, melindungi Chris dengan punggung dan sayapnya ketika cakar-cakar itu menghantam. Rasanya seperti dipukul dengan besi yang baru keluar dari tungku. Bulu-bulu putih beterbangan di udara, beberapa di antaranya hangus di ujungnya, dan Jeff terlempar ke samping, keluar dari heksagram yang padam, berguling di atas lantai batu, dan berhenti di kaki salah satu pilar dengan Chris masih terbungkus di dalam pelukannya.
“Kakak!”
“Aku tidak apa-apa.” Itu bohong, tapi Chris tidak perlu tahu. Punggungnya terasa seperti terbakar dari tengkuk sampai pinggang. Ia bangkit dengan satu lutut, melepaskan sayap-sayapnya dari sekeliling adiknya, dan menoleh ke arah penjaga dengan goresan bulu di matanya, yang sudah berlari menghampiri mereka dengan tombak terhunus. “Jaga dia. Tolong.”
Penjaga itu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya berlutut di samping Chris, mengangkat tombaknya, dan menghadapkan matanya yang besar dan jernih ke arah Azazael. Enam penjaga lainnya muncul dari tengah kekacauan dan membentuk lingkaran di sekeliling mereka, punggung menghadap ke dalam, tombak menghadap ke luar.
Jeff berdiri, lalu mencabut kapaknya dari pinggang. Kapak itu menyala sebelum jari-jarinya selesai mengatup di gagangnya. Mata kapaknya merah tua seperti bara yang paling panas di dasar tungku, merah yang sama dengan yang pertama kali muncul di Lembah Kabut ketika empat iblis murni mengepungnya. Namun gagangnya putih. Putih bersih dan dingin, menjalar dari genggamannya ke atas sampai ke pangkal mata kapak, dan di sepanjang gagang itu, naga-naga yang terukir di kayu gelapnya menggeliat dan membuka mata mereka. Merah dan putih. Kemarahan dan sesuatu yang lain. Jeff tidak tahu apa nama sesuatu yang lain itu. Ia hanya tahu bahwa keduanya ada di dalam dirinya, dan keduanya miliknya, dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa harus memilih salah satu.
Azazael tertawa. Tawa itu tidak lagi riang. Tawa itu kasar dan pecah.
“Ayahmu juga menyerangku dengan kapak itu,” katanya. “Kira-kira dua puluh tahun yang lalu, di menara yang sama. Kau tahu apa yang terjadi kepadanya? Ia menang. Ia memenangkan pertarungan itu, Anak Muda. Ia membuatku berlutut. Lalu ia berdiri di atasku dengan kapak yang menyala putih, dan ia tidak bisa melakukannya.” Iblis itu merentangkan tangannya, dan retakan-retakan di kulitnya bersinar lebih terang. “Ia terlalu baik. Ia selalu terlalu baik. Maka aku bangkit lagi, dan cincin yang dulu kuberikan kepadanya tetap melingkar di jarinya, dan sisanya kau sudah tahu.”
“Aku tahu,” kata Jeff, lalu ia terbang.
Mereka bertarung di udara, di bawah langit-langit aula singgasana yang menjulang, di antara pilar-pilar raksasa dan obor-obor yang apinya kini berwarna biru keputihan, di atas kepala ribuan prajurit yang masih bertempur atau sudah tertidur atau sudah ditelan bayangan Baal. Jeff tidak tahu bagaimana ia tahu caranya. Ia tidak pernah belajar bertarung, tidak dengan kapak, tidak di udara, tidak melawan sesuatu yang bergerak secepat pikiran. Namun sayap-sayapnya tahu. Sayap-sayapnya mengepak dan menukik dan berbelok dengan sendirinya, seolah sayap-sayap itu sudah pernah melakukan semua ini sebelumnya, di tubuh yang lain, di zaman yang lain, dan Jeff hanya perlu mengikuti.
Azazael menyerang dari atas. Jeff menangkis dengan gagang kapaknya, dan cahaya putih meledak di antara mereka, melemparkan iblis itu ke belakang. Azazael menyerang dari samping. Jeff berputar di udara, membiarkan cakar-cakar itu menyambar ruang kosong tempat ia berada sedetik sebelumnya, dan mengayunkan mata kapaknya yang merah dalam satu busur yang lebar. Mata kapak itu tidak mengenai tubuh Azazael. Mata kapak itu mengenai jubahnya, merobek kain merah itu dari bahu sampai pinggang, dan dari balik robekan itu, Jeff melihat sesuatu yang membuatnya nyaris berhenti mengepak. Kulit di dada Azazael tidak retak seperti kulit di wajahnya. Kulit itu berlubang. Ada sebuah lubang kecil yang bundar dan gelap tepat di tempat jantung seharusnya berada, seperti lubang yang ditinggalkan oleh sesuatu yang dicabut.
Kucing itu, pikir Jeff. Sepotong jiwanya.
Ia menoleh ke bawah. Di bawah, di dalam lingkaran tombak para penjaga bermata kaca, kucing hitam itu sedang berjalan menuju adiknya.
Ia tidak lagi sebesar kucing. Ia sudah sebesar macan kumbang, sebesar ketika ia menggigit kerah piama Chris dan membawanya lari dari Lembah Kabut, dan bulu-bulunya yang hitam mengilap kini berdiri tegak seperti duri-duri landak. Matanya yang merah menyala seperti dua bara. Ia tidak menyerang para penjaga. Ia tidak perlu. Ia hanya berjalan, perlahan dan tanpa suara, dan setiap kali ia melangkah, bayangannya memanjang di atas lantai batu dan merayap di bawah kaki para penjaga, dan para penjaga itu goyah, satu per satu, seperti lilin yang ditiup angin. Tombak-tombak mereka bergetar. Mata-mata mereka yang besar dan jernih berkabut.