Abaddon tidak melangkah, malah tidak perlu. Bayangannya turun lebih dulu, mengalir menuruni enam anak tangga yang tersisa seperti tinta yang tumpah, hitam dan tebal dan dingin, dan menelan Azazael dari kaki ke atas sebelum iblis itu sempat bangkit dari lututnya. Azazael tidak melawan. Barangkali ia sudah tidak punya tenaga untuk melawan. Barangkali, di detik-detik terakhir, ia akhirnya mengerti sesuatu yang sudah terlambat untuk dimengerti. Ia hanya menoleh, sekali, ke arah Jeff, dan mulutnya terbuka seolah hendak mengatakan sesuatu. Sebuah lelucon, barangkali. Atau sebuah permintaan maaf. Atau nama seseorang yang sudah lama ia lupakan. Jeff tidak akan pernah tahu. Bayangan itu menutupi wajahnya, lalu tanduk kanannya yang masih utuh, lalu ujung-ujung jarinya yang terulur, dan ketika bayangan itu surut kembali menaiki tangga seperti air pasang yang ditarik bulan, anak tangga di bawah anak tangga ketujuh sudah kosong.
Hanya tanduk kiri yang patah itu yang tersisa, tergeletak di dekat kaki singgasana, dengan tepi-tepi retakan yang masih berwarna putih.
Benang merah yang terentang dari cincin Jeff berkedut sekali, keras, seperti senar yang dipetik terlalu kuat. Lalu benang itu tidak lagi terentang ke arah tempat Azazael tadi berlutut. Benang itu kini terentang ke atas, ke anak tangga ketujuh, ke dada Abaddon, tempat wajah-wajah para Guardian beriak di bawah kulitnya yang hitam pekat seperti ikan-ikan yang terjebak di bawah lapisan es.
Tali itu milikku, kata Abaddon tadi. Sekarang, untuk pertama kalinya dalam dua puluh lima tahun, tali itu benar-benar miliknya.
Jeff merasakan perbedaannya seketika. Tarikan Azazael selalu terasa seperti kail, tajam dan licik dan penuh perhitungan, menyentak di saat-saat yang tidak terduga. Tarikan Abaddon tidak seperti itu, tapi seperti gravitasi. Seperti berat seluruh jurang yang tiba-tiba digantungkan di ujung benang setipis rambut. Lututnya tertekuk. Sayap-sayapnya terkulai. Ia jatuh berlutut di atas lantai batu, di tempat yang sama tempat Azazael berlutut sesaat sebelumnya, dan ia tidak bisa bangkit.
“Kakak!” Chris berlari keluar dari lingkaran para penjaga. Penjaga dengan goresan bulu di matanya mencoba menahannya, tapi jiwa tidak bisa digenggam oleh tangan yang berbalut zirah, dan Chris menembus jari-jari penjaga itu seperti angin menembus pagar.
Di atas mereka, Abaddon berbicara.
“Ia mencuri dariku.” Suaranya tidak keras, tapi rendah dan berat dan bergema dari setiap batu di aula itu, dari setiap pilar, dari lantai di bawah lutut Jeff dan langit-langit di atas kepalanya. “Selama dua puluh lima tahun, tangan kananku mencuri dariku. Ia memegang tali yang seharusnya kupegang. Ia memberi makan cincin itu dengan mata dan telinga yang seharusnya melapor kepadaku. Dan ia mengukir lingkaran itu di kaki takhtaku sendiri, di bawah hidungku, sementara aku duduk.” Heksagram merah di dahinya berdenyut, cepat dan terang. “Aku melihat semuanya, Anak Manusia. Melalui mata yang kau balikkan. Aku melihat semua yang ia lihat dan semua yang ia rencanakan, dan aku melihat sesuatu yang lain.”
Ia mengangkat kepalanya yang bertanduk tiga dan menatap ke atas, ke jendela tinggi, ke bulan yang berwarna seperti darah.
“Ia benar,” kata Abaddon. “Tentang satu hal, ia benar.”
Jeff mengikuti arah tatapannya, dan darahnya menjadi dingin. Jendela di lantai itu masih terbuka. Jendela yang dibuka Azazael dengan tangan Chris di dalam heksagram yang kini padam, jendela yang berpusar dan menembus batu dan jurang sampai ke terowongan-terowongan gelap di perut bukit Rottenburg. Jendela itu tidak menutup ketika lilin-lilin padam, tidak menutup ketika Azazael terseret keluar dari lingkaran. Jendela itu masih berpusar, perlahan, setengah terbuka, dan di dalam pusarannya, Jeff bisa melihat rel-rel tambang yang berkarat dan dinding-dinding batu yang lembap dan enam titik cahaya merah yang menyala di lantai terowongan, membentuk bintang bersudut enam yang sama.
“Kunci itu sudah diputar,” kata Abaddon. “Gerbang itu sudah setengah terbuka. Yang dibutuhkan sekarang hanya seseorang yang cukup besar untuk mendorongnya.”
Dan Yang Agung mulai menuruni tangga. Anak tangga keenam. Bekas hangus yang ditinggalkan kakinya tadi berasap ketika ia menginjaknya lagi, tapi ia tidak berhenti. Anak tangga kelima. Keempat. Setiap kali kakinya yang besar menapak, seluruh aula bergetar, dan debu berjatuhan dari langit-langit seperti salju kelabu, dan di bawah lapisan batu hitam di sepanjang dinding, batu putih yang berukir bulu semakin banyak terlihat, menyembul dari balik retakan-retakan yang melebar. Altar itu bernapas. Uap putih mengepul dari singgasana yang kosong, semakin tebal, semakin terang, seperti napas seseorang yang terbangun dari tidur yang sangat panjang. Para penjaga bermata kaca berhenti bertarung dan menoleh ke arah singgasana itu, ketujuhnya, dan Jeff melihat bahwa mata mereka yang besar dan jernih basah.
Namun Abaddon tidak menoleh ke belakang. Wajah-wajah di bawah kulitnya beriak semakin cepat, seperti ikan-ikan yang panik di bawah lapisan es yang mencair, dan Jeff mengerti. Selubung itu. Tiga belas jiwa yang ditenun lapis demi lapis untuk melindunginya dari cahaya. Tanpa selubung itu, Abaddon tidak akan pernah bisa meninggalkan takhtanya. Dengan selubung itu, ia bisa berjalan ke mana saja. Bahkan menembus cahaya. Bahkan menembus gerbang.