Terowongan itu berbau seperti masa lalu. Debu batu bara yang sudah lama dingin, kayu penyangga yang membusuk, air yang menetes dari langit-langit selama empat puluh tahun tanpa ada yang mendengarnya. Jeff berlutut di antara rel-rel yang berkarat dengan Chris di dalam lengkungan sayapnya, dan selama beberapa detik, ia hanya bernapas. Udara di sini dingin dan lembap dan berat, tapi udara ini adalah udara dunia manusia, dan paru-parunya mengenalinya seperti mengenali suara ibu.
Lalu ia merasakan tarikan di dadanya, dan ia ingat mengapa ia ada di sini. Benang merah dari cincinnya terentang ke depan, menembus kegelapan terowongan, mendaki. Di ujung lain benang itu, jauh di atas sana, langkah-langkah yang berat bergema di dalam batu, satu, lalu jeda, lalu satu lagi, seperti genderang di aula singgasana. Setiap kali langkah itu berdentum, kerikil-kerikil kecil berjatuhan dari langit-langit, dan enam titik merah di lantai terowongan di belakang mereka berdenyut lebih terang.
“Kak.” Suara Chris terdengar lebih tipis daripada di Dark Castle, seperti suara yang datang dari ruangan sebelah. Jeff menunduk, dan dadanya mencelos. Cahaya samar yang menyelimuti tubuh adiknya kini lebih pucat. Tepi-tepi tubuhnya lebih kabur. Ujung-ujung jarinya nyaris tidak terlihat sama sekali. “Kak, aku merasa aneh. Seperti... seperti aku sedang dipanggil dari jauh.”
Tubuhnya, pikir Jeff. Di kamar nomor tiga belas, empat jam perjalanan bus dari sini, di Rumah Sakit Santa Agnes, sebuah tubuh sedang menunggu jiwanya, dan di dunia manusia, tarikan itu jauh lebih kuat. Ia tidak tahu apakah itu hal yang baik atau buruk. Ia hanya tahu bahwa ia tidak punya waktu untuk mencari tahu.
Sebuah cahaya bergoyang-goyang di ujung terowongan. Kuning dan hangat, cahaya lentera minyak, dan di belakangnya, suara langkah kaki yang tergesa-gesa dan napas seorang lelaki tua yang terengah-engah.
“Di sini!” Suara itu serak dan tinggi. “Abraham, di sini! Aku sudah bilang, terowongan ayahku!”
Gideon Vale muncul dari balik tikungan dengan lentera di satu tangan dan buku besar bersampul merah terkapit di bawah lengan yang lain. Setelan abu-abunya kotor oleh lumpur sampai ke lutut, kacamata tunggalnya berayun-ayun di ujung rantai, dan wajahnya yang keriput tampak lebih pucat daripada biasanya di bawah cahaya lentera. Di belakangnya, Pendeta Abraham terseok-seok dengan jubah yang tersangkut di mana-mana, memegang salib kayu kecil di tangan kanannya seperti seseorang memegang obor.
Kedua lelaki tua itu berhenti begitu melihat Jeff. Mereka menatap sayap-sayap putihnya yang masih bercahaya, kapaknya yang tergeletak di samping lututnya, mantel hitamnya yang robek dan hangus. Lalu mereka menatap gadis bercahaya samar yang duduk di dalam lengkungan sayap itu, dan Pendeta Abraham menjatuhkan salibnya.
“Christine,” bisiknya.
“Halo, Pak Pendeta.” Chris tersenyum kecil. “Maaf, aku tidak datang ke kebaktian Minggu lalu.”
Pendeta Abraham tertawa, atau menangis, atau keduanya. Ia berlutut di atas rel yang berkarat tanpa mempedulikan lututnya yang tua, dan mengulurkan tangannya ke arah wajah Chris. Tangannya menembus pipi gadis itu. Ia menariknya kembali, menatap jari-jarinya sendiri, lalu menatap Jeff.
“Ia tidak bisa tinggal lama di sini,” kata Jeff. “Ia harus pulang ke tubuhnya.”
“Dan sesuatu yang lain sedang naik ke permukaan,” kata Gideon Vale. Ia tidak berlutut. Ia berdiri dengan lentera terangkat tinggi, menatap ke arah datangnya langkah-langkah berat itu, dan tangannya yang memegang lentera gemetar hebat hingga cahayanya bergoyang-goyang di dinding. “Kami melihat bulannya dari jalan. Kami melihat cahaya merah turun ke mulut tambang. Lalu semua anjing di Rottenburg mulai melolong, dan lonceng gereja berbunyi sendiri.” Ia menelan ludah. “Itu bukan Tuan Azazael, bukan?”
“Bukan.” Jeff memungut kapaknya dan bangkit. Benang merah di dadanya menegang, menariknya selangkah ke depan, dan ia menahannya dengan tumit. “Azazael sudah tidak ada.”
Gideon Vale memejamkan mata sejenak. Ia tidak bertanya apa yang terjadi. Barangkali ia tidak perlu bertanya.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “Yang Agung sendiri.”
Jeff tidak punya waktu untuk menjelaskan. Ia menceritakan semuanya dalam kalimat-kalimat yang pendek dan terpatah-patah, sambil berjalan, sambil menahan tarikan benang merah di dadanya dengan setiap langkah. Tentang gerbang yang setengah terbuka, tentang Abaddon yang meninggalkan takhtanya untuk pertama kali dalam tiga ratus tahun, tentang tubuh yang menunggu di kamar nomor tiga belas, dan jiwa yang semakin pudar di dunia manusia.
“Lubang Hitam,” kata Gideon Vale tiba-tiba. “Kau bisa membuka Lubang Hitam, bukan? Ayahmu bisa.”