Rumput di bawah tubuhnya basah dan dingin, dan baunya seperti tanah setelah hujan. Jeff mencengkeramnya dengan kedua tangan, mencabutinya, mencakar tanah di bawahnya, mencari pegangan apa pun, dan benang merah itu terus menariknya, sejengkal demi sejengkal, ke arah kaki Yang Agung. Kapaknya terlepas dari genggamannya dan tertinggal di belakang, cahayanya meredup. Sayap-sayapnya terseret di atas rumput seperti kain basah. Di atas kepalanya, bulan merah menatap ke bawah tanpa berkedip.
Ia memikirkan semua yang sudah ia coba. Kapak, sayap, lari, sembunyi, berbohong dengan wajah datar dan pikiran kosong. Semua itu berhasil, sampai titik tertentu. Semua itu membawanya sejauh ini. Dan semua itu tidak cukup untuk memutus seutas benang yang setipis rambut.
Siapa pun yang memutus talinya sendiri dengan kutuk, akan jatuh sendirian.
Ia tidak ingin memutusnya. Itu yang tiba-tiba ia sadari, di tengah rumput yang basah dan bau tanah dan dentang lonceng gereja yang tidak berhenti. Ia tidak ingin memutus tali itu dengan kapak, dengan kemarahan, dengan kebencian yang sudah ia simpan sejak pagi di persimpangan Jalan Lindell. Kalau ia memutusnya dengan cara itu, ia akan bebas, barangkali. Tapi ia akan bebas sendirian. Dan tiga belas wajah di bawah kulit Abaddon akan tetap di sana, menunggu, seperti yang sudah mereka lakukan selama ratusan tahun.
Namun siapa pun yang melepaskan talinya dengan berkat, dengan rela, tanpa menuntut balas...
Jeff berhenti mencakar tanah. Ia membiarkan benang itu menariknya, membiarkan tubuhnya terseret di atas rumput, sejengkal, lalu sejengkal lagi, dan ia menggunakan waktu itu untuk melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sejak kontrak itu dimulai. Ia menatap cincin di jarinya. Bukan dengan rasa takut. Bukan dengan rasa marah. Ia hanya menatapnya, seperti menatap sesuatu yang sudah lama menemaninya dan sekarang harus ia kembalikan.
Cincin perak dengan batu hitam. Cincin yang sama yang dulu melingkar di jari ayahnya. Cincin yang membawakannya koper berisi uang dan emas, rumah besar di Rosehill dengan pohon-pohon ek dan pemandangan laut, biaya sekolah Chris yang lunas sampai tahun depan, steik-steik tebal di Restoran Vellaine. Cincin yang memberinya mantel hitam dan kapak berukir naga dan kekuatan untuk mematahkan tanduk arwah-arwah yang tersesat. Cincin yang mengantarkannya kepada anak perempuan dengan kotak bekal merah muda, kepada seorang ibu dan anak lelakinya di persimpangan Jalan Corvin, kepada ayahnya sendiri di bawah pohon tua di Lembah Kabut.
Ia tidak menyesali semua itu. Itu yang mengejutkannya. Ia tidak menyesali satu pun.
“Aku tidak menginginkannya lagi,” katanya pelan. Suaranya hampir tidak terdengar di antara deru angin dan dentang lonceng dan bisikan kegelapan yang naik dari tanah. Namun benang merah itu bergetar, sekali, seperti senar yang disentuh. “Uangnya, rumahnya, mantel ini, kapak itu, semuanya. Aku kembalikan.”
Abaddon berhenti menarik.
“Aku tidak menuntut apa pun,” lanjut Jeff. Ia bangkit dengan satu lutut. Benang itu masih terentang di antara dadanya dan dada Yang Agung, tapi tidak lagi menariknya. Benang itu hanya terentang, tegang, bergetar. “Aku tidak meminta kau dihukum. Aku tidak meminta Azazael dikembalikan supaya aku bisa membalasnya. Aku tidak meminta lima tahun yang hilang, atau malam di tikungan Jalan Pinus, atau apa pun yang sudah kau ambil dari kami.” Ia menelan ludah. Rasanya seperti menelan batu. “Aku melepaskannya. Semuanya. Dan aku... aku memberkatinya.”
Ia tidak tahu apakah ia mengucapkan kata itu dengan benar. Ia tidak tahu apakah memberkati adalah sesuatu yang bisa dilakukan oleh seorang pemulung dari Gang Pelabuhan yang tidak pernah menyelesaikan sekolahnya, yang selalu tertidur di bangku paling belakang ketika Pendeta Abraham berkhotbah. Namun ia ingat doa ibunya. Ia ingat Chris yang berlutut di depan kucing hitam itu dan berterima kasih atas malam-malam yang dihabiskannya bersama. Ia ingat ayahnya yang membawakan roti keras kepada makhluk yang dirantai di bawah tanah.
Maka ia melakukannya dengan satu-satunya cara yang ia tahu.
“Semoga kau menemukan apa yang kau cari,” katanya kepada cincin itu, kepada benang itu, kepada makhluk raksasa yang berdiri di ujungnya. “Semoga kau tidak perlu bersembunyi di balik orang lain lagi.”
Cincin di jarinya menjadi hangat. Bukan panas yang membakar, bukan hangat palsu yang dulu menyertai suara Azazael.
Lalu ia mulai memanggil nama-nama itu.
“Teodor Lark.”
Suaranya bergetar. Ia mengucapkannya seperti mengucapkannya di dasar segala sesuatu, di tepi segel yang tertua, sambil berjalan tanpa berhenti di atas batu hitam yang dingin. Hanya saja kali ini ia tidak berbisik. Kali ini ia mengucapkannya keras-keras, ke arah dada Yang Agung, ke arah wajah-wajah yang beriak di bawah kulit yang hitam pekat.
Sesuatu bergerak di sana. Salah satu wajah itu, wajah seorang lelaki kurus dengan kacamata bundar dan rambut yang menipis, berhenti beriak. Wajah itu menoleh. Matanya yang selama ratusan tahun terpejam terbuka perlahan, dan menatap Jeff.
“Teodor Lark,” ulang Jeff, lebih keras. “Guru. Dari selatan. Kau mengajar anak-anak nelayan membaca dengan garam yang ditaburkan di atas meja.”