Ia terbangun karena bunyi air. Bunyi itu jernih dan riang, gemericik yang tidak pernah berhenti, seperti tawa anak kecil yang mendengar lelucon yang sama berulang-ulang. Jeff membuka matanya perlahan dan melihat langit yang berwarna seperti mutiara, pucat dan lembut dan bercahaya dari dalam, dan di bawah langit itu, pepohonan ramping dengan daun-daun perak yang berkilau setiap kali angin bertiup. Ia berbaring di atas rumput yang tebal dan basah oleh embun. Di sampingnya, sungai kecil itu mengalir dengan tenang, airnya jernih dan sungguh-sungguh bergerak.
Lembah Kabut. Hanya saja kabutnya tidak ada. Ia duduk dengan cepat, terlalu cepat, dan kepalanya berputar. Ia menunduk menatap tubuhnya sendiri. Ia mengenakan kaus abu-abu dan celana kerja yang lama, pakaian yang sama dengan yang ia kenakan pada pagi pertama di persimpangan Jalan Lindell. Tidak ada mantel hitam. Tidak ada pelindung lengan atau sepatu baja. Tidak ada kapak di pinggangnya. Di jari manis kirinya, hanya ada seutas bekas yang pucat. Dan ketika ia mengangkat tangannya ke arah cahaya, ia bisa melihat tepi-tepi jarinya sedikit tembus pandang, seperti kaca yang berembun.
Jiwaku, pikirnya, dan anehnya, pikiran itu tidak membuatnya takut. Hanya jiwaku. Tubuhku tertidur di suatu tempat.
“Di toko pegadaian si tua Vale,” kata sebuah suara di belakangnya, dalam dan rendah seperti lonceng besar yang dibunyikan di kejauhan. “Di atas sofa yang per-pernya sudah mencuat semua, dengan selimut rajutan milik mendiang istrinya. Pendeta itu berjaga di sampingmu. Ia tertidur dengan mulut terbuka. Aku diberi tahu ia mendengkur seperti babi hutan.”
Jeff berbalik. Marchosias berbaring di seberang sungai dengan kepala serigalanya bertumpu pada kaki depan yang bersilang, seperti pada hari pertama mereka berbicara. Sayap kirinya tidak lagi dibebat ranting-ranting pucat. Sayap itu terlipat rapi di punggungnya, masih sedikit miring di bagian ujungnya, seperti tulang yang sembuh tidak sempurna. Namun sayap itu utuh.
“Diberi tahu oleh siapa?”
Mata kuning keemasan itu beralih ke arah barat, ke arah pohon tua dengan bangku batu putih di antara akar-akarnya. Di bangku itu, duduk seorang lelaki berkemeja putih dengan lengan yang digulung sampai siku, sedang mengikat sebatang ranting patah dengan seutas tali rami, dengan simpul yang sangat rapi dan sangat sabar. Sepatu bot karetnya yang hijau tergeletak di atas rumput di sampingnya. Kakinya telanjang.
Sariel tidak menoleh. Namun Jeff merasakan sesuatu yang hangat di dadanya, seperti air yang dituangkan ke tanah yang kering.
“Ia bilang kau butuh tidur yang panjang,” kata Marchosias. “Dan bahwa jiwa yang sudah berjalan sejauh jiwamu berhak melihat akhir dari jalannya sendiri, sebelum kembali ke tubuhnya.” Makhluk raksasa itu bangkit perlahan, mengibaskan bulu-bulunya yang hitam, dan merentangkan kedua sayapnya lebar-lebar, menguji yang kiri dengan hati-hati. “Naiklah, Anak Mark. Ada sesuatu yang perlu kau lihat.”
Mereka terbang di atas Dunia Arwah, dan Dunia Arwah sedang berubah. Jeff melihatnya dari punggung Marchosias, dengan kedua tangan mencengkeram bulu-bulu hitam yang tebal dan angin yang menderu di telinganya. Padang-padang tandus yang kelabu masih kelabu, tapi di beberapa tempat, di sela-sela batu dan tanah yang retak, tumbuh sesuatu yang kecil dan hijau. Rumput. Tunas-tunas rumput yang rapuh dan pucat, menyembul dari tanah yang selama berabad-abad tidak pernah menumbuhkan apa pun. Batu Gigi masih berdiri di tempatnya, hitam dan runcing, tapi lingkaran batu-batu kecil di sekelilingnya kini bersinar samar, dan ukiran-ukiran bulu di permukaannya tampak lebih jelas daripada sebelumnya, seolah seseorang baru saja membersihkan debunya.
Langit di atas mereka tidak lagi berwarna seperti memar. Langit itu berwarna kelabu kebiruan, seperti langit di Grand Mare pada menit-menit terakhir sebelum fajar, ketika para nelayan sudah berangkat dan pelabuhan masih sunyi dan dunia terasa seperti sedang menahan napas.
Dan di cakrawala, Dark Castle runtuh.
Bukan runtuh seperti bangunan yang dihancurkan. Lebih seperti kulit yang mengelupas. Dinding-dinding batu hitam yang kasar dan tajam itu retak dan berguguran, sepotong demi sepotong, jatuh ke dalam jurang di sekeliling kastel tanpa suara, dan di baliknya, terungkap sesuatu yang putih. Menara-menara putih yang ramping. Dinding-dinding putih yang diukir dengan ribuan bulu. Kubah-kubah putih yang retak tapi masih berdiri. Benteng Fajar, yang selama tiga ratus tahun dibungkus dan disembunyikan dan dipaksa menjadi sesuatu yang lain, kini muncul kembali, perlahan, seperti tulang belulang seseorang yang sudah lama dikubur dan akhirnya digali dengan hati-hati.
Jeff tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya menatap, dan Marchosias menukik turun ke arah pelataran yang luas di depan gerbang, dan di bawah mereka, ribuan prajurit yang dulu berbaris dengan rapi di aula singgasana kini duduk atau berbaring di atas batu, sebagian tertidur, sebagian lagi hanya menatap langit dengan mata yang kebingungan, seperti anak-anak yang terbangun di tempat yang asing.
Para penjaga bermata kaca berdiri di depan gerbang yang terbuka, ketujuhnya, berjajar seperti pada hari pertama Jeff datang ke tempat ini. Namun mereka tidak lagi mengenakan zirah kelabu. Zirah itu tergeletak di atas batu di kaki mereka, berkeping-keping seperti kulit kerang yang ditinggalkan, dan yang berdiri di dalamnya adalah sosok-sosok tinggi dan ramping berjubah putih yang sudah pudar, dengan wajah. Wajah-wajah yang sungguh-sungguh. Hidung dan mulut dan dagu dan pipi, mata yang tidak lagi bulat dan besar seperti kaca melainkan mata biasa, mata yang bisa berkedip dan menyipit dan basah.
Penjaga yang berdiri paling depan memiliki bekas luka tipis berbentuk bulu di bawah mata kanannya. Ia melangkah maju ketika Jeff turun dari punggung Marchosias, dan ketika ia membuka mulutnya, suara yang keluar bukan suara yang bergema di dalam kepala. Suara itu keluar dari tenggorokannya sendiri, serak dan kaku seperti engsel yang sudah ratusan tahun tidak diminyaki.
“Namaku,” katanya, lalu berhenti, seolah terkejut mendengar suaranya sendiri. Ia mencoba lagi. “Namaku Ithiel. Aku penjaga gerbang timur Benteng Fajar.” Ia menundukkan kepalanya, dalam, sangat dalam, jauh lebih dalam daripada yang pernah diminta Abaddon dari siapa pun. “Selamat datang di rumah kami, Guardian.”