Bus pagi dari Rottenburg ke Grand Mare berangkat pukul tujuh, dan Jeff tertidur sebelum bus itu melewati tikungan Jalan Pinus. Ia tidak bermaksud tertidur. Ia ingin melihat pagar pembatas yang catnya masih putih itu sekali lagi, ingin melihat bunga-bunga liar kuning pucat yang dulu ia ikat dengan sehelai rumput dan letakkan di kakinya. Namun tubuhnya terasa seperti karung pasir yang basah, setiap otot dan setiap tulang menuntut haknya untuk beristirahat, dan begitu ia duduk di kursi dekat jendela dengan kepala bersandar pada kaca yang dingin, matanya menutup sendiri. Pendeta Abraham, yang duduk di sebelahnya dengan salib kayu kecil yang sudah dicabut kembali dari lereng bukit, menyelimutinya dengan jaketnya sendiri dan tidak membangunkannya sampai bus itu berhenti di terminal pelabuhan, empat jam kemudian, di bawah langit Grand Mare yang biru dan berbau garam.
Gideon Vale tidak ikut. Lelaki tua itu berdiri di depan tokonya ketika mereka berangkat, dengan jam saku perak yang kini berdetak di saku rompinya, dan menjabat tangan Jeff dengan kedua tangannya yang kurus dan berbintik-bintik.
“Ada banyak nama di buku itu,” katanya, mengangguk ke arah buku besar bersampul merah yang tergeletak di atas meja di balik jendela. “Banyak orang yang masih berpikir mereka berutang. Seseorang harus mendatangi mereka satu per satu dan memberi tahu bahwa juru tagihnya sudah berhenti bekerja.” Ia tersenyum, senyum yang canggung dan kaku, seperti senyum para penjaga di gerbang Benteng Fajar. “Barangkali itu akan memakan waktu sisa hidupku. Kurasa itu harga yang pantas.”
Rumah Sakit Santa Agnes berdiri di atas bukit yang menghadap ke pelabuhan, dan Jeff berlari menaiki tangganya dua anak tangga sekaligus.
Ia tidak menunggu lift. Ia tidak berhenti di meja jaga untuk melapor. Ia berlari menyusuri lorong lantai tiga dengan sepatu kerja yang berdecit-decit di atas lantai yang baru dipel, melewati perawat-perawat yang menoleh dengan kaget, sampai ia berdiri di depan pintu bernomor tiga belas, terengah-engah, dengan tangan di kenop pintu, dan tiba-tiba tidak berani memutarnya.
Pintu itu terbuka dari dalam. Bu Marta berdiri di ambang pintu dengan rajutan setengah jadi di satu tangan dan cangkir teh melati di tangan yang lain. Perempuan tua itu menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki, menatap jaket lusuhnya yang robek dan noda-noda lumpur di celananya dan wajahnya yang kurang tidur, lalu menamparnya di lengan, cukup keras untuk membuatnya meringis.
“Itu untuk membuatku menunggu,” katanya. Lalu ia minggir.
Chris duduk bersandar di atas ranjang, dengan tiga bantal di punggungnya dan selimut sampai pinggang. Wajahnya masih pucat, pipinya masih tirus, rambut cokelatnya yang sebahu masih kusut karena berminggu-minggu tergerai di atas bantal. Selang infus masih tertancap di punggung tangan kirinya. Namun matanya terbuka. Matanya cokelat tua dan hangat dan jernih, mata ayah mereka, dan ketika mata itu melihat Jeff di ambang pintu, seluruh wajahnya berubah.
Di tangan kanannya, ia menggenggam sebuah burung kayu kecil yang belum selesai diukir. Jeff tidak tahu bagaimana ia sampai di samping ranjang itu. Ia hanya tahu bahwa satu detik ia berdiri di ambang pintu, dan detik berikutnya ia sudah berlutut di lantai dengan wajah terbenam di bahu adiknya, dan kedua lengan Chris yang kurus melingkari lehernya, dan kali ini, tidak ada yang menembus apa pun. Kali ini tubuh adiknya hangat dan nyata dan bernapas, dan berbau sabun rumah sakit dan minyak angin Bu Marta, dan ia bisa merasakan jantung adiknya berdetak di dadanya sendiri.
“Kakak terlambat,” bisik Chris di telinganya.
“Lima menit,” kata Jeff. Suaranya hilang sama sekali di tengah kalimat. “Hanya lima menit.”
“Seperti jam Ibu.”
“Seperti jam Ibu.”
Di ambang pintu, Bu Marta menyeka matanya dengan ujung selendang dan berpura-pura sibuk dengan rajutannya. Di belakangnya, Pendeta Abraham berdiri dengan salib kayu kecilnya dan bibir yang bergerak-gerak tanpa suara. Dan di lorong, Dokter Hendricks berjalan melewati pintu itu sambil membaca papan catatan, berhenti, mundur dua langkah, menatap ke dalam, lalu menggelengkan kepalanya pelan-pelan dan melanjutkan perjalanannya dengan wajah seorang lelaki yang sudah memutuskan bahwa ada hal-hal tertentu di dunia ini yang lebih baik tidak dicatat di dalam laporan medis.
Uang itu hilang seminggu kemudian. Jeff mengetahuinya di depan mesin ATM di sudut pasar ikan, dengan Chris yang masih harus berjalan pelan-pelan berdiri di sampingnya dan menggandeng lengannya. Ia memasukkan kartunya, mengetik angka-angka tanggal ulang tahun ibu mereka, dan menatap layar yang berkedip-kedip. Saldo nol. Bukan berkurang, bukan diblokir. Nol, seolah rekening itu tidak pernah diisi sama sekali. Ia mencoba lagi. Hasilnya sama.