Blurb
Raka tinggal di Kamar Nomor 3 sebuah rumah kontrakan tua.
Ia bukan pemilik rumah.
Bukan kepala keluarga.
Bahkan bukan penghuni paling lama.
Namun ketika uang sewa mulai menunggak dan pemilik kontrakan mengancam mengusir semua orang, Raka terpaksa membantu mencari penghuni baru.
Yang datang ternyata bukan orang-orang biasa.
Ada debt collector yang harus menagih Raka.
Perempuan yang kabur dari suami.
Pekerja hiburan malam yang menyembunyikan pekerjaannya dari keluarga.
Pemuda yang tidak lagi diterima di rumahnya sendiri.
Mantan buruh pabrik yang kehilangan tabungan karena judi online.
Pengemudi ojol yang selalu bercanda meskipun cicilannya menumpuk.
Dan pensiunan guru yang hanya ingin mendengar suara orang lain di balik dinding kamarnya.
Mereka tinggal di bawah atap yang sama.
Bertengkar soal kamar mandi, listrik, makanan di kulkas, suara televisi, keyakinan, pilihan hidup, dan siapa yang terakhir memakai gas tanpa menggantinya.
Sampai suatu hari, debt collector yang tinggal di kontrakan itu menerima tugas baru:
menagih Raka.
Pertengkaran mereka direkam dan menjadi viral.
Sejak saat itu, semua rahasia mulai terbuka.
Orang-orang datang untuk membuat konten.
Tetangga datang untuk bergosip.
Masa lalu datang untuk menagih.
Dan pemilik kontrakan datang membawa surat pengosongan.
Di rumah yang tidak dimiliki siapa pun itu, orang-orang yang dianggap gagal oleh dunia perlahan belajar bahwa keluarga tidak selalu dibentuk oleh darah.
Kadang keluarga terbentuk dari orang-orang yang tetap menyisakan tempat di meja makan, meskipun hidup mereka sendiri hampir tidak menyisakan apa-apa.